
Hari itu, terlihat sangat panas. Galuh keluar dari ruang kelas dengan mengibas-ngibaskan buku untuk menyejukkan diri. Tapi, bukankah di luar cuaca sangat mendung?
Bahkan, geluduk juga bertautan seakan membangunkan sang petir. Lantas, apa yang membuat wanita yang memiliki perut sedikit menonjol itu merasa gerah?
"Luh, Maya sudah melahirkan ya? Anaknya cewek apa cowok?" Tanya Santi yang keluar dari ruangan bersama Galuh.
"Cowok, hebat bukan, pak Fairus? Anaknya ganteng pula." jawab Galuh penuh semangat.
"Iya kah? Raya cantik, pak Fairus juga ganteng. Gak heran juga kalau anak mereka bisa ganteng." kata Santi lagi.
"Yang mengherankan itu, bagaimana bisa si Raya bisa dapetin si killer." kali ini bukan dari Santi atau Galuh. Tapi Yohanes, teman sekelas mereka.
"Iya juga ya, padahal Raya kan biasa-biasa saja anaknya." Santi setuju dengan keheranan Yohanes.
"Karena biasa-biasa saja lah pak Fairus bucin sama Raya. Asal kalian tau, pak Fairus itu orangnya sangat perhatian sekali sama Raya. Kalian mau jenguk? rumahnya di depan rumah gue, yuk bareng." ajak Galuh lebih bersemangat.
"Wah, boleh juga tuh. Yo, bawa mobil Lo gimana? Gue gak enak kalau harus nebeng Bima." Santi sangat paham pada pasangan bucin ini.
"Siap,"
Dari arah yang berlawanan, terlihat Bima berlarian ke arah Galuh yang masih setia mengipasi dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudah lama keluar kelasnya?" tanya Bima terengah.
"Baru saja. Sayang, aku mau makan es krim." kata Galuh manja.
"Gak," jawab Bima singkat.
"Kok jahat sih?" suara Galuh yang berada di depan Bima terdengar pilu.
Bima yang baru saja mengeluarkan kipas dari dalam tasnya pun kaget. Rupanya air mata Galuh sudah membanjiri pipinya.
"Kamu kenapa menangis?" Yohanes dan Santi pun kaget melihat teman seangkatannya tiba-tiba menangis tanpa alasan.
"Masa lu gak di kasih beli es krim aja udah nangis sih?" Yohanes yang seorang lelaki muda, tidak akan tau permintaan seorang ibu hamil yang tidak boleh di tolak.
"Oh iya, mereka ikut juga. Katanya naik mobilnya Yohanes." jawab Galuh girang.
"Ok, yuk."
Syukur, Galuh bisa di bujuk dengan mudahnya. Setidaknya, Bima lebih tenang jika Galuh makan makanan yang dia masak sendiri.
Perjalanan sepuluh menit dari kampus, mereka sampai juga di perumahan elit itu. Bima menghentikan mobilnya sebelum keluar dan membuka pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Kalian bisa parkir di situ, itu parkiran umum. Dan depan situ rumah pak Fairus." kata Bima menunjuk dua tempat pada Yohanes dan Santi.
"Oh itu, terus itu rumah lu?" tanya Yohanes penasaran.
"Ya, ini rumah gue. Mau mampir dulu apa langsung ke rumah pak Fairus?" tawar Bima.
"Mampir dulu deh, gue belum bungkus kadonya." kata Santi yang penasaran dengan kediaman suami dari temannya itu.
Sepulang dari kampus tadi, keempat orang itu memang sengaja mampir di toko perlengkapan bayi. Galuh membelikan beberapa pasang baju cowok, dan kedua temannya lebih memilih feeding set. Selain praktis, juga lebih mudah di bungkusnya.
Santi dan Yohanes masuk ke dalam rumah Bima dan Galuh. Keduanya terperangah dengan perabotan yang ada di dalamnya.
Ini bukan perabotan rumah tangga yang di miliki oleh pasangan anak muda belum berpenghasilan.
"Minum dulu ini, Galuh masih ganti baju dulu katanya." Kata Bima menyuguhkan minuman dingin dengan beberapa camilan sehat sepertinya.
"Gak apa, lagian ini anak bungkusnya juga rada lelet." jawab Yohanes yang memperhatikan cara kerja Santi.
"Hahahaha santai saja,"
Galuh dan Bima pindah ke kamar lantai bawah selama kehamilan. Bima tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan istrinya naik turun tangga.
__ADS_1
Kehamilan ini sangat di tunggu oleh Bima dan Galuh. Jadi, sebisa mungkin Bima dan Galuh menjaganya.