
Bima kembali ke kamar, dia membersihkan diri sebelum menemani istrinya jalan-jalan. Melihat keindahan pantai dan berbelanja tentunya.
"Mbak, tolong buatkan jus jeruk dong. Panas-panas enaknya yang dingin ya." Galuh membawa satu teko kecil di berikan pada pelayan Villa.
"Baik, Bu." Dengan senyum yang masih tersisa, pelayan itu seakan tak bisa melupakan betapa romantisnya dua pasangan muda ini.
"Memang pasangan muda, entar kalau sudah jalan setahun pernikahan juga nggak gitu lagi." Kata seorang pelayan yang tadi juga ikut menonton adegan mesra Galuh dan Bima.
"Is, mulutmu ini, minta di tampol memang. Doain tu yang baik-baik, bukan malah begitu. Jahat sekali kamu." Kata seorang yang membuatkan minuman untuk Galuh tak terima.
"Ya kan memang begitu siklusnya. Inget, kita melayani tamu muda dan tamu tua itu berulang kali. Dan semua seperti itu, jadi aku cuma mengingatkan, bukan menyumpahi." Jawab pelayan itu membela diri.
"Terserah anda saja nona maha benar."
Pelayan itu membuat minuman permintaan Galuh. Tak lupa memasukkan es batu ke dalam teko agar membuatnya lebih dingin. Rasa manis alami dari jeruk, tidak terlalu di sukai oleh Galuh. Itu membuat matanya sulit di buka, masam.
__ADS_1
"Mbak, boleh minta tolong di kasih gula saja? Tapi jangan kasih tau suamiku, ya." Bisik Galuh yang sedikit kencang.
Bima yang ada di belakang Galuh hanya bisa tersenyum. Memangnya kenapa kalau Bima tau? bukannya dia tidak masalah? Toh, gula juga bukan barang mewah yang tidak boleh di habiskan Galuh.
Bima memberi isyarat pada pelayan untuk menambahkan gula. Sedangkan Galuh yang melihat Bima di belakangnya, dia hanya bisa tersenyum terpaksa.
"Hehehe, boleh." tanya Galuh polos.
"Apa yang enggak buat kamu? Kamu boleh makan apa saja, asal di batasi. Kamu juga boleh melakukan apa saja yang kamu sukai selama itu tidak meninggalkan aku." Bima selalu memberikan apa yang Galuh inginkan.
Tapi yang di kasih tau itu Bima, orang yang sangat bucin pada Galuh. Apa dia mau mendengarkan kata orang? Tidak, bahkan Bima bisa lebih ekstrim lagi dalam mengekspresikan rasa cintanya pada Galuh.
Itulah cinta Bima, cinta buta yang tidak pernah melihat kebenaran lain selain kebenaran cinta Galuh.
"Bim, aku dengar akan ada reuni anak-anak kampus? kamu ikut?" tanya Galuh yang sedikit takut jika suaminya kumpul dengan teman-teman kampusnya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, kalau kamu ikut ya aku hadir. Tapi kalau kamu enggak ikut, aku skip saja." jawaban yang membuat Galuh senang. Inilah jawaban yang memang di inginkan oleh Galuh.
"Hmmmm, aku ikut. Katanya itu di adakan di bumi perkemahan, ya? Aku juga ingin ikut kemah. Penasaran." Kata Galuh menggebu.
"Ya, kemah di pinggir danau dan bisa di pastikan akan seru." Jawab Bima mengimbangi kesenangan Galuh.
"Hmmmm, kita beli tenda yang cuma untuk kita bertiga, sayang. Aku pingin membawa Dewangga bersama." Galuh sudah membayangkan betapa serunya mereka di saat kemah bersama dengan anaknya.
"Kalau membawa Dewangga, aku skip saja sayang. Di sana dingin sekali, kasihan dia. Biar sama mama saja, Dewangga ya." Bujuk Bima sedikit membuat Galuh sedih.
"Ya sudah deh, kalau begitu. Cepet daftar saja untuk berdua. Lagian kita semua sepertinya berbanyak kalau semua ikut."
Yang di katakan Galuh benar, yang ikut adalah satu angkatan berbagai jurusan. Bima sendiri satu jurusan sudah dua puluh tiga orang. Sedangkan di jurusan Galuh, ada lima belas orang. Pasti yang ikut lebih dari lima puluh orang.
Jadi, Bima harus segera mendaftar jika ingin kebagian tempat.
__ADS_1