Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Anak magang baru


__ADS_3

Jam pulang sekolah di majukan, karena tidak adanya pelajaran. Utari ikut Dewangga mengantarkan Nimas.


"Kak, benar mau beli sekolahan?" tanya Utari yang ada di kursi belakang karena sangat penasaran.


"Dari mana kakak punya uang? Kamu kan tau sendiri, kakak habis beli rumah itu." jawab Dewangga seakan lupa akan kehadiran Nimas.


"Kamu sudah punya rumah sendiri?"


"A... emmm... Kak Dewa beli rumah buat belajar mandiri. Kak Nimas penasaran mau lihat?" tanya Utari yang membuat Dewangga sedikit khawatir.


"Tentu. Bagaimana bisa aku tidak penasaran, kalau calon imam Nimas sudah punya rumah sendiri. Apa rumah itu jadi rumahku nantinya?" tanya Nimas yang seolah tidak pernah menganggap Dewangga yang sudah berulang kali menegurnya soal panggilan.


"Waduh, tapi sayangnya rumah itu di huni aku juga kak. Sepertinya juga bukan jadi rumah masa depan kamu. Nanti mintalah sendiri sama kak Dewa kalau mau rumah. Nggak mungkin kan, kita berbagi kenangan?" Utari sedikit jengkel dengan apa yang di katakan oleh Nimas.


Nimas selalu saja memposisikan dirinya sebagai calon mempelai Dewangga. Dan selalu memimpikan masa depan indah bersama dengan Dewangga.


"Sudah sampai, turunlah. Besok-besok, tolong jangan merengek seperti tadi. Aku tidak suka!" Setelah mengatakan itu, Dewangga langsung meninggalkan Nimas di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Dewangga, kamu itu jodohku, jadi aku akan sabar menunggumu." Nimas masih bisa tersenyum.


Dia tidak pernah berpikir negatif pada Utari dan Dewangga. Ya karena faktanya memang mereka kakak beradik. Masalah angkat atau kandung, orang-orang tidak akan peduli dengan itu.


"Kamu kenapa diam saja?" tanya Dewangga yang melihat Utari diam seribu bahasa sejak tadi.


"Ya, kamu tidurnya sama aku. Tapi masa depan di impikan wanita lain. Apa kakak mau aku mati berdiri?" jawab Utari jengkel.


"Mati ya merem, ngapain kamu berdiri?" Dewangga masih saja bercanda. Bagaimana bisa, dia membuat ketakutan Utari sebagai candaan? Bukankah itu sangat kejam?


Utari sudah bosan karena jengkel. Jadi, pada saat sampai di rumah. Utari langsung keluar mobil dan mencari kamar untuk tidur.


Dewangga menyusul Utari ke kamar dengan santainya. Dia melihat Utari sudah menangis di bawah selimut. Dewangga sangat hafal dengan adiknya ini. Tapi, apa yang membuatnya menangis?


"Kamu cemburu, sayang?" bisik Dewangga pada pucuk kepala Utari yang masih terlihat.


"Nggak usah sayang-sayang! Nimas sana sayangin, sudah ada aku kok masih aja gandeng cewek lain!"

__ADS_1


"Maaf. Mulai besok tidak akan lagi." Dewangga berjanji.


Utari tau, jika Dewangga sudah berjanji. Maka janji itu yang akan di kerjakan olehnya.


"Baik, aku liat besok!" Utari pun mau bangun dan mengganti bajunya.


Utari tidur nyenyak setelah makan siangnya. Sedangkan Dewangga bersiap-siap untuk ke kantor.


Hari ini adalah hari pertama dia bekerja di perusahaan Bima. Dengan harapan, dia bisa cepat belajar dan mendapat gaji yang sesuai.


Tapi sayangnya, ekspektasi memang tak pernah bisa di kalahkan oleh kenyataan. Dengan kata lain, harapan hanya menjadi harapan.


Kenyataannya, Dewangga yang baru datang, langsung di ajak meeting oleh seorang gadis belia. Gadis itu memang cantik, tapi bisa di pastikan jika wanita itu sudah lebih tua darinya.


"Kamu anak magang baru? kenapa siang sekali datangnya?"


"Maaf, Bu. Benar saya memang anak magang baru. Tapi sebenarnya saya kerja paruh waktu, karena masih sekolah."

__ADS_1


"Ya sudah, jangan manja tapi.


__ADS_2