Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Tak Sudi di madu


__ADS_3

Baru sampai di rumah orang tuanya, Galuh sudah di sambut oleh beragam macam makanan. Di sana juga ada Maya dan putra putrinya.


Rupanya, pada saat Galuh baru berangkat, Bima mengabari mertuanya akan kepulangan istrinya. Bima tau betapa rindu istrinya pada orang tuanya. Tapi, orang tuanya membutuhkan banyak istirahat.


Kalau misalnya datang bersama dengan Dewangga, pasti mereka tidak bisa istirahat dengan nyaman.


"Kakak kok udah duluan sih...." Galuh memeluk kakaknya setelah mencium pipi kiri dan kanan kedua orang tuanya.


"Rumah kakak lebih Deket, pas Bima ngasih tau tadi kakak sudah mau pulang dari nganterin Arief. Jadi langsung mampir." Jelas kakaknya membuat Galuh sedikit kaget.


"Ah... Bima itu minta di jorokin ke kolam deh kak. Sekarang ngomong apa, lima menit kedepan dia ngomong apa. Enggak ada yang di tepati omongannya." adu Galuh akan janji yang tak di tepati Bima.


"Hahaha mungkin dia sibuk kerja. Sayang, kamu itu sudah menikah dan punya anak. Jadi harus sedikit mengalah dengan suami yang punya tanggung jawab semua tentang kalian di pundaknya." Maya menasehati adiknya yang terkesan masih kekanak-kanakan.


"Itu juga karena adik iparmu memanjakan dia. Coba dia jadi sama Jovan, makan hati setiap hari, dia. Tapi yang dia dapet, kedewasaan." Prayan berkomentar.

__ADS_1


"Kenapa sebut nama itu lagi sih? Muak sekali aku." Galuh tak lagi ingin mendengarkan orang tuanya yang mulai membandingkan dia yang dulu dengan yang sekarang.


Galuh naik ke lantai dua, dia masuk ke kamarnya dan ingin mengenang masa-masa dia masih remaja.


Pada saat dia membuka kamarnya, pandangan pertamanya jatuh pada baju kebaya yang tergantung di lemari kaca miliknya.


Baju itu terawat dengan baik, baju yang menjadi saksi bisu pernikahannya bersama Bima. Galuh mendekati baju itu, mengambil dan menatap dalam-dalam baju kebaya putih nan elegan itu.


Kalau di lihat-lihat lagi, logo yang ada di dalam bagian belang membuat Galuh terkejut. Kebaya itu bukan kebaya murah dengan bahan yang sekedar nyaman di pakai.


Galuh memeluk kebaya itu dengan hati yang tak tau harus senang atau sedih. Senang karena sudah mendapatkan apa yang tidak mungkin ia dapatkan dari mantannya dulu, Jovan. Atau sedih karena dia tidak mampu melihat ini sejak dulu dari Bima.


Galuh duduk termenung di atas tempat tidur dengan tetap memeluk kebaya sepanjang dua meter itu.


Pikiran Galuh kosong, dia bahkan tak tau pikiran apa yang terlintas di kepalanya. Sampai akhirnya sebuah pintu di dobrak oleh Bima.

__ADS_1


"Galuh, kalau ada orang yang mengatakan apa-apa tentang aku. Aku mohon kamu jangan percaya." Bima terlihat sangat panik, omongan apa yang sebenarnya di takuti Bima?


"Aku percaya dengan kamu, Bim. Tapi kalau kamu jujur." Jawab Galuh penasaran.


Penasaran Galuh sangat cepat terjawab dengan kehadiran sosok gadis cantik dan mungil di depannya. Galuh tidak pernah mengenal gadis ini, dia begitu cantik dan rupawan.


Kulit putih dan kenyal, bodi langsing dan terlihat lebih singset. Melihat dada yang pas dengan porsi tubuhnya, membuat Galuh memandang dirinya.


Lihatlah dirinya sekarang. Bajunya berwarna krem muda dengan bunga warna kuning. Sangat kontras dengan kulitnya yang terlihat lebih hitam. Dadanya yang sudah mengendur akibat menyusui. Bahkan perutnya juga terlihat mengembung. Benar-benar tak sedap di pandang.


"Kak Bima, dari pertemuan kita di mini market itu. Aku tidak pernah melupakanmu. Di tampah dengan mengertianmu dan perhatianmu belakangan ini. Jujur saja, melepas keperawanan ku untukmu, jelas aku tidak akan pernah merasa rugi. Tapi, tidakkah kamu sangat tega padaku?"


"Kak Bima, anak ini ingin di lahirkan. Ingin melihat indahnya dunia dan yang paling penting.... Anak ini ingin melihat wajah tampan ayahnya."


Galuh baru ingat. Gadis cantik ini adalah mbak-mbak kasir yang di mini market kemarin. Astaga, mereka bahkan sudah melakukan....

__ADS_1


Dada Galuh terasa begitu sesak, seperti ada sebuah gunung yang menimpanya saat ini. Astaga, Galuh tak bisa berkata-kata lagi untuk saat ini. jika benar, Bima memiliki anak bersama dengan gadis itu. Galuh lebih memilih untuk Cerai.


__ADS_2