
Dewangga sudah tidak bisa menahan apa yang di perbuat oleh kedua kakak beradik itu. Dewangga sudah tau siapa pelakunya. Karena tidak ada yang lebih jail lagi selain kakak beradik itu.
"Mama sama Bu de ini bikin susah!" omel Dewangga di dalam kamar mandi.
Dewangga tidak tau, jika di luar kamar mandi sudah ada Utari yang berusaha untuk tidur. Badannya juga terasa panas, tapi dia sama sekali tidak ingin membuka bajunya. Mengingat Dewangga bisa saja mengusirnya dari kamarnya kapan saja.
"Aduh, jus apa sih yang di kasih Mama. Bukannya bikin seger, tapi malah bikin panas." Utari menggerutu di dalam selimut.
Dia merasa panas di sekujur tubuhnya. Tapi dia juga merasa dingin pas suhu AC nya di turunin.
"Utari, kenapa kamu tidur di sini?" Sepertinya Dewangga lupa dengan apa yang sudah terjadi tadi siang.
"Mama yang nyuruh aku ke sini. Katanya, kamar Utari pindah ke sini." jawab Utari seperti yang di katakan Galuh dan Maya.
"Aduh, ya sudah kamu tidur dulu kakak mau ganti ba... Ju. Baju kamu ini?" Dewangga kaget melihat sebuah kain teronggok di tepi tempat tidur.
"Hooh, panas, tapi dingin. Mama ngasih jus nya seperti di campur rawit. Panas."
"Halal." batin Dewangga saat dia mengetahui jika ibunya dan Bu De nya melakukan hal sedemikian rupa untuknya. Jadi, untuk apa di sia-siakan?
__ADS_1
Dewangga mengurungkan niatnya mengganti baju. Dia malah langsung ikut masuk ke dalam selimut bersama Utari.
"Kak, kakak nggak jadi ganti baju?" Utari merasa sangat canggung karena Dewangga hanya mengenakan handuk saat masuk ke dalam selimutnya.
"Nanti saja." Dewangga dengan santainya malah tidur di samping Utari tepat. Seperti yang dia lakukan sebelumnya. Perlakuan Dewangga sama sekali tidak ada yang berubah. Hanya Utari sedikit canggung saja.
"Kak, kata Mama Maya, besok kita di suruh libur sehari lagi. Mama Maya yang akan bilang ke pak Arif langsung." Bisik Utari pada Dewangga yang sudah tengkurap di sampingnya.
"Mama bilang gitu? Apa kamu tau kalau kita sudah menikah?"
"Tau, Utari juga tau kalau ini malam pertama kita. Tapi, Utari sudah...."
"Sstt, jangan banyak omong. Tidur, sebelum kakak tiduri kamu."
Dewangga hanya bisa melihat adik angkat yang saat ini ingin sekali dia angkat dan pindahkan ke atasnya.
...****************...
Pagi-pagi buta, Utari sudah berada di dapur. Mencari makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Bagaimana bisa dia merasa lapar pagi-pagi begini? padahal, Utari lebih sering menghindari sarapan.
__ADS_1
"Kamu cari apa?" tanya Dewangga yang sudah segar dengan rambut basahnya.
"Kak, aku lapar."
"Sana kamu mandi dulu, kakak bikinin sarapan hangat untuk kamu." Dewangga masak untuk Utari? ini kali pertama lelaki berumur delapan belas tahun itu masuk ke dapur untuk masak.
Utari tau, kakaknya yang satu ini tidak pernah masuk dapur. Tapi, bagaimana bisa dia mengambil alih untuk membuat sarapan?
Utari tidak berani membantah, hasilnya, dia mandi pagi-pagi buta. Seperti perintah Dewangga padanya.
Selesai mandi, Utari merasa lelah sekali. Hampir semalaman, dia tidak tidur sama sekali. Itu semua ulah dari Dewangga.
Laki-laki yang tengah menunggu Utari di meja makan itu ternyata memiliki energi yang tidak bisa di remehkan. Bisa-bisanya dia tidak memberi jeda untuk Utari beristirahat selama tiga jam berturut-turut.
Utari sudah tidak tahan lagi, dia mengantuk, lelah. Rasa laparnya ternyata tidak bisa membuatnya terus terjaga. Utari tidur, dia tertidur sofa dekat meja rias di kamar Dewangga.
"Astaga, sudah tidur."
Dewangga memindahkan Utari ke tempat tidur. Dia tidak tega untuk membangunkan istri kecilnya.
__ADS_1
Cup
"Selamat tidur, maaf sudah membuatmu kelelahan."