Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Raya kritis


__ADS_3

Pagi itu, hujan turun sangat deras. Usia kandungan raya yang sudah menginjak delapan bulan. Membuat Fairus sedikit lebih siaga lagi.


 


Perjalanan wisata ke puncak waktu itu, selalu di nantikan oleh Galuh. Raya yang saat ini sudah tidak menjadi tetangganya. Membuat Galuh selalu merindukannya.


 


Rindu ingin bergosip, rindu ingin bercanda dan yang paling penting. Galuh rindu mendengar rengekan Raya yang mengeluh akan mahasiswi suaminya.


 


“Raya, kamu di mana? Aku merindukanmu.” Galuh menelepon Raya karena sangat merindukannya.


 


“Galuh, raya tadi terpeleset di kamar mandi. Sekarang dia di ruang operasi, melahirkan paksa.” Fairus terdengar parau.


 


“Raya gimana keadaannya sekarang? Aku akan segera ke sana.” Galuh tidak membutuhkan jawaban.


 


Dia hanya mendengar alamat rumah sakit Raya di rawat. Setelah mendapatkan alamat rumah sakitnya, Galuh langsung berangkat sendiri ke sana.


 


Galuh mengabaikan peringatan suaminya, yang melarangnya mengendarai mobil sendiri. Membawa Dewangga, Galuh juga tidak berpikir panjang saat itu.


 


“Bagaimana keadaan Raya saat ini?” tanya Galuh saat bertemu dengan Fairus.


 

__ADS_1


“Keadaannya kritis. Makanya di lakukan operasi.” Ucap Fairus terbata-bata.


 


“Aku tidak percaya, Raya pasti selamat.” Galuh sudah mulai menangis.


 


Ponsel Galuh terus berdering sejak tadi di dalam mobil. Bima menelepon Galuh tidak henti-henti, setelah mendapat kabar istrinya mengendarai mobil sendiri.


 


“Papa, mama di rumah sakit.” Dewangga dengan fasih mengatakan jika mamanya di rumah sakit.


 


Bima menjadi semakin frustasi, setelah dia merangkai kejadian demi kejadian sejak pagi. Apakah dia melakukan kesalahan? Tidak, seharusnya Bima tidak melakukan kesalahan. Tapi, kenapa Galuh senekat itu melanggar janjinya sendiri?


 


 


Apa yang di katakan Dewangga dan juga pelayan villa, di satukan begitu saja oleh Bima. Dia membayangkan kejadian demi kejadian yang tidak ia inginkan.


 


Menerobos beberapa kali lampu merah, Bima akhirnya sampai juga di rumah sakit dalam waktu paling singkat, lima belas menit.


 


“Dewangga, mana mama?” Bima berteriak memanggil putranya yang menunggunya di pintu lobby.


 


“Ada di ruang operasi.” Anak usia dua tahun, mana ngerti menjelaskan. Dia hanya mengatakan apa yang dia tau.

__ADS_1


 


Bima yang panik, langsung menggendong Dewangga mencari ruang operasi. Bima sedikit berlari, mair matanya juga sudah mengembung di pelupuk matanya. Membangun tanggul merah yang jika tersenggol sedikit sudah pasti akan jebol.


 


Langkah Bima sedikit melemah, ketika dia melihat sosok Galuh dan Fairus yang menunggu pintu ruang operasi. Siapa yang ada di dalam? Jika Galuh masih terlihat sama seperti tadi pagi, mondar-mandir di depan pintu operasi.


 


“Galuh.” Panggil Bima.


 


“Bima.... Huhuhu Raya... Raya kecelakaan....” ketegangan yang sejak tadi Bima rasakan, seketika pundaknya melemah.


 


Bima bernapas lega, tapi seketika kembali tegang. Walau tak setegang sebelumnya. “Kecelakaan bagaimana? Dia mengendarai mobil sendiri?” tanya Bima.


 


“Bukan, dia terpeleset di kamar mandi. Dia kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang di alaminya.” Jawab Fairus yang saat ini lebih tegang dari pada Bima tadi.


 


“Kenapa kamu tidak bilang sebelum ke rumah sakit? Terus dokter belum mengatakan apa-apa lagi?” setelah mengomeli Galuh, Bima langsung bertanya pada Fairus.


 


“Dokter langsung melakukan tindakan, setelah saya tanda tangan surat operasi melahirkan paksa.” Jawab Fairus masih dengan keadaan tegang.


 


“Semoga Raya dan bayinya selamat.”

__ADS_1


__ADS_2