
Sungguh melelahkan sekali menghadiri acara pernikahan. Bima dan Galuh sudah kelelahan, sepertinya juga sudah tak kuat untuk naik ke lantai dua.
Sebenarnya agak aneh juga sih kalau di pikir-pikir. Menghadiri acara pernikahan saja bisa sampai nggak kuat naik ke lantai atas.
Bukan masalah acaranya, tapi rekan yang di bawa Bima. Fairus, dosen yang terkenal sangat anti dengan acara seperti ini. Tapi hari ini perdana dia datang ke pernikahan mahasiswanya.
Di sana jelas dia bertemu dengan beberapa dosen yang juga datang. Dan Fairus yang sepertinya tak nyaman dengan dosen-dosen lainnya yang terus mengajak ngobrol. Dia malah memanggil Bima.
Niatnya untuk minta bantuan, tapi ternyata dosen lainnya itu malah mengajak ngobrol dan minum bersama. Bukan di sana saja, puncaknya para dosen itu mengajak Bima dan Fairus kemana pun rekan sesama dosen pergi.
Di acara nikahannya sih sebentar, karena besok adalah weekend. Para dosen mengajak ke salah satu bar yang tersedia ruang VIP.
"Galuh, ambilkan aku minum dong. Tenggorokanku rasanya sedikit kering." Bima meminta pada Galuh yang ternyata sudah pulas di pangkuannya.
__ADS_1
"Galuh... Ah sudah tidur." Mau tidak mau Bima mengambil minum sendiri dan mengambilkan bantal untuk istrinya.
Ruang tamu Bima terbilang cukup luas, sofa pun bisa di pakai tidur untuk dua orang sekaligus. Jadi sangat aman bagi mereka tidur di sofa.
Yang tidak tidak aman hanyalah pintunya. Ya, pintunya lupa di tutup oleh Bima saat masuk tadi. Sungguh berbahaya sekali, bukan?
Bima meninggalkan Galuh ke dapur, dia ingin menghilangkan mabuknya. Tapi sayang, dia tidak menemukan apa yang ingin dia minum.
Sebuah tangan melingkar di perutnya. Bima tersenyum, istrinya ini memang sangat manja sekali. Baru saja dia di tinggal ke dapur, tapi malah bangun dan mencarinya.
"Apa Candra mengajarimu kurang ajar begini!" Bima langsung melepas dan melempar Vio ke sembarang arah.
"Aduh, kakak ipar! Aku lagi hamil, nanti kalau ada apa-apa sama anakku, apa kakak bisa ganti?" Vio menunjukkan senyum menggodanya. Karena itu Vio, jadi jangan harap Bima akan tergoda.
__ADS_1
Hanya Galuh yang membuatnya tergoda dan mengalihkan dunia hanya padanya. Bukan wanita seperti Vio yang entah bagaimana bisa datang ke rumahnya selarut ini.
"Mimpi! Jangan harap aku percaya dengan kehamilan palsumu. Katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan!" Bima sudah menyelidiki semua tentang Vio yang ternyata mempermainkan adik dan orang tuannya dengan kehamilan palsunya.
"Owh, kakak ipar sudah mencari tau tentang ku? Aku salut kakak bisa mendapatkan data seakurat itu. Padahal aku sudah memberi uang pada dokter itu tidak sedikit...."
"Nggak usah basa-basi sama aku! Katakan sekarang juga apa yang kamu inginkan!" Bima tak lagi ingin masuk ke dalam perangkap Vio.
Menebar cerita simpati yang hanya membuat orang mengikuti keinginannya. Benar Galuh yang tak terpengaruh dengan cerita itu.
"Hmm, aku mau semua yang di miliki oleh Galuh! Dia tidak pantas mendapatkan semua itu." Vio kembali mendekati Bima, keberanian ini juga tak hanya sekedar mendekat. Tapi Vio membuka kancing kemeja Bima.
"Bima!" Galuh teriak dari arah pintu dapur. Dia melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Galuh bahkan sudah menangis tak berkata apa-apa lagi. Ini yang membuat Bima ketakutan.
__ADS_1
Memang tak seharusnya dia memberi kesempatan Vio untuk menjelaskan semua padanya. Lihatlah sekarang, Galuh kembali menangis karenanya.