Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Hutang


__ADS_3

"Widih... mobil baru, nih. Numpang boleh, numpang? Dedek dalam perut minta nyobain, katanya." Raya dengan gaya khasnya, usap-usap perut. Melihat mobil baru Galuh ikut bangga.


"Gimana cara bakal anakmu itu ngomong? Ini orang ada-ada aja tingkahnya. Kalau mau nyobain, ayo sudah naik saja. Kan ini mobilnya cukup berempat." Kata Galuh membuka pintu belakang untuk Raya.


"Waduh, sayang. Kita irit bensin hari ini, ikut Bu bos lah." Kata Raya kegirangan.


"Emang dasar encik-encik turunan kedelapan."


Raya tak keberatan di Katai encik-encik turunan kedelapan. Karena dia bukan keturunan orang Tionghoa. Galuh dan Raya menghadiri acara pernikahan Irma, teman mereka saat masih kuliah.


Irma satu teman Galuh yang sedikit rese sebenarnya. Tapi selama tidak menyenggol Galuh, dia tidak pernah mempermasalahkan.


"Ray, kamu bawa apa ke kondangan hari ini?" tanya Galuh yang masih bingung mau ngasih apa. Padahal mereka sudah berangkat ke kondangan hari ini.


"Duit lah, ribet banget. Lagian itu orang ada apa enggak, juga nggak ada pengaruhnya." Raya memang tipe orang yang kurang suka bergaul sama teman yang sombong.


"Mulutnya... Berapa emang isi amplopmu?"


"Kepo deh, lima puluh ribu aja. Biar entar malem pakek beli cilok kalo bosen makan daging sapi." Raya ini benar-benar nggak peduliin omongan orang.

__ADS_1


Bisa-bisanya dia ke kondangan dengan amplop lima puluh ribu. Padahal, di kampus dia terkenal dengan istri dosen tajir. Dengan memiliki perusahaan besar dan menjadi dosen, artinya Fairus punya uang banyak dong.


Tapi lihat kelakuan istrinya, ke kondangan bawa amplop lima puluh ribu. Sungguh membuat Galuh tertawa tak henti-hentinya.


"Serius kamu segitu saja?" Galuh masih tak percaya.


"Nggak percayaan amat sih jadi perempuan, ini aku kasih lihat." Benar, Raya memang memasukkan selembar uang biru dalam amplop coklat.


"Pak, sebulan istrimu berapa sih uang jajannya? Masa beneran lima puluh ribu, sih?" Galuh masih tak paham dan tak mengerti.


"Aku juga cuma seratus ribu. Dia itu murid bodoh, aku sebenarnya males menghadiri pernikahannya. Tapi Raya maksa, ya ikut jadinya."


"Ya sudah sayang, kita samain aja sama mereka. Pak Fairus bener, Irma itu orangnya bodoh. Jadi dia pasti nggak tau kalau kita ngasih segitu." Galuh akhirnya ikut dengan Raya karena kepatuhannya pada sang suami.


Acaranya di adakan di sebuah hotel mewah. Kabarnya, hotel ini milik dari keluarga Roby. Diam-diam cowok kurus itu ternyata adalah putra kedua dari pemilik hotel. Dengan kekayaan pribadi, Roby mampu mengikuti jejak sang papa. Membuka hotel berbintang di pinggiran pantai.


"Gila, hotelnya megah sekali." Ucap Galuh takjub dengan kemewahan lobi hotel.


"Kamu mau? Kita bisa menginap di sini." Bima selalu menuruti apa yang di katakan istrinya. Memberi apa yang di inginkan Galuh.

__ADS_1


"Ehem, jangan lupa kami menumpang di mobilmu." Fairus mengingatkan.


"Hahaha, bercanda."


Keempat orang itu masuk ke area acara. Galuh dan Raya menuju ke tempat penerimaan hadiah. Di sana juga sudah ada dua orang yang di tugaskan khusus. Raya menyerahkan dua amplop setelahnya di susul oleh Galuh.


"Mbak, saya mau menyumbang lima puluh ribu rupiah atas nama Galuh Rameswari dan suami saya Bima Fedrik seratus ribu."


"Mana amplopnya mbak? Biar kami tulis."


"Oh, amplop. Ini amplopnya." Galuh memberikan dua amplop coklat pada pelayannya.


"Loh, mbak. Ini amplop kosong, mbak mau menipu saya?" Seketika petugas itu pun merasa di rendahkan dan emosi.


"Oh, memang. Tapi pengantin kalian itu yang cewek, Irma. Dia punya utang sama aku sejuta setengah. Belum di kembalikan sama aku, sekarang aku minta kembalian dong. Sejutah setengah di ambil seratus lima puluh ribu, jadi masih sejuta tiga ratus ribu. Sini balikin."


Kedua petugas itu dengan takut memberi Galuh uang sebanyak yang di katakan. Galuh dan Raya pun meninggalkan tempat setelah mendapatkan uang.


"Benar-benar memalukan istrimu, Bim."

__ADS_1


__ADS_2