Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Senjata makan tuan


__ADS_3

"Bima...." teriak Galuh saat melihat suaminya pertama kali keluar dari kelas. Terlihat air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Bima langsung berlari dan memeluk istrinya.


"Ada apa?" tanya Bima bingung.


"Bim, aku jelek banget ya?" tanya mengejutkan Bima.


Wanitanya ini memang sudah mengabaikan wajahnya. Tapi, secara keseluruhan Galuh masih cantik meski tanpa make-up. "Siapa yang bilang? Kamu cantik, cantik sekali. Di tambah perutmu yang semakin besar, lucu sekali. Rasa pingin karungi aja."


Mendengar apa yang di katakan suaminya, Galuh kembali ceria. Dia bahkan menghapus air matanya dan memeluk suaminya.


Tinggi Galuh yang tak lebih dari pundak Bima, membuatnya terlihat seperti daun yang menempel saja.


"He, bumil! Kangen deh." Teman sekelas Galuh langsung berlari padanya saat melihatnya datang ke kampus.


"Aduh Shanti, baru seminggu yang lalu ke rumah. Sudah kangen aja, lucu kamu. Main aja ke rumah sama Yohanes, kan tau rumahnya." Galuh memeluk Shanti yang berlari padanya.

__ADS_1


"Aku malu, kalian ternyata kaya raya begitu." cicit Shanti yang di tertawakan oleh Bima.


"Hahaha, yang kaya itu orang tuaku sama orang tua Galuh. Lah, kami mah biasa saja. Tanya Anhar sama Dewi kalau enggak percaya, mereka orang kepercayaan kami." jawab Bima.


Dua orang yang terus ada di masa-masa sulit Bima dan Galuh. Kini sudah menjadi orang kepercayaan mereka berdua. Anhar sudah di percaya mengelola warung milik Bima yang semakin melebar. Dan Dewi di percaya Galuh untuk cafe miliknya yang juga terus bertambah jumlahnya.


"Astaga, kalian ini emang pelaku bisnis yang top. Ya sudah, lain kali aku ajak Yohanes main ke rumah kalian." ucap Shanti sebelum meninggalkan dua orang yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.


Menjadi pusat perhatian, mustahil tidak merasakan tatapan tajam para orang-orang julid. Tapi Bima dan Galuh cukup masa bodo dengan hal ini. menurutnya, mereka hanya orang iri yang tak mampu menyainginya.


"Mau makan bakso di simpang jalan itu, boleh?" Tanya Galuh yang terlihat sudah membayangkan betapa nikmat makanan berkuah segar itu.


"Boleh, tapi janji nggak boleh terlalu pedes."


Langkah keduanya meninggalkan kampus pun mendapat cibiran. Pasalnya, karena mereka memang terkenal lengket. Namun tak mendengar kalau keduanya sudah menikah, tapi sudah hamil besar.

__ADS_1


Ini mengusik ketenangan Rosalin. Kemesraan yang di pertontonkan Galuh, sungguh membuat panas dirinya. Dia yang terus mengatakan jika Bima miliknya. Dia pula yang tak sanggup menggapai Bima meski dalam mimpi.


Dalam benak Rosalin, ingin sekali dia mendorong Galuh. Membuatnya keguguran adalah tujuannya. Tapi, kalau Bima berada di sampingnya terus. Bagaimana caranya dia bisa mendorong Galuh?


Dalam kegalauan, Rosalin ternyata memiliki ide jahat untuk Galuh. Apalagi kalau tidak pura-pura menabraknya?


Rosalin yang berusaha mencari gara-gara pada teman di depannya. Dia menyiram lelaki yang duduk di depannya dengan air es di tangannya. Setelah itu, dia berlari sekencang-kencangnya ke arah Galuh dan Bima.


Rencana matang yang di siapkan Rosalin, pasti akan berhasil. Terlebih dia menabrak dari belakang, jelas mereka berdua tidak akan menyadari kehadirannya.


Rencana manusia boleh saja matang, tapi rencana Tuhan tetap sebagai penentu. Pada saat Rosalin sudah terlalu dekat dengan Galuh. Tiba-tiba Bima menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Itu semua karena ada kendaraan yang mendekat dari arah yang berlawanan. Karena salah perhitungan, akhirnya Rosalin lah yang tertabrak kendaraan tersebut.


"Rosaliiinn"

__ADS_1


__ADS_2