
"Bima, kamu sayang tidak sama aku?" kata Galuh manja bersandar di punggung suaminya yang tengah bekerja di dalam kamar.
"Sayang, kenapa kamu tanya begitu?" Bima menjawab pertanyaan Galuh dengan pertanyaan.
"Mau ini," Galuh menunjukkan katalog sebuah brand ternama pada suaminya.
"Astaga, Galuh. bukannya aku gak sayang sama kamu kalau gak mau beliin tas itu. Dan aku juga cukup mampu. Hanya saja, lemari penyimpanan tas kamu itu sudah penuh dengan tas-tas branded ini. Tapi kamu tiap keluar, malah pakai tas yang beli di Mall dengan harga kurang dari lima ratus ribu."
Ini adalah omelan Bima pertama kali selama menjadi suami Galuh. Sedikit ngeri, sih. tapi apa yang di ucapkan Bima itu benar.
Galuh hanya membeli saja, tanpa ada niatan untuk memakainya. Dan lagi, itu barang mahal hanya menjadi pajangan penuh-penuhin lemari penyimpanan saja.
"Tapi 'kan aku kemarin liat V pakek tas ini pas di bandara." Rengek Galuh lagi.
"Ya ampun, yank. bisa tidak kamu itu tidak membeli barang karena idola kamu pakai itu juga. Gak mungkin kan? Sekalian saja kamu minta aku beliin orangnya." dengus Bima sebal.
__ADS_1
"Nah, boleh juga itu yang. Ah suami pengertian...."
"Dan istri tidak peka. Berasa menciptakan neraka ku sendiri. Gak ada, cuma aku suami kamu." jawab Bima jauh lebih sebal.
Galuh bingung, kenapa suaminya jadi marah begitu. Padahal dia hanya meminta tas Gucci saja, apa yang salah dengan itu? Memang suami ABG, masih labil.
Galuh tidak mengejar suaminya yang keluar kamar. Dia kembali menscroll sosial media yang menunjukkan gambar-gambar para bujang itu. Ah memang, dunia K-Pop itu meresahkan sekali.
Bima yang merasa istrinya tidak mengejarnya pun menjadi jengkel. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan merebut ponsel di tangan Galuh.
"Cemburu? Sama siapa? V? hahahah" Galuh malah semakin kencang setelah mendengar pengakuan suaminya.
Cemburu pada seorang V BTS? Apa Bima waras? Astaga, Galuh tak habis pikir jika suaminya benar-benar mencintai dia begitu dalam.
"Ok, aku mau lihat kamu saja sekarang. Kamu mau kerja apa di sini saja? Biar aku lihatin kamu, jadi jangan cemburu lagi. ok?" kata Galuh menenangkan.
__ADS_1
"Mau di sini saja," Bima merasa nyaman berada di pelukan istrinya.
Dia sangat takut akan kehilangan istrinya. Menyenggol idolanya memang bisa membuatnya terbuang. Hal bodoh semacam ini akan terus di ingat oleh Bima di masa depan.
Bima tidak bisa bersaing dalam hal ketenaran juga visual. Setidaknya, Bima bisa bersaing dalam hal materi dan kasih sayang juga perhatian. Bima pasti bisa memberikan itu pada Galuh.
"Bima, besok kamu ke kampus gak? Aku lagi gak ada kelas." kata Galuh yang juga tidak mau di tinggalkan oleh Bima.
ini yang tidak pernah di sadari oleh Bima. istrinya ini juga bucin padanya. Bahkan lebih parah dari dirinya, karena Galuh bisa cemburu pada orang yang visual nya berada di bawahnya.
"Ada kelas pagi, sayang. Bahkan seharian itu kelas, kamu gimana dong? Ikut yuk, nanti pulangnya aku ajak kamu belanja deh." bujuk Bima yang menginginkan terus bersama dengan istrinya.
"Belanja apa? Kalau gak di beliin tas itu aku gak mau," rengek Galuh.
"Iya-iya, tapi tasnya aja. Bukan sama orangnya," jawab Bima posesif.
__ADS_1