
Tatapanku tertuju pada langit - langit kamar dimana aku dirawat. Kembali aku teringat kejadian siang tadi disaat tiwi benar - benar marah kepada tika. Melihat amarah tiwi yang terlihat begitu memuncak, membuat aku semakin percaya kalau tiwi begitu mencintaiku. Ternyata dibalik sikap tiwi yang sangat lembut dihadapan ketika bersamaku, tetapi dia sangat kejam disaat marah.
Cukup lama aku melamun, aku merindukan disaat aku selalu berduaan dengan tiwi. Mengingat dia yang begitu manja disaat ingin meminta sesuatu, " duuuhhh.. Aku sangat merindukannya" aku membathin. Disela - sela lamunanku, ibu dan tiwi ternyata sudah selesai melaksankan sholat maghrib.
*tok...tok...tokk* suara pintu.
"assalamualaikum" ucap ibu dan tiwi kompak.
"waalaikumsalam, udah balik aja bu?" ucapku menoleh kearah ibu dan tiwi.
"ngapain juga lama - lama nak" jawab ibu sembari merapikan mukena yang beliau gunakan tadi.
"gimana keadaan kamu rel? " ucap tiwi mendekatiku dan duduk dibangku kecil yang tersedia dikamar itu.
"alhamdulillah mulai berangsur wi. Kamu tadi habis sholat udah doain aku belum?" aku menatap tiwi dalam dengan penuh rasa cinta.
"tentu dong, kamu selalu ada dibalik doa - doaku rel" gombal tiwi sembari mengelus rambutku dan membuat wajahnya begitu dekat denganku hingga membuatku salah tingkah.
Melihat perlakuan tiwi yang begitu lembut terhadapku, membuat detak jantungku berdebar tidak karuan. "Sungguh beruntung aku memilikimu. Aku yang hanya orang biasa, mampu mendapatkan hati wanita sebaik dan secantik kamu" aku membathin memandangi Tiwi. Cukup lama aku melamun.
"relll" tiwi memanggilku yang sedang melamun.
"ehhh...ii. Iii.. Iyaa wi?" aku terkejut.
"kok melamun, entar kesurupan lo" ucap tiwi terheran - heran melihat aku melamun.
"engg...enggak kok wi. Aku cuman terpesona aja ngeliat wajah kamu yang cantik ini" ucapku jujur.
__ADS_1
"ehheemmm eheeeemmm" ibu mendeham mendengar aku yang sedang merayu tiwi.
"ibu kenapa? Kurang minum ya?" ucapku tersenyum sambil bertatap - tatapan dengan tiwi.
"enggak kok rel" ucap ibu berjalan menuju kearahku. "kalian yang akur ya nak, jangan berantem - berantem lagi" ucap ibu menasehati kami berdua.
"iya bu, aku sama tiwi ga bakalan berantem - berantem lagi kok" ucapku memandangi ibu yang terlihat menahan sedih terlihat jelas dari raut wajahnya.
"iya bu" timpal tiwi memegang tangan ibu dan memandang ibu dengan wajah sendu.
"kamu kenapa nak?"ucap ibu mengelus rambut tiwi.
"tiwi masih merasa bersalah atas kecelakaan yang terjadi sama farel bu" lirih tiwi perlahan kembali menjatuhkan air matanya.
"sayaaaang... kan udah ibu bilang sama kamu kalau semua ini sudah takdir dari Allah, jangan menyiksa dirimu sendiri ya" ibu memeluk tiwi yang masih duduk diatas bangku dan menyandarkan kepala tiwi di perutnya.
"udah udah, semuanya sudah terjadi" ibu memotong pembicaraan tiwi yang sudah mulai ngawur
"iya wi, kamu ga salah kok. Jangan nangis lagi ya" ucapku pelan.
Suasana didalam kamar itu begitu haru, sungguh aku begitu kasihan terhadap tiwi yang merasa sangat bersalah atas kecelakaanku ini. Namun aku sama sekali tidak menyalahkannya, melainkan ini semua memang salah dan kelalaianku sendiri.
Setelah lama kami saling berbincang dan mengeluarkan air mata yang sedari siang tadi tidak ada henti - hentinya. Aku , tiwi dan juga ibu memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Namun ternyata tiwi sudah tertidur disamping ranjangku dengan beralaskan tangannya sendiri.
"wiii....wiii...." aku membangunkan tiwi yang tertidur disamping ranjangku dalam posisi masih duduk pada kursi kecil itu.
"hhmmmmm...iya rel" tiwi terbangun sambil mengucek - ngucek matanya.
__ADS_1
"kamu tidur disana aja sama ibu wi" aku melihat kearah ibu yang sudah dari tadi rebahan diatas karpet yang dibawa oleh tiwi.
"aku masih mau dekat kamu rel" ucap tiwi kembali merebahkan kepalanya disamping tubuhku dengan tangannya erat menggenggam tanganku.
"nanti pinggang kamu sakit kalau tiduran kayak gini wi. Aku ga akan kemana - mana kok." ucapku merasa iba melihat tiwi.
"hmmm...iya deh rel. Kamu tidur juga ya, jangan lama - lama tidurnya, jaga kesehatanmu" ucap tiwi seperti seorang ibu.
"iya sayang" ucapku halus.
Tiwi menoleh kearah ibu dan melihat ibu sudah tertidur kemudian kembali melihat ke arahku.
"Yaudah , selamat tidur ya sayang" ucap tiwi kemudian mencium keningku dengan cepat.
Aku terpaku sesaat ketika tiwi menyentuh keningku dengan bibir tipisnya namun tetap menarik dimataku.
"iiii...iiii...iya sayang" balasku gugup dengan suara berat.
Kemudian tiwi menuju kearah karpet dan tertidur disebelah ibu. Aku masih tidak percaya berani - beraninya Tiwi menciumku disaat ibu masih ada disini walaupun dengan keadaan ibu sudah tertidur. Bisa saja ibu berpura - pura tidur dan melihat kejadian yang begitu mengejutkan itu. Hal itu sungguh membuatku panik.
"duuhh tiwi, kamu selalu saja memberikanku kejutan untukku" gumamku sembari tersenyum tipis memandangi tiwi yang sudah tergeletak diatas karpet.
Malam ini terasa sangat indah, walaupun penuh dengan air mata. Namun aku tetap bersyukur masih dikelilingi oleh orang - orang yang begitu mencintaiku.
Aku terus memandangi tiwi dan juga ibu yang terlihat sudah mulai meraih alam mimpi mereka masing - masing. Beberapa saat Tiwi sudah tertidur pulas. Terlihat begitu cantik disaat tiwi menutup matanya apalagi melihat jilbab yang dia gunakan sudah terlepas dengan rambut panjang hitam pekat begitu pun wajahnya yang begitu putih dan mulus, hingga membuatku menelan air liur. Setelah puas memandangi kecantikan tiwi, aku mulai merasa mengantuk.
Karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 11.00, aku mencoba untuk memejamkan mata supaya disaat esok terbangun, tubuhku terasa lebih segar kembali. Perlahan aku menuju alam mimpi, hingga pada akhirnya aku tertidur tanpa terbangun sedikitpun hingga pagi menjemput.
__ADS_1
Bersambung...