Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Aku mau


__ADS_3

Cinta Bima yang tengah di uji dengan keterbatasan Galuh. Dia merasa sedikit tersiksa.


Bukan tidak mau mengerti dengan keadaan Galuh. Hanya saja, Imron akan selalu meronta di dalam sana, kala melihat Galuh memakai baju dinasnya.


"Sayang, malam ini gerimis Lo. Memangnya nggak dingin pakai itu?" tanya Bima kala melihat baju Galuh yang seperti saringan tahu itu.


"Justru sekarang sedang gerimis, baby besarku. Aku malah berharap untuk hujan lebat dan aku kedinginan. Terus kamu.... Datang mendekat padaku, memelukku dan memberiku kehangatan..." Ujar Galuh dengan sedikit berkhayal kejadian apa yang dia inginkan.


"Jangan ngaco, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, sayang. Jangan macem-macem, nanti kalau sakit lagi gimana? Kamu kayaknya betah di rumah sakit, ya?" Bima segera mengambil selimut tebalnya dan membungkus istrinya lalu menidurkan di sampingnya.


"Hmmm, sayang. Aku bukan betah di rumah sakitnya. Tapi aku betah di pegang dokter Ilham." goda Galuh.


"Astaga anak ini, besok Ilham aku pindahin ke rumah sakit lain saja deh. Sekarang kamu tidur!" begitu posesifnya Bima pada Galuh. Tapi, istrinya itu selalu mencari perkara.


Bima mendekap Galuh yang berada di dalam selimut. Galuh merasa panas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Suaminya sungguh ketat padanya.


Malam ini hujan turun begitu deras, Bima yang awalnya tidur memeluk Galuh dari luar selimut. Di tengah malam dia masuk ke dalam selimut dan mencari kehangatan.

__ADS_1


Pagi ini masih begitu dingin, Bima bangun dan segera menyiapkan sarapan untuk istri dan anaknya. Mengawali hari dengan memasak untuk kedua kesayangan adalah rutinitas wajib bagi Bima.


Menu hari ini adalah sup sayur dengan nasi. Sedangkan untuk sang buah hati, Bima membuatkan sub krim nasi dan hati ayam.


"Pagi sayang-sayangku. Ayo bangun, sarapan dulu." Bima membangunkan Galuh dan Dewangga bersamaan.


Dua kesayangan tidur di kamar yang sama namun di ranjang yang berbeda.


Bima membangunkan putranya dengan lembut. Sedangkan Galuh berjalan malas ke arah kamar mandi. Dia masih sangat mengantuk, apalagi cuaca yang semakin dingin.


Galuh memakai baju tidur lebih normal yang ada di kamar mandi. Dia memakai piyama lengan pendek dengan celana panjang. Baju tidur ini cukup hangat di kenakan saat ini.


"Bima, aku mau yang hangat-hangat." Rengek Galuh dengan wajah yang masih basah.


"Iya, aku sudah buatin sarapan sub hangat. Mau makan di kamar apa di bawah?" Tanya Bima yang menggantikan popok Dewangga.


"Mau di bawah saja. Cium dulu." Galuh memajukan kepalanya mendekati wajah Bima.

__ADS_1


Cup


"Masya Allah, istriku cantik sekali kalau tiap baru bangun minta cium begini." puji Bima membuat wajah Galuh merah merona. Rasa panas juga terasa memenuhi pipi dan dadanya.


"Kamu bisa aja, padahal cuma cium aja. Belum ciicipok." ujar Galuh malu-malu.


"Astaga istriku, ya sudah sini kalau kamu mau." Bima menarik Galuh lebih mendekat padanya.


Sarapan pagi ini ternyata jauh lebih hangat dari sup sayur. Lebih nikmat dari sarapan apa pun.


Bima lupa karena terbawa suasana, dia juga melupakan keberadaan Dewangga yang masih terkantuk di sampingnya.


Yang Bima lakukan sekarang hanya membuat Galuh dan dirinya hangat saja.


"Jangan berhenti, Bima. Tapi jangan terlalu kencang, ini sakit." Ucapan Galuh seketika membuat Bima tersadar akan kondisi istrinya sekarang.


"Astaga, aku lupa sayang. Maaf"

__ADS_1


"Enggak apa-apa, cuma pelan-pelan saja. Aku mau."


__ADS_2