
"Cinta yang buat gue sama Bima sadar." kata Galuh menerawang.
"Sudah, jangan di inget lagi. Apa mau aku ratakan dengan tanah, kalau masih buat hatimu perih?" kata Bima tau apa yang ada dalam pikiran Galuh.
"Kalian ini bikin iri saja. Jujur, gue dulu orang yang paling takut masuk BK. Makanya lurus waktu di SMA."
"Makanya Lo lampiasin sekarang badungnya." ejek teman yang lain.
"Sialan."
Mereka masih tertawa sambil membahas kerja kelompok. Tiba-tiba ada seorang gadis berumur tidak jauh dari mereka datang.
"Bima?!" gadis itu tampak sangat lucu dan terlihat seperti anak kecil yang imut dengan rambut ikat duanya.
"Mimi, kok di sini?" tanya Bima yang terlihat sangat mengenal gadis itu.
"Iya, aku baru pulang dari Jepang. Terus tanya Tante, katanya kamu kuliah di sini. Jadi aku mau di sini juga." jelas gadis yang bernama Mimi.
__ADS_1
"Oh, bagus deh. Kenalin ini teman-teman kuliahku, dan yang ini istriku." tanpa melihat Galuh yang sudah menunjukkan muka masamnya. Bima mengenalkan dirinya sebagai istri, dan itu cukup buatnya melayang.
'Akulah ratunya di kehidupan Bima.' jelas Galuh dalam hati.
"Hai semua, perkenalkan nama ku Milka Askia. Cukup panggil Mimi aja, salam kenal kak aku teman masa kecil Bima." setelah mengenalkan diri pada teman-teman Bima, Mimi mengenalkan diri pada Galuh.
"Kenapa panggil aku kakak? aku rasa kita seumuran, dek?" Galuh terlihat welcome sekali, padahal hatinya mengumpat sangat kejam.
"Mukanya terlihat tua, ooohh mungkin ini yang di namakan pemborosan wajah ya? umur masih kecil tapi terlihat tua? canda tua...." teman yang lain memperhatikan Mimi lalu di lanjut ke Galuh.
Mimi memang terlihat lebih fresh, sedangkan Galuh? Dia terlihat lebih dewasa dari umurnya. Itu karena dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan.
"Sepertinya dia sudah dandan sesuai dengan umur deh. Lagian kalau dia dandan cantik, aku yang susah. Kamu tidak boleh melakukan ini, kamu tau candaan kamu itu tidak lucu?" Bima terlihat sekali dia tidak suka.
"Sudah lah sayang, lagian dia bener. Aku sudah tua, harusnya tadi kamu gak pilihin baju ini. Lihat, aku kan juga punya baju yang seperti dia pakai...." cara Galuh bermanja malah membuat teman-teman Bima tertawa.
"Hahahaha, jangan di pakai Luh. Yang ada mata para cowo di congkel satu-satu sama Bima. Lo gini aja di liat cowok, cowok itu di tendang sama Bima. Apa kabar mereka terpesona? Amankan dunia dari amukan Bima Luh," celetuk salah seorang teman yang memang sudah mengenal Bima.
__ADS_1
"Lebai banget sih. Bim, anterin aku ke kantin dong, aku laper." rengek Mimi.
"Ias, anterin sono. Kali aja mengurangi populasi" kata Bima.
"Populasi apa emang?" Dias yang di ajak ngomong malah plonga plongo.
"Populasi jomblo!" teriak teman-teman Bima.
Mendengar apa yang di katakan Bima, Mimi malah menangis. Dia tidak menyangka kalau orang yang dulu sering di jodoh-jodohin dengannya itu. Sekarang menolak dirinya terus terang.
"Kenapa nangis?" tanya Bima lembut.
"Maunya kamu," dengan tidak tau malunya Mimi menggandeng lengan Bima.
"Sama yang lain aja. Sama kok, kantin juga tetep di situ tempatnya. Rasa es juga tetap dingin, apa kamu mau aku yang bersikap dingin pada mu di masa depan?" ucapan Bima membuat Mimi bergetar dan mengikuti apa yang di katakan Bima.
"Cuci tangan mu sini. Ada Virus pelakor nempel." Galuh mengguyur lengan Bima dengan air minum yang ada di dalam tanya. Tidak keberatan, Bima hanya tersenyum. Sedangkan teman-teman yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Dasar Bucin."