
Menu hari ini cukup dengan kepiting dan beberapa gram kerang. Bima tidak ingin istrinya punya penyakit kolesterol.
"Wah, lezatnya makan malam hari ini. Hmmm, aku mau gelar tikar di halaman belakang." Galuh melihat menu yang di buat Bima pun memikirkan satu tempat makan yang pasti cocok.
Taman belakang yang langsung berhadapan langsung dengan pesisir. Taman yang di tumbuhi rumput hijau ini memang sangat cocok untuk latar makan makanan menu seafood.
"Ya cukup kamu bawa tikar saja, sayang. Aku yang bawa mejanya." Ucap Bima saat melihat istrinya hendak mengambil meja pendek yang ada di dekat kolam renang.
Mendengar apa yang di katakan Bima, Galuh cukup menurut. Dia segera menggelar tikar dan menyalakan lampu taman. Bima membawa meja, Galuh masuk lagi ke dalam rumah. Dia mengambil lilin dan bunga untuk di letakkan pada meja makan malam ini.
"Wah, kita dinner di tepi pantai. Ah, aku harus ganti baju. Sayang, ayo ganti baju dulu biar vibenya ngenak begitu."
Galuh memakai dress bunga-bunga warna biru tipis berukuran besar di bawah lutut dengan ikat pinggang. Sedangkan Bima memakai kemeja longgar dengan motif serupa milik Galuh. Di padukan dengan celana pendek warna putih.
Bima cukup tampan dan cool dengan pakaian santai seperti itu. Rambut acak-acakan karena angin yang berhembus terasa sedikit kencang. Dada bidang yang terekspos, membuat Galuh semakin lapar saja.
__ADS_1
"Tampanku, kamu menggodaku?" Kata Galuh melihat Bima dengan tatapan lapar.
"Memangnya, aku tidak cukup menggoda setiap harinya?" Jawab Bima dengan pertanyaan yang jelas tidak bisa di jawab oleh Galuh.
Dia cukup malu, karena apa yang di katakan Bima benar. Bagi Galuh, setiap hari, suaminya ini juga menggoda. Apalagi kalau baru mandi, masih mengenakan handuk. Jujur, Galuh selalu ingin menyentuh ABS milik suaminya.
Tapi kali ini, Bima seperti menyerahkan diri. Dada dan perut yang seakan memanggil hasrat Galuh untuk menyentuhnya.
"Kamu suka di sini? Kita jemput Dewangga. Pasti dia akan senang main bola di sini." Kata Bima yang berniat membuat gawang di dua ujung taman.
"Ya, kita cukup menikmati hari-hari indah ini di sini beberapa hari saja."
Bima menyajikan makanan di piring Galuh. Dia juga mengupas udang untuk Galuh. Bima cukup gentle dengan memberikan segala kemudahan bagi istrinya.
Menikmati kerang, udang dan kepiting di tepi pantai memang sangat spesial. Tapi, siapa yang tidak semakin bernafsu, jika saat makan juga di suguhi dada yang menggoda?
__ADS_1
Percayalah, saat makan hari ini, Galuh merasa sangat lama sekali. Dia ingin segera menikmati sajian utama malam ini. Dada bidang dengan perut rata dan keras. Uh, sungguh sangat menggoda kewarasan Galuh.
"Makan yang benar, aku menyimpan ini untukmu nanti." Bima seperti cenayang. Bukan, dia seperti paranormal, membaca pikiran Galuh tanpa melihatnya.
Bima dengan cepat mengancing kancing kemejanya sampai atas. Padahal, dia tadi membuka tiga kancing dari atas. Sungguh menyesakkan bagi Galuh sang penikmat dada bidang milik Bima.
"Pelit banget sih suamiku. Awas saja nanti malam, aku habiskan." Kata Galuh bersungguh-sungguh dan segera menghabiskan makan malamnya.
"Habiskan, Luh. Habiskan, siapa pun yang minta jangan di kasih." Bima membelai rambut Galuh mesra.
Inilah alasan Bima tetap menjaga bentuk tubuhnya. Walau dia tidak banyak memiliki waktu untuk berolahraga. Tapi, dengan menggendong Galuh dan Dewangga, di jadikan sebagai olah raga dadakan.
"Bener ya, awas aja kalau sampai di bagi. Walau hanya melihat pun, aku tidak sudi berbagi." Kata Galuh posesif.
"Iya, ayo cepat habiskan. Aku beli kue untuk kamu." Bima tau apa yang selalu di inginkan dan di sukai istri dan putranya.
__ADS_1
"Baiklah."