Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Berulang terus


__ADS_3

Duduk di sebuah toko kue di dalam sebuah mall, Galuh menikmati suap demi suap yang diberikan oleh sang suami. Dengan sabarnya Bima memberikan apa yang di inginkan istrinya. Sebagai balasan, Galuh juga memesan satu untuk suaminya dan melakukan hal yang sama.


Sudah, dunia milik berdua emang. Yang lainnya anggap saja hanya rumput yang bergoyang.


Bima memanjakan Galuh bukan cuma dengan uangnya saja, tetapi dengan perhatian dan kasih sayang. Galuh menjadi wanita yang di irikan oleh semua wanita lainnya. Di dalam mall tersebut banyak sekali pengunjung. Bukan hanya tidak kenal, tetapi mereka berdua juga tidak peduli dengan pengunjung yang lainnya.


Setelah dari makan kue sebagai tujuan awal, Bima mengajak Galuk ke sebuah toko baju. Di mana ini adalah surga bagi wanita yang gila akan penampilan. Karena selain baju, di sana juga terdapat aksesoris. Tas, sepatu, pernak pernik cewek, tetapi Galuh malah mengajak suaminya segera keluar dari sana. Ada apa?


Bima bingung, karena dia tidak biasa melihat istrinya yang langsung menolak seperti ini. Ah, pasti ada yang terjadi, tapi dia tidak mengetahui. Mengikuti dan tidak banyak bertanya adalah jalan satu-satunya bagi Bima saat ini.


Mata Bima masih mengedar ke segala arah, namun tidak mendapatkan apa yang membuat aneh. Tetapi kenapa Galuh berlaku tidak seperti biasanya? Tapi tunggu, ada satu perempuan yang baru saja keluar dari dalam toko itu bersama dengan seorang lelaki.


Isabella bersama dengan suaminya, Jovan Arbi yang tampak sangat bahagia menenteng belanjaan yang tidak sediki. Galuh melihat keduanya tersenyum lebar merasa bodoh pada dirinya sendiri. Apa yang di pikirkan selama ini? Lihat! Jovan haha hihi bersama istri yang perutnya tampak menjembul entah hamil atau kelebihan lemak.


Galu merasa tidak senang dengan itu, bukan alasan apa-apa. Kalau saja dia kemakan omongan Jovan lagi, bukannya dia yang paling di rugikan? Seperti tau apa yang di rasakan Galuh. Bima memeluk erat wanita itu dan membawa pandangan Galuh terbenam pada dada bidang miliknya.


Aroma sabun yang selalu tercium pada tubuh Bima mengalahkan parfum pun membawa Galuh semakin terbenam. Aroma Bima seperti candu bagi Galuh, entah sejak kapan aroma itu sangat menenangkan bagi dirinya.


Galuh membalas pelukan dan semakin damai dalam dekapan sang suami. “Kita pulang atau masih mau jalan?” tanya Bima penuh kasih sayang.


“Mau cocok tanam di hotel, boleh?” rengek Galuh membuat Bima tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Hahahaha, kamu ingin seperti mereka?”Bima tidak buta yang tidak bisa membedakan perbedaan pada tubuh Isabella.


“Mau yang kaya Raya aja.” jawab Galuh masih melingkar kan tangannya pada perut Bima.


“Mau di hotel mana emang? Kamarnya sudah gak nyaman? Kita rubah saja ya?” tanya Bima menggoda Galuh.


“Jangan, aku cuma mau suasana baru. Tapi tetap, kamar begitu yang aku inginkan.” kata Galuh enggan untuk mengubah kamar.


Yang benar saja mau di rumah, semua yang ada di kamar itu kan Galuh sendiri yang menata dan memilih pernak-perniknya. Jadi mana mungkin dia mau mengubah kamar, apalagi total jika menurut Bima tadi.


Bukan hotel mewah memang, berbintang empat pun sudah cukup untuk Galuh dan Bima bercocok tanam. Selain itu, hotel juga gak penting-penting amat buah mereka berdua hanya melakukan hubungan badan. Karena di rumah pun mereka bisa melakukan di mana saja, memang dasarnya Galuh saja.


Sesampainya di hotel Bima di buat bingung oleh Galuh. Bagaimana tidak bingung? Sampai di tempat parkir hotel Galuh sudah terlelap. Ah, apa ini? Tetapi karena Bima tidak mau Galuh bangun dengan rasa kecewa.


Resepsionis itu bisa percaya karena sudah ada bukti, tetapi orang lain? Ya bodo amat lah. Setelah sampai di kamar, Bima menidurkan Galuh di ranjang besar dengan pelan dan hati-hati.  Tadi Bima memang sudah mandi, tetapi dia habis keliling di mall. Jadi dia memutuskan untuk mandi sebelum berbaring di samping istrinya.


Ah, keputusan mandi mungkin akan menjadi pilihan terakhir kalau seperti ini. Tangan lembut Galuh kini sudah melingkar pada perutnya dengan keadaan sudah tanpa pakaian. Di bawah guyuran air hangat, Galuh melancarkan serangan dari belakang.


“Apa kamu yakin di sini?” tanya Bima memastikan. Gelengan kepala membuatnya paham kalau gadisnya itu sama sekali tidak mau di tinggal dari awal.


“Ya sudah, aku sudah selesai. Apa kamu mau mandi atau gimana?” tanya Bima lagi.

__ADS_1


“Mau sama kamu saja,” air mata yang menyatu dengan air hangat mungkin bisa menyamar dari penglihatan. Tetapi apa yakin Bima tidak bisa melihat hidung merah dan juga mata sedikit memerah?


Ah tidak, Bima merasa ada yang aneh dengan Galuh. Bukan saat ini saja, tetapi semenjak dia bertemu tidak langsung dengan Jovan. Kenapa dia tidak menghilang saja dari bumi ini? Kenapa seakan dia membayangi kebahagiaan Galuh.


Tetapi kalau di ingat lagi, Jovan dan Isabella tidak saling berpapasan atau bertemu pandang. Apa perasaan untuk Jovan masih tersimpan rapat di dalam hati Galuh? Ada gelanyar tidak suka di dalam hati Bima. Tidak menunggu lagi, dia menggendong istrinya kembali ke kamar dan menidurkan di atas tempat tidur.


“Jangan buat aku gila dan berbuat kasar terhadap kamu. Jika memang masih punya perasaan buat dia, lebih baik kamu keluarkan saja. Atau kamu harus memilih aku atau dia. Jujur aku tidak mau membuat kesalahan dengan memaksa kamu tetap bersama dengan ku.” kata-kata tajam menusuk hati di saat Bima juga memberikan hujaman pada Galuh.


Air mata sudah mampu menjawab apa yang sudah di tanyakan oleh Bima. Istrinya masih belum bisa menerima dirinya.  Untuk apalagi ini di teruskan? Bima melepas penyatuan dan kembali ke kamar mandi. Menuntaskan sendiri sebelum membersihkan diri untuk kedua kali.


“BANGSATT!!”


Teriakan Bima yang tidak pernah di dengar oleh Galuh pun dia akhirnya mendengarnya. Ini bukan Bima, tetapi emosi yang sudah mengambil alih diri suaminya. Berjalan pelan mendekati kamar mandi, Galuh menangis sesenggukan melihat ke arah suaminya.


“Maafkan aku, bukan maksud memendam perasaan ini. Tetapi aku butuh waktu,” jawab Galuh jujur.


“Satu tahun lebih Luh, aku menyerah kalau memang kamu tidak mau mengeluarkan perasaan bedebah itu. Aku tidak bisa lebih dari pada ini, aku tersiksa.”  Bima tidak mengatakan talak atau perpisahan. Dia hanya mengatakan kalau diri menyerah.


Bima dan Galuh pulang ke rumah dan menempatkan pada keadaan yang sangat tidak nyaman. Mereka memang masih tidur satu kamar dan satu ranjang. Tetapi mereka saling memunggungi satu sama lain  hingga pagi menyapa.


Satu perubahan telah di rasakan oleh Galuh, tidak ada sarapan di atas meja buatan Bima untuknya. Dia menyesal dan hanya bisa menangis, ini terjadi terus berulang dan tidak akan pernah menemukan titik tengah kalau perasaan itu masih ada di dalam hati Galuh.

__ADS_1


Bima berangkat pagi-pagi tadi pagi hingga saat ini jam sepuluh malam dia masih belum pulang juga. Galuh ingin sekali menghubungi suaminya, tetapi dia takut akan mendapat penolakan. Galuh memutuskan untuk menunggu di ruang tamu.


Entah sampai kapan akhirnya dia tertidur dan tidak bisa menunggu suaminya pulang dan makan malam bersama.


__ADS_2