
Beberapa semester telah Aku lalui bersama Tiwi tanpa adanya gangguang dari Tika lagi. Tentunya itu membuat hubungan Aku dan Tiwi menjadi aman dan damai tanpa adanya pihak ketiga sebagai penghancur sebuah hubungan.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Pada saat ini Aku sudah memasuki semester akhir, dimana pembuatan skripsi merupakan sebuah momok mengerikan bagi para mahasiswa tingkat akhir. Revisi demi revisi harus di jalani dengan penuh kesabaran. Di tambah lagi fisik yang kuat sangat dituntut dalam mengerjakannya, bagaimana tidak!! Para mahasiswa akan sering begadang untuk mengerjakan tugas akhir itu agar bisa mempercepat proses wisuda nantinya.
Selama Aku melakukan penelitian tentunya selalu ditemani oleh Tiwi, kekasih yang selalu menemaniku di saat senang maupun susah. Tidak pernah sedikitpun Aku melewati kegiatan penelitianku tanpa di temani Tiwi. Kebetulan Tiwi sudah lebih dulu melakukan penelitian di bandingkan Aku. Selama Tiwi melakukan penelitian pun Aku selalu ada di sisinya. Dari penelitian awal yang berulang kali gagal namun karena adanya Aku yang selalu menemaninya, Tiwi tetap bersemangat hingga penelitian yang Dia lakukan selesai sesuai keinginan. Hanya proses pembuatan skripsi saja yang belum dilakukan Tiwi. Karena dalam proses pengetikan skripsi, Tiwi berkata ingin membuatnya bersamaan denganku saja. Agar nantinya bisa bersama - sama meraih gelar sarjana.
Pagi ini Aku berniat ingin melanjutkan penelitianku yang sudah Aku kerjakan lebih kurang 3 bulan lamanya. Aku harus pergi menuju Fakultas karena pengecekannya harus dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari.
*Tuuuuuuuuttt..... Tuuuuuuuuuttt* suara panggilan telepon.
"Assalamualaikum wi" ucapku setelah panggilanku terhubung dengan Tiwi.
"Waalaikumsalam, iya rel" balas Tiwi dengan nada yang terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Kamu baru bangun tidur ya?" tanyaku karena mendengar suara Tiwi serak.
"Hehehhe.. Iya rel, kamu tau aja ya" ucap Tiwi sambil tertawa.
"Ihhhh.. Kok jam segini baru bangun sih sayang?" tanyaku semabari menggoda Tiwi bermaksud agar Tiwi bisa bersemangat untuk bangkit dari tidurnya.
"Masih jam 7 kok, emangnya Kamu bangun jam 11" jawabnya jengkel.
"Iya deh Aku salah" balasku mengalah."Oh iya wi, temenin Aku ke Fakultas untuk ngelanjutin penelitian Aku ya" ajakku walaupun pada hari sebelumnya Aku selalu mengajak hal yang serupa.
"Jam berapa sayang?" balasnya dengan nada manja yang begitu khas dan selalu membuat hatiku senang.
"Duuhh duuhh... Jam 9 aja gimana?" tanyaku sambil tersenyum malu karena ucapan manja yang di sampaikan Tiwi.
"Oke deh, nanti Aku kabari aja kalau sudah siap" jawabnya ingin mengakhiri percakapan.
"Oke sayang" balasku singkat dengan penuh semangat.
"Assalamualaikum" ucap Tiwi sebelum menutup panggilan.
"Waalaikumsalam" balasku menandakan panggilan antara Aku dan Tiwi di pagi ini telah berakhir.
Bergegas Aku membersihkan kamarku yang terlihat seperti kapal pecah. Karena hanya ada Aku di sini, tentu saja tugas membersihkan kamar adalah tanggung jawabku. Mulai dari melipat selimut, melipat kasur, menyapu kamar, hingga mencuci piring - piring yang kotor Aku lakukan lebih kurang selama 1 jam.
Aku lihat pada ponselku waktu sudah menunjukkan pukul 8.15, Aku bergegas menuju ke kamar mandi tanpa harus beristirahat terlebih dahulu, karena Aku sudah berjanji kepada Tiwi akan berangkat pukul 9. Tiwi sangat tau kalau Aku merupakan orang yang sangat tepat waktu, sebab jika Dia terlambat maka moodku akan sangat mudah berubah dan Tiwi sangat memahami itu.
Tubuh yang tadinya penuh dengan keringat sehabis membereskan kamar, sekarang sudah terasa begitu segar setelah mandi. Langsung saja Aku mengenakan pakaian yang sebelumnya sudah Aku siapkan. Sesekali Aku mengecek ponselku siapa tau Tiwi mengirimku pesan untuk memberitahu kalau Dia sudah siap untuk berangkat. Benar saja, tidak lama setelah Aku mengecek ponsel yang dari tadi Aku cas, tiba - tiba ponselku berdering.
*tinnoooonngg tinooongg* suara pesan masuk.
"Sayang, Aku sudah siap" pesan yang Aku tunggu - tunggu akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Oke sayang, Aku ke sana sekarang" balasku.
Semuanya sudah selesai dan Aku bergegas menuju ke kosannya Tiwi. Kunci motor yang sengaja Aku letakkan di atas lemari membuatku tidak sulit untuk mencarinya jika sewaktu - waktu Aku membutuhkannya, karena Aku merupakan orang yang sangat pelupa.
Dengan kecepatan sedang, Aku menelusuri jalanan yang sudah hampir 4 tahun Aku jajaki hingga Aku sudah sangat hafal dimana saja terdapat lobang di sepanjang jalan sangkin terbiasanya. Sekitar 10 menit perjalanan di saat hampir sampai di depan kosannya Tiwi Aku tidak melihat Tiwi yang biasanya sudah menungguku di depan, tentu saja hal tersebut membuatku sedikit heran.
"Katanya tadi sudah siap. Kok belum ada ya?" gumamku sambil terus berjalan ke arah kosannya Tiwi yang sudah sangat dekat.
Setelah Aku sampai di depan kosannya Tiwi, Aku melihat ke arah dalam siapa tau Tiwi sedang duduk di bangku depan kosnya. Namun Aku tidak menemukannya, langsung saja Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans berwarna hitam yang sudah mulai memudar itu.
*Tuuuuuutttt....ttuuuuuuutttt....ttuuuuuuu*
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk" ucap operator itu.
Aku mencoba meneleponnya sekali lagi siapa tau Tiwi sedang ada keperluan mendadak atau hal lainnya.
*Tuuuuutttt...ttuuuuutttt*
"Halo rel, maaf ya. Aku habis dari kamar mandi" ucap Tiwi tergesa - gesa.
Tanpa ucapan salam Tiwi langsung saja mematikan panggilan dan membuatku merasa sedikit bingung.
Tidak lama setelah Aku menghubunginya, Tiwi akhirnya keluar dari kamar kosnya.
"Aduuhh... Maaf ya rel, Aku tadi sakit perut" ucapnya terengah - engah.
"Tadi temen sebelah kamarku membawa oleh - oleh dari kampungnya sejenis baso gitu, tapi pedes banget" jelasnya kemudian tanpa Aku suruh, Tiwi langsung naik ke atas motorku.
"Owh gitu" Aku mengangguk."Terus sekarang gimana wi?" Aku mulai merasa khawatir.
"Sekarang kayaknya sudah baikan rel" jawab Tiwi yang sudah berada di jok belakangku bersiap untuk berangkat.
Sembari melirik ke arah jam tanganku, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 9.05.
"Sudah siap berangkat wi?" tanyaku dengan ancang - ancang seperti seorang pembalap.
"Sudah sayang" balasnya kemudian memelukku dengan erat yang membuatku semakin bersemangat untuk melakukan penelitian.
Aku memacu motorku dengan kecepatan sekitar 50 km/jam namun pelukan yang dilancarkan Tiwi seperti sedang menaiki motor dengan kecepatan 200 km/jam. Begitu erat seperti tak akan pernah dilepaskan lagi. Namun hal itu membuatku sangat senang dan tersenyum sendiri selama di perjalanan.
Sekitar 10 menit waktu tempuh menuju Fakultas, akhirnya kami sampai dengan selamat. Aku segera memarkirkan motor tidak jauh dari lokasi dimana Aku melakukan penelitian.
"Yok wi" ajakku Tiwi selesai memarkirkan motorku
Dengan sebuah anggukan Tiwi mengikuti langkahku yang tidak begitu cepat. Karena Aku tau Tiwi tidak mampu mengikuti langkahku jika Aku berjalan dengan cepat.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Di tempat Aku melakukan penelitian, Tiwi hanya memperhatikan semua yang Aku kerjakan. Di sana juga ada beberapa orang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian juga, namun terlihat sangat fokus hingga Aku tidak ingin mengajaknya berbicara dan membuatnya terganggu.
"Wi, kalau Kamu lapar beli roti aja dulu di kantin sebelah" ucapku melihat Tiwi yang terlihat bingung duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu bekas itu.
"Iya rel, nanti aja deh kayaknya. Perut Aku masih belum laper" balasnya sembari memperhatikan sekitar.
"Oke deh, kalau gitu Aku lanjut ya" ucapku melanjutkan kegiatanku.
Sekitar 2 jam Aku melakukannya dengan begitu fokus tanpa adanya percakapan antara Aku dan Tiwi. Semua pekerjaan Aku lakukan secara berhati - hati karena semuanya harus mendetail sehingga semua yang Aku kerjakan nantinya akan berhasil sesuai dengan apa yang Aku harapkan.
Dengan senyum yang begitu sembringah, Aku merasa begitu lega karena penelitian yang Aku kerjakan ternyata berhasil. Tentu saja Tiwi yang berada dekat denganku juga merasakan hal yang serupa.
"Wi, penelitian Aku berhasil, besok Kita sudah bisa mengerjakan skripsi dengan tenang" ucapku dengan senyum bahagia.
"Selamat ya rel" ucap Tiwi tersenyum karena tau penelitianku sudah selesai dengan lancar.
"Terima kasih wi" balasku kemudian beranjak dari tempat penelitianku itu.
"Sama - sama rel" balasnya singkat kemudian mengikutiku berjalan menjauhi pekarangan yang sudah sangat bosan Aku kunjungi.
Karena terlalu sibuk mengerjakan penelitian Aku sampai lupa kalau Aku belum makan sejak tadi pagi. Perut yang sudah keroncongan yang membuatku sadar kalau sudah waktunya untuk di isi.
"Rel, kamu lapar ya?" tanya Tiwi mendengar suara perutku yang mulai keroncongan.
"Heheh..iya wi" Aku merasa malu karena tau kalau Tiwi mendengar suara perutku.
"Kita makan dulu aja kali ya, kebetulan Aku juga udah lapar" ucap Tiwi mengelus perutnya yang sedikit berlemak itu, namun terlihat begitu menggemaskan di mataku.
"Makan dimana nih wi?" tanyaku.
"Makan nasi goreng aja deh rel, di tempat biasa" ucap Tiwi tidak mau ribet.
"Hayuk gas" ucapku bersemangat.
Langsung saja Aku dan Tiwi pergi menuju warung nasi goreng langganan kami yang tidak jauh dari kampusku. Sesampainya di sana, Aku segera memesan 2 porsi nasi goreng spesial yang memang merupakan best seller di warung ini. Nasi goreng dengan bumbu rahasia yang belum pernah Aku temui sebelumnya, dengan rempah yang begitu kaya membuat cita rasanya terasa enak saat masuk ke dalam mulut.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Setelah selesai makan, Aku bersama Tiwi berniat ingin pergi menonton bioskop di salah satu Mall yang berada di tengah kota. Karena waktu masih menunjukkan pukul 1 siang, tentunya masih banyak waktu yang dapat kami habiskan bersama. Kebetulan hari ini sedang tayang Film bergenre horor yang sudah Aku tunggu - tunggu sejak 1 bulan lalu.
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...