Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Diam


__ADS_3

Musim hujan telah tiba, entah itu karena mendung yang selalu menyelimuti Galuh. Apa memang sudah waktunya musim penghujan. Namun, yang bisa di pastikan hanya Bima yang kesepian dan kedinginan.


Sejak kemarin sore, pulang dari kantor. Bima di sambut oleh senyum Galuh yang suram. Awalnya Bima masih tak masalah, karena masih ada senyuman. Tapi, pada saat semalam Bima hendak memeluk dalam tidurnya. Galuh langsung bangun dan pindah ke sofa.


Sungguh reaksi yang sangat berlebihan, jika hanya sekedar datang bulan saja. Tapi, pms itu siapa yang tau seberapa dahsyatnya.


Pagi yang dingin ini lebih parah ternyata. Galuh tidak mau berbicara padanya. Ini sudah tahap yang paling serius.


"Galuh, kamu kenapa sih?" Bima tak tahan lagi, dia mendekati istrinya yang tengah menonton kartun Doraemon.


Masih tak mendapat jawaban, Bima duduk di samping Galuh dan mencoba untuk menganalisis masalah dari raut wajahnya. Tak ada yang salah, dia juga tidak terlihat kesakitan. Beda dengan Galuh biasanya datang bulan.


"Sayang, apa aku menyinggungmu?"

__ADS_1


"Tidak, tapi kamu tak jujur." Bima mulai berpikir keras. Kebohongan apa yang sudah ia buat, sampai membuat Galuh tak ingin bicara lagi dengannya?


"Sayang, maaf. Kalau aku berbohong, aku bohong apa?"


"Kapan aku keguguran?" Tatapan Galuh kembali sendu, bahkan mata indah yang sering di cium olehnya. Kini sudah mulai berair.


Sial, apa mamanya keceplosan? Bima tak bisa menjawab. Dia takut akan kesedihan istrinya, dia takut istrinya kembali seperti dulu. Kehilangan harapan.


"Maaf, maaf." Hanya satu kata itu yang Bima bisikan dalam pelukan. Galuh semakin meraung dan semakin kencang.


"Kenapa bisa, Bima? Kenapa aku tidak tau aku hamil? Aku pasti bisa pertahanin bayiku."


"Aku tau, Galuh. Tapi, aku dan kamu sama-sama tidak tau akan kehadiran adiknya Dewangga. Semua lalai, dan tidak mampu bertahan. Kami memutuskan untuk mengambil bayinya, karena...." Bima tak sanggup melanjutkan.

__ADS_1


Dia mengingat kembali kejadian itu. Dimana dengan tangannya sendiri, dia mengubur janin yang masih berupa gumpalan darah. Dia juga terpukul saat itu.


"Karena apa? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan? Apa rahimku yang bermasalah?" Galuh melihat Bima mengangguk tak berdaya.


Semua ini karena dirinya sendiri, Galuh merasa dia gagal menjadi ibu. Galuh lemas tak berdaya.


"Seandainya aku tidak mengenal Jovan, aku tidak akan pernah mengalami hal ini! Aku benci keluarga Arbi. Sasmita Arbi, aku benci kamu!"


Tatapan kosong Galuh malah membuat Bima takut. Dia lebih baik mendengar umpatan atau makian Galuh. Namun, istrinya ini tetap sadar dan tak terlihat rapuh seperti ini.


"Sayang, aku tau sekarang bukan waktu yang tepat untuk aku ngomong ini. Tapi, aku juga tidak mau kamu terus memikirkan bayi itu. Ayo kita liburan. Kita lupakan kesedihan ini, aku janji. Aku tidak akan lagi membuatmu hamil, aku akan suntik KB buat kamu."


Bima mencoba menghibur istrinya. Meski dengan tatapan kosong, siapa yang sangka Galuh akan menyetujuinya.

__ADS_1


__ADS_2