Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Janji


__ADS_3

Malam yang indah untuk dua insan yang baru menikah inj berjalan dengan cepat. Rasanya, baru beberapa saat saja mereka tidur. Kokokan ayam sudah membangunkan mereka.


"Ayam, apa tidak bisa kalau kamu berkokok sepuluh menit lagi? Aku masih ngantuk." gumam Utari yang masih terpejam namun sudah duduk.


"Kamu bisa tidur lagi, nanti aku bangunkan kalau sarapan sudah mateng." Kata Dewangga yang seperti duplikat Bima memperlakukan Galuh selama ini.


"Tidak kak, aku mau nyapu." Masih dengan mata tertutup, Utari berusaha membawa badannya ke kamar mandi.


Brr airnya dingin sekali. Rupanya, air di komplek ini memang dingin kalau pagi. Inilah alasan Utari tidak mau mandi pagi kalau tidak ada air hangat.


"Kakak yang ngepel nanti. Kamu cukup sapuin saja pelan-pelan." Dewangga memang sudah memutuskan untuk tidak memanggil pelayan di rumahnya.


Dia merasa, keberadaan pembantu, sama saja dengan memberikan jalan orang ketiga masuk. Padahal, Utari sudah berharap menjadi nyonya muda belia yang di layani oleh pembantu rumah tangga belasan jumlahnya.


Sapu-sapu, Utari membersihkan ruang tamu dan sekitarnya. Dia juga tidak lupa membersihkan halaman. Manisnya, Utari sudah mau bangun jam setengah enam pagi. Ini sungguh pencapaian yang sangat luar biasa sekali.

__ADS_1


Utari selesai nyapu rumah dan halaman, Dewangga selesai membuat sarapan.


"Kamu mandi dulu sana, aku mau ngepel baru mandi." Dewangga membawa alat pel saat Utari masuk ke dalam rumah.


"Ok suamiku." godaan sepele yang membuat Dewangga bersemangat pagi-pagi. Bahkan, terdengar alunan lagu dari mulutnya.


Kehidupan rumah tangga muda yang begitu harmonis, bukan? Inilah kehidupan pernikahan yang di idamkan para anak muda.


Menikah dengan lelaki tampan, kaya raya dan menjadikannya ratu dalam rumahnya. Ibu dan ayah mertua yang tidak cerewet dengan keputusan mereka berdua. Di tambah dengan suami yang terus berada di sisinya. Sungguh sempurna sekali kehidupan seperti ini.


Tapi, kenyataan kehidupan seperti itu hanya ada di dalam novel. Kehidupan Utari dan Dewangga masih baru di mulai. Jadi masih tidak ada yang tau akan apa yang terjadi di depan.


"Kakak lupa kalau hari ini ada presentasi untuk prakarya kelas. Ayo kita berangkat, kita sarapan di sekolah saja." Kata Dewangga menggandeng Utari.


"Hmm, sayang sekali. Padahal sarapannya sepertinya enak." gumam Utari yang merasa kecewa tidak bisa mencicipi masakan sarapan pertama buatan Dewangga untuknya.

__ADS_1


"Maaf, sayang. Besok kakak buatin yang enak, janji."


Mobil Dewangga melesat meninggalkan komplek perumahannya. Dari arah dalam rumah, Galuh melihat mobil putranya yang melintas sangat kencang. Ingin rasanya dia marah saat itu juga. Bagaimana bisa Dewangga membawa mobil begitu kencang.


Sedangkan dia tidak sendiri. Dia bersama menantu dan putri tersayangnya. Apa tidak apa-apa anak nakal itu membawa mobil begitu kencang? pikiran Galuh tidak tenang.


"Pa, ayo ikuti Dewangga. Mama tidak tenang, dia bawa mobilnya kenceng sekali. Aku khawatir."


"Memangnya kenapa dia bawa mobil kenceng-kenceng?"


"Mana mama tau, sekarang ayo kita susul aja ke sekolahnya. Kalau sudah sampai sekolah dengan selamat. Kita pulang lagi." Kekhawatiran Galuh sebagai ibu memang tidak bisa di cegah.


Terutama dia melihat langsung putranya yang mengendarai mobilnya kencang-kencang begitu.


Bima, sosok lelaki yang tidak ingin istrinya kecewa pun tidak ada pilihan lain selain menurutinya.

__ADS_1


"Janji langsung pulang kalo sudah lihat di sekolah, kan?"


"Janji."


__ADS_2