Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Iblis ketemu iblis


__ADS_3

Tak membuang waktu lagi. Walau masih jam setengah enam pagi, Bima tak mengurungkan niatnya mencari wanita itu. Wanita yang sudah membuatnya membentak istrinya. Wanita yang sudah mengacaukan rumah tangganya yang adem-adem saja sebelumnya.


Galuh mendengar mobil Bima menyala, mungkin sebentar lagi akan meninggalkan garasi rumahnya. Jujur, hatinya sakit. Bima pasti mencari wanita yang menelepon tadi.


Benar saja, tak lama mobil itu di nyalakan. Mobil beserta Bima meninggalkan rumah. Galuh semakin emosi dan frustasi. Dia menjerit sekuatnya, dari lantai atas Dewangga pun ikut menangis.


Pikiran Galuh kacau, itu semua karena hatinya sangat sakit sekali. Mereka bahkan belum mandi setelah semalam. Tapi, penghianatan sudah terjadi di antara mereka.


Pembantu Bima pun ikut bingung dan tak tau harus berbuat apa. Melihat Galuh naik ke atas, pembantu itu segera menelepon Rosmia. Sangat di sayangkan jika kedua majikannya berpisah.


"Iya, begitu ceritanya Bu. Mendingan, ibu ke sini dan menenangkan nyonya. Tadi den Bima saja tidak bisa membujuk, nyonya. Pasti aku juga tidak ada artinya."


Pembantu itu mengatakan apa yang dia dengar tadi. Dia tidak mengurang atau menambahi apa yang di dengar.


Bima yang dengan perasaan kacau pun melajukan mobilnya sekencang mungkin. Dia tidak peduli dengan bahaya yang bisa mengancam jiwanya.


Perjalanan yang seharusnya di tempuh selama tiga puluh menit. Percayalah, Bima hanya menempuhnya dengan waktu kurang lebih dua puluh menit.


Rumah mewah itu terlihat masih sangat sepi. Tapi Bima tidak peduli dengan hal itu. Dia menendang pintu yang masih tertutup. Pintu besar itu pun langsung rusak oleh tendangan Bima.


"Ada apa ini?" Muklas, orang tua Vio sekaligus suami dari Weni keluar dan mencari keributan apa yang tengah terjadi.

__ADS_1


"Nak Bima, kenapa kamu ke sini?" emosi yang tadi menggebu pun langsung hilang begitu melihat siapa yang datang.


Dari arah belakang, Bima melihat ada seorang gadis cantik yang baru turun. Mata Bima sudah di penuhi dengan emosi. Ingin sekali Bima membinasakan wanita itu dengan sekali tebas. Tapi sayangnya, dia tidak membawa pedang atau parang.


Bima berjalan mendekati wanita itu. Bima langsung mengambil leher wanita itu dan mengangkatnya dengan satu tangan ke atas.


"Apa yang kamu katakan pada istriku? Kenapa kamu tidak belajar dari kesalahan teman karibmu? Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga."


Wajah cantik itu berubah biru, bukan karena ketakutan. Tapi itu karena cekikan tangan Bima.


"Nak Bima, kamu bisa membunuh putriku. Saya mohon, lepaskan putriku. Aku janji akan mengajari putriku lebih lagi, tapi tolong lepaskan dulu. Dia bisa mati." Bima melempar Vio hingga membentur tembok.


Tak mengatakan apa-apa lagi, Bima menyeret Vio yang masih ketakutan masuk ke dalam mobilnya. Dengan kecepatan yang sama, Bima membawa Vio kembali ke rumahnya.


Mulut Vio tak henti meminta maaf yang tak sekali pun di jawab oleh Bima. Mulut Bima rapat bak terkunci. Namun perjalanan dua puluh menit membuat Vio lega, karena sampai dengan selamat.


Tapi, neraka itu sepertinya tidak berhenti sampai di sini. Bima yang melempar Vio di jok belakang, kembali menjambak rambutnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Langkah besar Bima membuat Vio sedikit kesusahan. Agar tak jatuh, Vio berusaha melebarkan langkahnya.


Bima menendang pintu kamar tamu, di sana dia tidak menemukan Galuh. Bima langsung tau di mana Galuh berada. Pada saat Bima hendak menyeret Vio ke lantai atas. Orang tua Bima datang.

__ADS_1


"Bima! Apa yang kamu lakukan?" teriak Rosmia melihat putranya menyeret rambut Vio.


Rosmia adalah ibu kandung Bima, namun dia takut akan kemarahan putranya. Begitu pun dengan Yasa yang tau seberapa menyeramkan kemarahan putranya.


Bima mengacuhkan ibu dan ayahnya, dia langsung menyeret Vio ke kamarnya. Bima melakukan hal yang sama. Menendang pintu dan mengagetkan Galuh yang sedikit tenang karena bersama sang putra.


"Apa kau pikir ini rumahmu dan bisa bertindak sesuka hati kamu!" Kemarahan Galuh membuat Bima menundukkan kepala. Hanya Galuh yang berani melawan kemarahan Bima. Itulah salah satu alasan orang tua Bima sangat menyayangi Galuh. Pawang iblis yang bersemayam dalam diri putranya.


Bima melempar Vio ke depan Galuh. "Katakan dan jelaskan! Kalau tidak, nyawamu yang aku habisi di sini juga."


"Maaf, maaf... Aku..."


"Aku tidak peduli apa yang kamu katakan, aku cuma mau tanya sama kamu. Apa suamiku sendiri yang mengatakan akan menjadikanmu istri kedua?" Menggendong bayinya, Galuh menjambak rambut Vio.


Rosmia yang melihat menantunya melakukan hal yang sama dengan putranya. Seakan tau, kenapa mereka berdua bisa menjadi suami istri. Galuh dan Bima sama-sama memiliki iblis di dalam diri mereka.


"Tidak... Tidak.... Aku hanya mendengar dari orang tuaku. Mereka... Mereka akan menjadikan kak Bima sebagai menantu. Kalau tidak, orang tuaku akan menekan melalui kerja sama bisnis." jawab jujur Vio.


"Lucu, orang tuamu bahkan masih memohon kerja sama denganku. Kamu mengarang cerita dari mana? Kamu itu konyol! Sekarang aku hanya memperingatkan kamu, kalau sampai kamu menyebar berita bohong. Atau menghubungi aku lagi, aku pastikan kamu mati di tanganku!"


Bima baru saja mau mencekik leher Vio kembali. Tapi Galuh memeluknya.

__ADS_1


"Jangan lakukan lagi, aku tidak mau kehilangan kamu." Sebuah batu besar yang menindi dada Bima akhirnya hancur lebur tak bersisa.


Dalam kesempatan ini, Rosmia membawa Vio dan meninggalkan mereka berdua. Kalau tidak, Vio bisa saja menyulut emosi kedua iblis itu.


__ADS_2