Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Mood hancur


__ADS_3

Hari ini, pekerjaan Bima sangat banyak. Akhirnya mereka baru sampai rumah di jam sepuluh malam. Galuh terlelap selama di perjalanan, namun karena Dewangga menangis, dia pun terbangun.


"Sss sst, biar aku saja." Bima mencoba tak membangunkan Galuh yang tidur di kursi penumpang.


"Tidak, aku sudah bangun, kamu pasti lelah." Galuh berusaha untuk tak membebani suaminya yang sejak sore terlihat sangat sibuk sekali.


"Mana mungkin lelah kalau sudah menyangkut kalian berdua. Aku senang, biar aku saja. Anak kecil ini sudah mulai nakal, ayo kita bobok lagi di kamar." Galuh tak menghalangi Bima lagi untuk memanjakan sang putra.


Biar bagaimana pun, Bima memang harus memiliki waktu untuk sang putra yang masih kecil dan nakal itu.


Selama Bima mengajak main Dewangga, Galuh memanfaatkan waktu untuk memanjakan diri di kamar mandi. Mulai dari luluran, merendam kaki dengan air hangat dan garam hingga berendam air hangat untuk memulihkan kembali kesegarannya.


Di tengah menikmati air hangat, Galuh di kagetkan oleh kehadiran Bima yang ikut masuk. Tubuh gempal dan padat milik Bima, terlihat seperti orang yang rajin olah raga. Tubuhnya besar, lengan kokoh dan juga perut yang rata menunjukkan beberapa kotak samarnya.

__ADS_1


"Dewangga sama siapa?"


"Dia sudah tidur baru saja. Sekarang giliran kita yang menikmati.... Kamu mau apa?" Awalnya Bima juga ingin menikmati hangatnya air. Rupanya ada tangan kecil yang mencoba membangunkan singa tidur.


"Mau...." Galuh tak melanjutkan ucapannya, sebagai gantinya dia menatap Bima serasa ingin memangsa.


Bima tau maksud dan kemauan dan istri. Tak butuh waktu lebih lama lagi, Bima mencium Galuh seakan-akan tak ada hari esok untuk ia cium lagi. Galuh yang merasa apa yang ia sampaikan tercapai, dia pun tersenyum penuh kemenangan.


Satu jam sudah mereka berada di dalam kamar mandi. Beruntung Dewangga kelelahan karena seharian main. Sehingga dia tidak bangun atau rewel.


"Ada apa?"


"Cuma mau bermain dengan kamu saja. Bima, apa kamu merasa risih ada aku di sekitar kamu?"

__ADS_1


"Tidak." pertanyaan Galuh langsung di jawab Bima tegas.


"Tapi rasanya, apa tidak lebih baik aku di rumah saja untuk besok? Rasanya aku capek sekali, bosan diam tak ngapa-ngapain." Kata Galuh menyandarkan kepalanya pada dada Bima dalam posisi berdiri.


"Ya sudah, besok aku kerja dari rumah saja. Kamu bisa ganti suasana dan lebih santai tanpa tatapan tak nyaman." Bima masih santai menghadapi kegalauan istrinya.


Memang benar, jika bosan dan lelah karena tidak ngapa-ngapain. Kerja di rumah adalah pilihan satu-satunya yang bisa Bima tawarkan.


"Bukan itu yang aku mau. Tapi, aku butuh waktu sendiri...."


"Galuh, aku mendengar apa yang kamu dengar juga. Kalau kamu tidak suka dengan apa yang orang katakan, aku bisa menggantinya dengan orang baru." Bima berkata seakan nasib karyawannya tidak penting baginya.


Memang tidak penting, apalagi jika di bandingkan dengan Galuh. Semua bisa menjadi tidak penting dalam sekejap.

__ADS_1


"Jangan...."


"Tidurlah kalau lelah, jangan berpikir macam-macam. Di mana ada aku, kamu harus ada di sampingku." Bima yang awalnya merasa segar dan ingin lembur di rumah. Tapi, kegalauan sang istri membuat moodnya hancur.


__ADS_2