
"Bimaaaa yuhu.... Mama datang." suara yang begitu familiar di telinga Maya maupun Galuh, tapi buat Mia dan Prayan?
Mereka berdua jarang bertemu dengan besan, jadi kaget melihat sosok asli dari ibu mertua putrinya.
"Eh ada Maya, mana cucu-cucuku?" terdengar sangat akrab.
"Cucu?" tanya Mia penasaran.
"Eh mbak yu Mia, jangan salah sangka. Aku sudah menganggap nak Maya ini sebagai putriku sendiri. Bima banyak cerita tentang nak Maya ini. Kalian ini orang tua yang berhasil membesarkan putri-putrimu. Mereka berbudi luhur semua." Rosmia langsung menjelaskan, dia tidak ingin besannya salah sangka pada dirinya.
"Ah, tidak. Aku hanya kaget saja, tidak ku sangka kedua putriku memang saling mendukung satu sama lain." jawab Mia bangga pada kedua putrinya.
"Oh iya sampai lupa, ini anak dari teman papanya Bima. Kenal...."
"Sudah kenal, dia teman Bima di kampus." sela Bima datang dari dapur membawa dua minuman untuk mama dan temannya.
__ADS_1
"Sukur kalau gitu."
"Mama habis meninggikanku dan kakak, sekarang mau menjatuhkan ku kah?" Galuh berbicara sangat lantang, membuat kedua orang tuanya kaget.
"Nak, apa yang kamu katakan? Mama mertua kamu baru datang lo, jangan buat masalah." Mia memperingatkan putrinya dengan lemah lembut.
"Jangan khawatir." bisik Bima.
"Baiklah," Galuh menurut, tapi dia tidak sekali pun melepas tangan Bima dari dakapannya.
"Jadi, kamu sama Galuh sudah menikah?" tanya Mutiara.
"Kalau dengar cerita dari Tante, sepertinya Galuh sangat mencintai Bima. Tapi, kalau mendengar dari sepupu saya. Sepertinya Bima hanya pelarian saja, ups maaf aku keceplosan." Mutiara seakan merasa bersalah karena menceritakan fakta baru tentang Galuh.
Rosmia kaget, karena selama ini dia melihat Galuh. Terlihat sangat mencintai Bima. Terlihat dari cara Galuh manja dan tak ingin di tinggal, seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" tanya Rosmia dingin.
"Tante tidak tau? Dua tahun lalu, Galuh ini hampir menikah dengan calon suami sepupuku. Tapi cinta mereka berdua tidak terkalahkan, akhirnya menikah." sedikit cerita itu membuat semua tertunduk malu, namun Maya?
Dia tidak terpengaruh. "Katakan kalau itu Jovan, dan sepupu kamu itu Isabella. Isabella adalah wanita hina yang merebut tunangan adik saya. Dan apa sekarang? Setelah adik saya bahagia bersama orang yang dia cintai. Dia menebar fitnah? Sampaikan pada sepupu kamu, aku Maya yang tau cerita semua tentang Jovan dan Isabella. Kamu, aku tidak kenal dengan kamu. Bagaimana bisa kamu memfitnah adik saya?"
Maya emosi dengan apa yang dia dengar. Sebuah cerita karangan yang membuat adiknya tidak bermarwah.
"Aku tidak memfitnah, bahkan sepupu saya juga mengatakan. Kalau dalam pernikahan mereka, Galuh masih sering datang menemui Jovan. Aku heran, kenapa dia masih mencari Jovan padahal dia bersetatus istri Bima. Apa wanita seperti dia masih memiliki Marwah?"
"Cukup, aku menghargai kamu karena mama ku. Selama ini kamu menjatuhkan Galuh selama di kampus, aku berusaha untuk tidak salah paham. Tapi saat ini, ini rumah ku, ini tempat tinggalku. Aku harap kamu bisa meninggalkan rumah ini sebelum aku menyuruh penjaga untuk menyeret mu keluar dari sini." Bima sudah terbakar emosi.
"Tapi Bim, kamu jangan buta akan cinta semu dia. Dia gak pantas untuk kamu."
"Lantas, siapa yang pantas untuk aku? Kamu? Wanita bermulut busuk? Melihatmu saja aku sudah jijik. Aku akui, pernikahan ku dengan Galuh memang sering di ganggu oleh Jovan. Inget, Jovan yang mengganggu hubungan ku, bukan istriku yang mengganggunya. Sekarang, enyah kau dari hadapan ku!"
__ADS_1
Sisi ini sudah biasa di pertontonkan pada Galuh saat menghadapi Jovan. Tapi bagi yang lainnya, Bima sangat mengerikan. Orang yang terlihat lemah lembut dan penuh kasih, bisa menjadi kejam dan tak berperasaan.
Prayan melihat Galuh yang tersenyum dengan tetap bergelayutan di lengan Bima. Tampaknya, Galuh tidak takut sama sekali.