Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
salah warna


__ADS_3

Setelah lima hari menikmati ranjang rumah sakit, Galuh akhirnya di bawa pulang ke rumah. Bima sudah menyiapkan boks bayi warna hitam tepat di samping tempat tidur. Dia pula yang mendekor ulang kamarnya.


"Ini lucu sekali, tapi sayang warnanya hitam." Galuh yang tadinya terlihat sangat takjub berubah seketika setelah melihat boks bayi berwarna hitam.


"Kok sayangnya? memangnya mau di kasih warna apa, sayang? Anak kita kan cowok." Bima masih bisa merendah, biar bagaimana pun. Putranya ini adalah putra Galuh juga.


"Sayang, aku mau warnanya biru. Biar tidak suram aja warna anak kita."


Warna biru untuk anak lelaki. Okelah, masih bisa di terima karena memang warnanya cocok. Tapi, mungkin jika Galuh masih meminta warna pink seperti awal dia memilih boks bayi. Bima tidak akan pernah mengabulkan.


"Baiklah, sayang. Besok, saya sendiri yang pilih sesuai keinginan kamu."


"Terima kasih, sayang." Galuh yang terlihat sudah lemas pun memaksa diri untuk tetap memeluk Bima.

__ADS_1


Galuh beristirahat dengan dia masih tetap memeluk putranya yang belum puas minum. Selama di rumah sakit, Galuh membiasakan putranya untuk minum ASI miliknya.


Galuh berpendapat, bayi yang di beri ASI eksklusif. Maka daya tahan tubuhnya akan jauh lebih baik di bandingkan dengan bayi yang di beri susu formula.


Hari ini adalah hari kepulangan Galuh dari rumah sakit. Banyak sekali saudara yang ingin melihat istri Bima. Terutama nenek dari pihak ibu Bima, mereka cukup baik. Hanya saja, mereka tidak membiarkan Galuh untuk tidur siang.


"Aduh adeknya guanteng sekali. Persis kecilnya Bima, ya. Aduh, Bim kok bisa ganteng gini sih anakmu?"


"Berarti ini memang anakku Tan, nggak ketuker."


"Tante ini ada-ada saja lah. Resep KFC aja di rahasiakan, masa resep kegantengan anakku malah di umbar." Bima terus menjawab godaan dan lawakan sang saudara. Dia paham, mungkin Galuh tidak ada nyaman dengan adanya mereka. Terutama dari pihak keluarganya belum ada yang menjenguknya.


"Bim, aku ngantuk." Akhirnya Galuh bersuara juga, setelah dia menahan begitu lama ngantuknya.

__ADS_1


"Waduh, nak. Kalau kamu tidur, anaknya tidurin juga, biar membangun ikatan dengan ibunya." apa yang di sampaikan Tante Bima tidak ada salahnya, tapi kalau begitu. Apa gunanya boks bayi yang ada di samping Galuh?


"Biar tidur di boks saja, bayinya." kata Bima seolah mengerti kegalauan sang istri.


"Dasar anak muda. Di sini peran kamu di mainkan, jangan berpikir bayi itu hanya harus di urus ibu saja. Biarkan bayinya tidur sama ibunya dulu, nanti kalau sudah tidur. Bima yang memindahkan si bayi ke boksnya. Jangan egois, Bima. Tengah malam, kamu juga harus ikut bangun."


Rupanya, keluarga Bima juga memikirkan Galuh. Kebaikan ibu mertua Galuh ternyata memang tidak main-main.


"Galuh mau tidur? biar mama tata dulu bantalnya. Bayinya gendong dulu ya sayang." Rosmia salah satu orang yang paling bahagia, masuk membawa makanan untuk menantunya. Tapi sayangnya, dia melihat mata menantunya sudah merah. Pasti sudah mengantuk sekali.


Menata bantal senyaman mungkin untuk sang menantu. Rosmia mengajari putranya untuk menatanya untuk sang istri, jika tidak ada dirinya nanti malam.


"Mimi mana ma? masih belum pulang?"

__ADS_1


"Katanya masih belanja buat adik kecilnya. Buat si jagoan ini, iya sayang... utu utu, nanti ikut Oma... sekarang bobok dulu sama mama, kasihan mama capek." Rosmia selalu menggoda cucunya. Galuh merasa dirinya sudah tak kekurangan apa pun dalam berkeluarga.


__ADS_2