Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Makan orang


__ADS_3

Siapa sih, yang gak tau seberapa bucinnya Bima? Mungkin, orang akan mengira Galuh menggunakan kekayaan orang tuanya. jika saja tidak melihat kekayaan orang tua Bima.


"Beruntung lu punya laki setajir dan sebucin Bima. Iri gue Ama lu." kata salah satu teman di kelas Galuh.


"Biasa aja, lu juga beruntung kok punya si Didik. Orangnya keliatan cinta banget Ama lu." puji Galuh melihat seseorang di samping temannya.


"Dia? Dia mah gak ada apa-apanya di banding Bima. Dia mau makek doang, kagak mau bandain." jawab temannya ketus.


"Ya elu yang beg*o. Mau-mau aja di pakek belum di sah in. Entar putus, nyesel lagi." kata Galuh enteng.


"Ya elah Luh, kok gitu amat sih doanya? Yang baik, ngapa. Minimal, doain dia cepet nikahin gue gitu. Kan itu tujuan gue nyidir dari tadi." jelas temannya.


"Ngomong makanya, bukan nyindir buk." kata lelaki yang ada di sampingnya.


"Emang mau nikahin kalau aku ngomong?" tanya gadis itu polos.


"Iya, ayok." ajak Didik mengajak gadisnya.


"Kemana?" tanya teman Galuh semakin bingung.

__ADS_1


"KUA lah, masak ke hotel. yang ada gue kawinin lu bukan nikahin." jawab lelaki itu tetap menyeret kekasihnya.


Galuh hanya tersenyum melihat keduanya. melihat pemandangan ini, Galuh jadi kangen dengan Bima.


Galuh menunggu di depan kelas Bima, lumayan lama baginya. Setengah jam berdiri di depan pintu kelas.


"Sudah lama?" tanya Bima keluar lebih dulu karena melihat istrinya sudah kelelahan.


"Lama banget," jawab Galuh manja dan menjatuhkan diri pada suaminya.


Saat itu ada mahasiswa baru, pindahan dari luar negeri. Dia melihat Galuh sedikit jijik. Dia memang dilahirkan di luar negeri, tapi di besarkan dengan adat ketimuran.


"Siapa dia?" tanya Galuh yang seakan melupakan rasa lelahnya begitu saja.


"Sudah, jangan di ladenin. Mau di gendong?" tawar Bima meredakan amarah istrinya.


Galuh tetap merasa jengkel, dia berjalan mendahului Bima. Dengan bibir, mungkin bisa di ikat dengan benang.


Galuh tidak bisa marah atau ngambek terlalu lama pada Bima. pesona lelaki itu sungguh kuat, sampai-sampai dosen pun meliriknya.

__ADS_1


"Bima, bisa bantu ibu. Nanti?" tanya salah satu dosen yang usianya masih terbilang belia dari dosen lainnya.


"Bantu apa, Bu?" tanya Bima sopan yang memegang tangan Galuh.


"Nanti juga kamu akan tau, datang ke ruangan ibu. Ibu tunggu." bisik dosen itu menggoda.


Galuh tidak buta, dia melihat gelagat yang aneh pada dosen magang itu. Dia juga terlihat jauh lebih santai dari dosen-dosen senior.


Bima memiliki firasat yang buruk, tapi dia dosennya.


Galuh menyeret Bima ke kantin, di sana sudah ada Dewi dan Adnan. selain itu, ada seseorang yang tidak ingin di lihat Galuh. Mahasiswa itu duduk di meja yang sama.


Dia terlihat sangat akrab dengan keduanya. Jadi tidak ada alasan bagi Galuh untuk mengusir gadis itu.


"Lama amat sih?" tanya Dewi yang semakin akrab dengan keduanya.


"Ada urusan mendesak. Sayang, mau makan apa?" tanya Bima mengalihkan pandangan dari yang lain pada istri ga tercinta.


Galuh memandang tidak suka pada gadis itu. Tapi kembali lagi, dia siapa di kampus ini? kampus dan kantin merupakan tempat umum. namun begitu, Galuh tidak bisa menahan diri untuk tidak sebal.

__ADS_1


"Makan orang!"


__ADS_2