
Setelah beberapa hari tidak kuliah, Galuh akhirnya di izinkan untuk kembali ke kampus. Ketidak hadirannya, ternyata menarik perhatian beberapa orang. Bukan hanya yang menyukai dirinya, tapi juga orang-orang yang tidak suka.
Seperti Mutiara dan Rosaline.
"Denger-denger, kamu tidak masuk kuliah. Karena masuk rumah sakit, apa itu benar?" Mutiara.
Entah bagaimana dia bisa berada di kelas Galuh. Galuh heran, tapi bukan dia jika tidak bisa menimpali.
"Benar, aku kaget kalau kamu juga mendengar hal itu. Aku tidak menyangka, kalau diriku sepopuler itu." kata Galuh berbangga diri.
"Jangan terlalu banyak berpikir, aku cuma kasian aja sama Bima. Dia harus mengelola warung kopi, nganterin aku ke sana ke sini. Di tambah mengurus parasit seperti mu." bisik Mutiara sebelum dia melemparkan diri kebelakang.
"Mutiara..!!" Teriak sebagian teman yang ada di ruang kelas itu.
Di depan ada dosen tampan yang semakin hari semakin mempesona. Dan di belakang ada dua orang yang berselisih paham. Dosen yang terkenal killer itu pun mendekati mereka.
"Maaf pak, saya pikir Galuh tidak sengaja mendorong saya. Jangan memberikan hukuman yang memberatkan dia." secara aktif Mutiara seakan membela Galuh yang sudah mendorongnya.
__ADS_1
Dosen itu jelas tidak akan pernah percaya dengan apa yang di katakan Mutiara. Rumornya, dosen ini tidak akan pernah memberi ampun pada siapa pun yang mengacau kelasnya.
Galuh, sudah membuat perkara di kelasnya yang sedang berlangsung. Bisa di pastikan, gadis itu akan bernasib malang beberapa hari ke depan.
"Kamu masih sakit? Duduknya pindah di depan saja." Tidak bisa di percaya.
Fairus, dosen killer itu berlaku sangat manis pada seorang siswi. Pasti ada sesuatu di antara keduanya.
Jika yang lain tau apa alasan dosen killer ini berlaku manis pada Galuh. Tidak dengan Mutiara yang seorang mahasiswa pindahan.
"Sepertinya dia yang lagi sakit pak. Dia sakit jiwa." kata Galuh melempar tatapan sinis.
"Maaf, sepertinya kamu salah kelas. Silakan meninggalkan kelas saya. Saya akan di beri tau kalau ada anak didik baru." Fairus benar.
Mutiara memang bukan anak kelas ini. Tapi dia hanya datang mencari Galuh. Wanita yang secara ambisi, harus dia kalahkan di mana pun berada.
Mutiara yang merasa malu bercampur dengan emosi, meninggalkan kelas. Tidak bisa menerima kenyataan, dia ingin menjatuhkan Galuh hingga tak sanggup lagi berdiri.
__ADS_1
Bima, benar. Galuh sangat bucin pada lelaki tinggi besar dan garang di luar namun lembut di dalam.
"Bima, kenapa kamu lama tidak masuk? Ini aku berikan catatan untuk di pelajari." Mutiara berinisiatif memberikan catatannya.
Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan simpati Bima. Tapi lelaki itu menolak dengan tegas tanpa ekspresi.
"Gak usah, gue udah konsultasi langsung sama dosen pembimbing." katanya.
"Kok gitu?" merasa gagal, Mutiara pun tidak terima.
"Ada yang salah, jangan dekat-dekat deh. Gue takut Galuh akan salah paham." kata Bima membangun dinding tinggi setinggi-tingginya pada gadis yang membuat istrinya hampir meninggalkan dirinya.
"Galuh? Hahahaha... bahkan dia lagi bermesraan dengan dosen pembimbingnya. Apa yang kamu jaga? Hati busuknya?"
Tanpa mendengar kelanjutan ucapan Mutiara. Bima sudah mencengkram kedua pipi gadis di depannya dengan satu tangan.
"Jangan paksa iblis yang ada di dalam diri gue beraksi untuk menghadapi perempuan rendah sepertimu! Gue tau Fairus dan Galuh tidak akan berani mengkhianati gue dan sahabatnya yang tengah mengandung."
__ADS_1
"Tutup mulut Lo kalau tidak bisa berbicara yang baik. Sebelum gue membuat Lo gak bisa melihat matahari terbit esok pagi!" Bima melempar cengkraman itu dengan kasar sebelum meninggalkan tempat duduknya.
"Sial, apa bagusnya Galuh! aku pastikan kamu, Bima. Akan berakhir di ranjang ku tidak lama lagi!"