Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kondisi Utari


__ADS_3

Pencarian terus berlanjut, walau malam sudah hadir membawa kegelapan. Mereka tidak putus asa mencari Utari.


"Ma, aku dan kak Narendra mau nyari di sekolahan. Jangan khawatirkan kami, kalian pulang saja." Itulah kata Dewangga saat ponselnya terus berbunyi atas nama mamanya.


"Ini Papa, kami sudah ada di sekolahan. Tapi ada kendala tidak bisa masuk...."


"Baiklah, aku mengerti." Dewangga seperti sudah mengetahui di mana pokok masalah yang di hadapi orang tuanya.


Narendra langsung mengegas mobilnya dengan kecepatan tertinggi yang dia bisa. Dengan begitu, mereka berdua sampai di sekolahan tidak kurang dari sepuluh menit.


Dewangga turun terlebih dulu, dia mengeluarkan sebuah kunci dari tasnya. Entah dari mana dia memiliki kunci itu, Dewangga hanya membuka sambil menelepon.


"Kamu telepon siapa?" tanya Bima yang semakin curiga pada putranya.


"Papa, aku ketua OSIS periode ini. memiliki kunci sekolahan adalah hal wajar. jangan curiga, di dalam ada penjaga yang tengah patroli. Jadi tidak mendengar suara mobil." tegas, itulah karakter dari Dewangga.


Bima melangkah maju tepat setelah Dewangga melangkah masuk. Dari arah yang berlawanan ada seseorang berlari kencang.


"Ada apa pak?" tanya Bima.


"Ada hantu merintih di gudang belakang." jawaban dari pak satpam membuat semua merinding. Namun tidak dengan Dewangga.


Dewangga langsung berlari ke arah gudang yang di maksud. Galuh mengikuti putranya walau dia takut. Dewangga masuk ke gudang yang tertutup rapat.

__ADS_1


"Utari? Kakak Dewa di sini...." Dewangga berusaha melebarkan penglihatannya untuk mencari Utari ke segala arah.


"Kak, Utari id sini... huhuhu...." sesuai dugaan, rintihan itu bukan milik hantu, tapi Utari yang menangis.


"Ut... Tari?" dalam keadaan gelap gulita, Dewangga tidak bisa melihat seperti apa keadaan Utari saat ini. Tapi, setelah menyentuh lengan atas milik gadis itu. Dewangga langsung paham.


"Baju....?"


"Huhuhu.... mereka membuangnya...."


Sebelum mampu menerima informasi dengan benar. Suara ribut ingin masuk ke gudang.


"Jangan masuk!" Teriak Dewangga yang tidak mau Utari lebih malu lagi.


"Kak, kaki Utari sakit." Kaki Utari tidak sakit sama sekali. Tapi, dia tidak bisa berdiri karena rasa sakit yang di sebabkan tadi.


"Kakak akan menggendong mu. Di rumah, beritahu kakak, apa yang terjadi!"


Utari hanya diam, dia tidak berani menjawab.


Dewangga menggendong Utari keluar dari tempat gelap itu. Galuh yang melihat baju berserakan dan juga tas di bawah jendela itu meyakini jika semuanya milik Utari.


"Siapa pelakunya?" tanya Bima pada Dewangga yang saat itu matanya terlihat sudah memerah menahan tangis.

__ADS_1


"Dewangga, biar aku....!"


"Bawa mobilnya dengan benar saja!" hanya itu yang di katakan oleh Dewangga.


Hati Dewangga sangat gusar saat ini. Utari memang bukan adik kandungnya. Tapi hanya Utari satu-satunya adiknya.


Galuh tau perasaan Dewangga saat ini. Fairus dan Narendra sama hancurnya melihat satu-satunya bidadari pengganti ibunya di temukan dalam keadaan seperti ini.


Selama perjalanan, Dewangga sama sekali tidak menurunkan Utari. Sudah seperti adiknya sendiri, Dewangga bahkan bersumpah pada dirinya sendiri untuk menghancurkan siapa pun yang sudah membuat Utari seperti ini.


"Dewangga, aku saja yang membawa Utari masuk....."


Bukannya memberi pada Narendra, Dewangga malah membawa Utari pulang ke rumahnya sendiri.


"Dewa...."


"Dewa...."


Dewangga tak mendengar teriakan beberapa orang tua dan Narendra. Dia langsung saja membawa Utari pulang ke rumahnya. Menidurkan di kamar princess yang memang di siapkan oleh Bima dan Galuh untuk Utari.


"Ma, gantikan bajunya. Lap badannya, aku akan membawanya visum. Orang itu harus mendapat balasannya!" Bima segera memanggil dokter keluarga setelah mendengar apa yang di katakan putranya.


ini harus di lakukan.

__ADS_1


"Bagaimana jika Utari tidak ada yang menikahinya karena masalah ini?"


__ADS_2