
"Bima, bagaimana Galuh? Apa dia isi?" tanya mama Bima saat baru sampai di rumah sakit.
Bima menggeleng lemas. "Asam lambung naik, gara-gara dia makan tidak teratur." jawabnya.
"Hais, apa punyamu sebegitu tak berguna ya? Bahkan, terong saja lebih berguna." ejek mamanya yang merasa betapa tidak beruntungnya dia memiliki anak Bima.
"Jangan buat malu keluarga Fedrik dong." timpal papanya.
"Zholimi aja Bima, jangan mikirin kondisi Galuh. Aku juga mau punya anak, tapi lihat Galuh. Kalau dia mau, Bima juga pasti mau jadiin."
"Pa, Ma. Biar bagaimana pun, Galuh juga berhak untuk mengambil keputusan. Kapan dia mau punya anak atau tidak. Lagian, kita masih dua puluh satu pa, ma. Sebentar lagi mau skripsi. Mau kehilangan lagi, gara-gara aku sama Galuh kelelahan?"
"Biar Galuh yang minta kapan mau punya anak. Papa sama Mama tenang aja, pasti akan gendong cucu"
__ADS_1
Bima menasehati orang tuanya tepat di depan kamar di mana Galuh di rawat.
"Janji ya, Mama maunya cucu dari Galuh. Bukan dari wanita lain. Mama begini juga buat kalian biar tambah mesra. Sekalinya berantem, kalian gak saling meninggalkan karena mikir anak. Mama tau, kalian itu saling mencintai begitu dalam. Tapi perpisahan itu banyak alasan terutama anak."
"Mama sabar menanti, asal kalian jangan pisah." penuturan orang tua memang kadang terdengar menakutkan. Tapi itulah kekhawatiran mereka.
Terlebih keduanya memiliki masa lalu yang berpotensi untuk pisah. Sungguh teramat besar sekali kekhawatiran sang orang tua.
"Jangan kePDan deh, dengan cara apa kamu buat Galuh bertahan? Berapa kali Jovan datang buat goda kalian? Galuh pergi juga meninggalkan kamu." cibir Mamanya.
"Bima bakal buat Galuh melupakan bagaimana dia di sakiti Jovan. Dan membuat Bima tempat paling nyaman buat Galuh."
"Buktikan! jangan ngomong aja. Aduh menantu ku tersayang, bagaimana kamu bisa sakit?" kata Mama Bima saat melihat Galuh duduk di kursi roda dan di dorong oleh suster.
__ADS_1
"Galuh cuma maag aja, ini sudah boleh pulang kok Ma. Sudah dong jangan liatin Galuh begitu..." Galuh merasa tidak enak kala kedua mertuanya melihat ke arahnya.
"Maag? Apa kamu di rumah Bima tidak di kasih makan? Pulang saja ke rumah Papa dan Mama kalau gitu. Papa bisa pastikan kamu makan enak setiap hari. Apa pun yang kamu inginkan, Papa dan Mama sediakan." tegas dan bernada rendah.
Papa Bima memang tak kalah gagahnya dari sang putra. Beliau juga terlihat jauh lebih elegan saat berbicara. Tutur katanya lembut dan penuh kasih sayang. Beruntung sekali Mama Bima yang menjadi Ratu di dalam rumah tangganya.
Sebenarnya tidak jauh beda dengan kehidupan Galuh. Jika mama Bima adalah Ratu, maka Galuh adalah tuan putri.
Ayah dan anak ini sebenarnya tidak jauh beda. Hanya saja Bima masih kalah saing dengan papanya soal pemahaman wanita.
Maklum, Bima baru pertama merasakan jatuh cinta dan itu dengan Galuh. Di bandingkan Papanya, Bima lebih keras sebagai anak. Dan terlihat arogan jika sudah mulai berani melawan.
Bima bisa mengatakan tidak tanpa menyunggingkan senyum. Sedang Papanya kadang masih tersenyum meski palsu. Itu semua demi menjaga perasaan orang lain.
__ADS_1