Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Tidak cocok


__ADS_3

Kenyamanan yang di berikan oleh Bima, membuat Galuh tak merasa bosan sama sekali. Menemani suami kerja di kantor, di suguhi makanan enak, camilan banyak, hiburan dari tv atau hp yang tak mengecewakan.


Bahkan, putranya juga mendapat tempat yang nyaman selama tidurnya. Dewangga tidak rewel sama sekali selama di ruangan Bima.


Pekerjaan yang di bawa oleh papa Bima cukup menyita waktu. Bima dan Galuh sampai lupa waktu dan hari sudah sangat gelap di luar sana.


"Astaga, kalian berdua ini! Bawa anak kecil, tapi sampai jam setengah tujuh malam masih belum pulang? Mau kalian ajari apa cucu tampanku?" Yasa datang bersama dengan Rosmia.


"Ah, maaf pa, ma. Ya sudah aku siap-siap pulang." kata Bima sedikit panik.


Galuh melihat jendela, rupanya memang sudah sangat gelap. Dia terbuai dengan makanan enak dan kenyamanan yang Bima berikan.


"Tidak apa-apa, kalian kan juga bosan di rumah terus. Lihat Dewangga ini, tidur pulas, tampan sekali sih cucu Oma." Rosmia mengambil bayi kecil yang masih tertidur pulas dari boksnya.

__ADS_1


"Tapi, ma...."


"Biar saja, pa. Ini juga tidak sering, lagian Galuh juga bosan. Jangan sampai menantuku depresi karena peraturan konyol nenek moyangmu." Rosmia seperti memberi kode pada suaminya. Tapi yang peka adalah putranya.


"Iya, ma. Dokter juga berpesan untuk memperhatikan Galuh, mengingat usianya masih sangat belia. Dokter juga mengingatkan soal baby blues yang rentan di derita oleh ibu yang baru melahirkan." Jawab Bima saat melihat istrinya berada di kamar mandi.


"Mama juga tidak bisa membantu kalian. Ingin sekali mama bersama kalian, tapi...."


"Tak apa, ma. Aku bisa sendiri untuk menjaga Galuh dan Dewangga." Kata Bima membuat sejuk Rosmia yang selalu merasa cemas saat dia tidak bersama dengan putra putri menantunya.


Galuh juga merapikan meja yang penuh dengan makanan ringan dan beberapa jenis buah.


"Hati-hati di jalan, papa duluan." Yasa bersama dengan Rosmia meninggalkan ruangan Bima lebih dulu.

__ADS_1


Bima membawa Galuh pulang mengikuti orang tuanya. Di tengah jalan, Bima melihat seorang karyawan yang masih lembur bekerja. Karyawan itu masih memakai baju hitam putih, sepertinya dia karyawan magang.


Bima mendekatinya. "Apa kamu anak magang?" tanya Bima pelan di samping karyawannya.


"Ah, maaf pak. Benar, saya baru mulai magang hari ini. Ini saya masih bingung, tapi tidak ada yang memanduku." jawab jujur seorang karyawan yang sepertinya baru lulus SMA dan bekerja part time di perusahaan ini.


"Ah, besok saja. Sekarang kamu pulang saja, ini sudah malam, tidak baik untukmu pulang lebih larut dari pada ini." Ucapan Bima mungkin hanya sebuah perhatian kecil dari atasan untuk bawahan. Tapi, lihatlah ke dalam tatapan karyawan kecil ini.


Dia tampak terpesona pada Bima, dia memandang takjub pada sosok bos-nya yang masih muda. Tapi sayangnya, karyawan kecil ini tertampar oleh kenyataan.


Sebuah senyuman dengan alunan merdu ajakan untuk pulang dari seorang kekasih hati untuk bos-nya.


"Sayang, ayo pulang. Nanti semakin malam, kasihan Dewangga." Ucapan yang begitu merdu di telinga Bima, belum tentu bernada sama bagi telinga orang lain.

__ADS_1


Karena karyawan itu mendengar sebuah kearogansian dari seorang pemenang hati. Tidak boleh mengalah, dari cara menggandengnya saja sudah jelas keduanya tidak cocok.


Baginya, bapak Bima Fedrik ini sangat lembut. Tapi istrinya ini sungguh arogan dan bar-bar, sangat tidak cocok untuk menjadi nyonya besar perusahaan Fedrik.


__ADS_2