
Jam sepuluh malam, Dewangga baru keluar dari kantor. Dan Utari setia menemani Dewangga bekerja hingga pulang.
"Suamiku kalo lagi kerja, keren juga." Utari komentar saat sudah berada di dalam mobil.
"Istriku juga gemesin kalau lagi manja. Sini deketan." Emang dasar Dewangga.
Di dalam mobil pun maunya deket-deketan aja. Utari yang memang selalu menyukai aroma parfum Dewangga pun, tak keberatan terus menempel.
Selama perjalanan ternyata Utari ketiduran. Dewangga tidak membangunkan, karena memang sudah sangat malam sekali dia pulang tadi. Untuk ukuran anak sekolahan, jam segini seharusnya mereka sudah beristirahat.
"Bangun, sayang." Bisik Dewangga membangunkan Utari yang tidur mendengkur halus.
"Gendong." rengek Utari karena sangat malas sekali dia berjalan sendiri.
"Hmm? Manja." Walau menggerutu, Dewangga masih tetap menggendong adik kecilnya seperti biasa.
Bedanya, jika Utari masih menjadi adiknya dulu. Dewangga akan menjaga agar tidak terlalu menyentuh. Tapi sekarang? Dewangga malah seperti mendapat kesempatan bagus untuk menyentuh Utari lebih leluasa.
__ADS_1
"Kalian semakin bebas ya!" Bima, melihat kedua anak muda yang berstatus siswa. Jam setengah sebelas baru pulang ke rumah.
"Papa, Dewangga kan kerja." jawab Dewangga sambil menurunkan Utari dari gendongannya.
"Kerja? Papa juga kerja di kantor yang sama dengan kamu. Tapi papa pulang sore, kamu kenapa malam sekali?" Bima semakin emosi mendengar alasan putranya pulang hampir tengah malam.
"Pa, aku kerja dari jam dua, kalau kerja lapan jam...."
"Kamu pulang jam tujuh pun, papa akan bayar penuh gaji kamu. Papa memang menyuruhmu kerja, tapi kalian tidak lupa belajar!" Bima tidak terima dengan apa yang menjadi alasan Dewangga.
"Iya Pa. Maaf." Dewangga tidak berani melawan papanya.
Selama bersama dengan Bima sejak dulu. Kemarahan hari ini adalah kemarahan Bima yang paling menakutkan.
"Papa, jangan marah. Kalau papa marah, Utari takut." Utari menundukkan kepala di depan Bima yang melewati dirinya.
"Sayang, bagaimana bisa papa sama mama marah sama kamu. Anak papa kan cantik...." amarah Bima langsung meleleh ketika melihat Utari.
__ADS_1
"Kalau papa tidak marah, kita makan malam bareng gimana?" Utari menunjuk meja makan yang sudah penuh makanan dingin, pastinya.
Bima baru sadar, ternyata sejak tadi dia sangat marah. Sampai-sampai dia tidak menyadari ada makanan banyak di meja makan.
"Ya sudah, papa panasi dulu makanannya. Kalian ganti baju dulu." Galuh sedikit lega melihat suaminya meluluh dengan ucapan Utari.
Memang princess cantik.
"Bim, jangan terlalu tegas sama anak. Dia itu cuma berusaha tanggung jawab." Galuh membujuk Bima yang terlihat masih kesal walau dia sudah tidak marah lagi.
"Maaf sayang, aku begini karena tau kamu tidak akan tenang sebelum melihat anakmu pulang." Ternyata Bima hanya tidak ingin istri tercintanya terlalu khawatir.
"Ah Bima, makin sayang deh. Makasih ya sayang." Galuh selalu tau kalau Bima selalu memikirkan dirinya. Tapi jika sampai memarahi putranya karena dirinya. Galuh tidak menyangka saja, pasalnya Bima sangat menyayangi putranya.
"Papa, mama. Jangan pacaran aja, aku cemburu." Utari memeluk Bima dan Galuh bersamaan.
"Pa, Utari istri Dewa sekarang. Inget, itu." Dewangga menarik kasar Utari yang tadi memeluk Bima dan Galuh.
__ADS_1
"Aduh, cemburu ternyata. Ambil, Dewa... ambil sana." kata Bima gemas pada putranya.