
Selesai meeting, Bima kembali ke villa tepi pantai. Karena Galuh sudah di antar ke sana. Sejak baru sadar tadi, Galuh tak ingin berlama-lama di rumah sakit.
Dokter juga memberi izin pulang, karena Galuh tidak terluka. Dokter hanya memberi suplemen sebagai penunjang badannya. Bima datang, Galuh sudah berenang di belakang.
Memiliki view hijaunya laut, Bima menambahkan sedikit lahan di samping kolam renang untuk rumput hijau.
Bima mengambilkan handuk untuk Galuh. Karena Galuh baru saja keluar dari rumah sakit. Dan berenang terlalu lama membuatnya tidak baik.
"Kamu beneran sudah sehat?" Tanya Bima menghanduki rambut Galuh yang basah.
"Sudah, lihatlah, aku bahkan sudah berenang. Oh iya, aku laper." Galuh masih dengan kemanjaan yang hanya tertuju pada Bima.
"Kamu mau makan apa? Aku masakin untuk kamu." Bima masih seperti biasanya, walau hatinya sangat gembira sekali.
Kecemasannya karena kehadiran Jovan, ternyata hanya kesia-siaan yang tak berarti. Karena Galuh, istrinya ini masih bergantung pada dirinya.
"Apa saja yang penting masakan kamu." Jawab Galuh memeluk manja Bima.
__ADS_1
"Baiklah, aku mau ke pasar sore yang sepertinya masih buka." Bima melihat jam yang masih menunjukkan angka lima di pergelangan tangannya.
Bima memberikan jus jeruk pada Galuh. Bima tak mengganti bajunya, dia hanya mengganti sepatu dengan sandal sebelum pergi ke pasar.
Pasar tak terlalu jauh dari villa, Bima cukup menggunakan motor untuk ke pasar. Memilih beberapa kerang, udang, kepiting dan lobster kesukaan Galuh.
Setelah itu, netra Bima tertuju pada ikan yang baru datang. Bukan, itu bukan ikan, tapi gurita.
Selama ini, Bima belum pernah memasak gurita untuk Galuh. Bima segera mendekati penjual gurita dan memintanya untuk membersihkan untuknya satu.
Di bersihkan hingga bersih, Bima juga mendapat beberapa ide untuk memasak gurita ini. Ada juga tips agar guritanya tidak terlalu mual saat memakan gurita ini mentah-mentah.
menggunakan kemeja putih dan berdasi, jelas Bima di terima dengan baik di pasar tepi pantai itu. Bukan cuma di terima dengan baik, Bima juga di pandang sebagai seorang lelaki yang sayang keluarga.
Di tambah tadi Bima juga mengatakan, kalau dia belanja untuk istrinya. Jelas sekali banyak wanita yang menggodanya.
Menggoda bukan ingin memiliki, tapi menggoda karena Bima selalu tersenyum kala di tanyai soal istrinya.
__ADS_1
"Mas, memangnya istrinya tidak takut kalau nanti masnya di bawa pulang pedagang sayur ini?"
"Tidak, Bu. Kalau bisa, saya yang akan bawa ibu pulang, sekalian bawa dagangan ibu."
"Waduh, Bu. jangan nolak di bawa pulang Bu, kayaknya masnya ini sayang istri."
"Kalian ini gimana, yang di mau itu ya daganganku, bukan aku. Gimana sih," candaan itu berlangsung cukup lama.
Bahkan, Bima juga mendapatkan harga miring tanpa menawar. Bima sebenarnya bisa menawar, tapi dengan melihat senyum ibu-ibu ini. Dia seakan tak ingin membuat senyum itu memudar.
Sesampainya di rumah, Bima langsung membawa belanjaannya ke dapur. Membersihkan semuanya seorang diri.
Dari belakang, istri cantiknya langsung nemplok dan memeluknya. "Galuh, badanku masih bau keringat. Sebentar aku mandi setelah mencuci ini."
"Keringatmu harum, aku tidak keberatan. Memangnya kamu tidak suka aku peluk begini?"
"Suka, sangat suka."
__ADS_1