Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Mengerikan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bima sudah meninggalkan rumah. Dia bahkan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Galuh. Kali ini Bima mengenakan baju formal, lengkap dengan dasi dan jasnya.


Di kantor, Bima sengaja lewat lobi. Dia di sambut oleh para pendemo yang ingin gajinya di bayarkan sekarang juga.


"Saya bisa memberikan gaji kalian dua kali lipat, sekarang juga. Tapi, bisakah kalian meninggalkan perusahaan saya? Untuk selamanya!"


Perkataan Bima biasa saja, nada bicaranya pun tak sampai mengeluarkan uratnya. Tapi para pendemo langsung terdiam seribu bahasa.


Bahkan, kentut pun mereka tak berani mengeluarkannya. Ada apa ini? Jelas mereka tidak berani berkomentar. Karena mereka tidak hanya akan mendapatkan gaji dua bulan. Tapi juga menyatakan berhenti bekerja saat ini juga.


Perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan ini memberikan gaji yang lumayan tinggi di bandingkan perusahaan lain.


Jadi, mereka sedikit kesulitan menentukan pilihan.


"Kenapa kalian malah diam? Cepat katakan aspirasi kalian!"


"Kamu, memangnya kamu karyawan perusahaan ini?" Bima baru menyadari seseorang yang sepertinya seorang provokasi. Setiap karyawan melihat ke arah orang itu.


Kalau di ingat-ingat, sebelumnya tidak ada karyawan yang memiliki paras tampan bak artis ini deh. Lantas, siapa orang ini? Apa benar dia hanya provokator yang di kirim orang untuk mengacaukan perusahaan?


"Maaf pak Bima, saya siap di potong gaji selama tiga hari. Asal tidak di pecat, saya juga bersedia menerima sangsi apa pun. Karena saya sudah melakukan kesala..."

__ADS_1


"Ya, kembalilah bekerja dengan baik. Aku beri kamu libur sampai Senin." Bima memotong pembicaraan karyawannya. Dia tau apa yang menjadi kegalauan mereka. Bahkan, dari cara karyawannya memandang orang tadi pun sedikit aneh. "Siapa lagi yang masih mau bekerja di sini? Kalian di persilakan meninggalkan perusahaan dan bekerja lebih giat lagi Senin depan. Ingat, kalian berada dalam pengawasan saya langsung!"


Satu persatu meninggalkan lobi, hingga tinggal seorang yang memprovokasi. Bima tersenyum dan mendekati orang tersebut dengan gagahnya.


"Mau sampai kapan berdiri di sana? Siapa yang menyuruhmu, katakan sekarang di sini sebelum aku mengirim mu ke sangkar besi."


"Ti... tidak ada yang menyuruhku."


"Jangan bohong!" Teriakan Bima begitu nyaring. Sekuriti dan front office yang berjaga terkaget.


Ini pertama kali mendengar Bima dengan suara yang menggelegar membentak orang. Dan ini kali pertama pula Bima menunjukkan kemarahannya di perusahaan.


"Vi... Vio!" sang provokator pun mengaku dengan nada bergetar.


Plak


Bima langsung menampar Vio yang baru saja datang bersama dengan Candra.


"Kak, ada apa ini?" Tanya Candra kaget, sedangkan Vio masih merasa pengar di pipinya.


Tamparan Bima begitu keras di pipinya. Sampai-sampai Vio tak merasa apa-apa dalam beberapa saat.

__ADS_1


"Tanyakan pada istrimu yang sok polos ini!" Bima menarik provokator itu ke hadapan Vio dan Candra.


"Berapa kamu di bayar? Katakan dengan jelas dan akui semua perbuatanmu." Bima tak lagi menahan emosinya saat ini.


"Vio....?"


"Aku bisa jelaskan.... Ini semua salah...."


"Aku tidak butuh penjelasan. Aku hanya akan bertahan setelah anak ini lahir saja. Untuk kedepannya, tergantung padamu. Kalau kamu bisa berubah, aku pasti akan bertanggung jawab. Tapi, kalau masih sama saja.... Maaf, aku lebih memilih anak saja." Candra melepas pegangan Vio dengan kasar.


Candra meninggalkan Vio dan menyusul kakaknya.


Vio sendiri langsung menampar orang suruhannya. Dia begitu marah saat ini, mau bagaimana pun. Posisinya terancam sekarang.


"Apa kau menggunakan otakmu? Atau, otakmu itu hanya pelengkap dalam kepalamu saja? Ini yang dua puluh juta, tinggalkan kota ini sekarang juga!"


"Vio, aku bekerja di ibukota. Karierku mulai menanjak saat ini. Uang dua puluh juta ini tidak ada artinya sama sekali!"


"Jauh lebih tidak ada artinya kamu tinggal di kota ini, bodoh! Yang tengah kamu singgung itu keluarga Fedrik. Mau sebagus apa kariermu, kalau kak Bima sudah angkat suara. Saat itu juga kamu akan menjadi gelandangan. Sekarang, selamatkan saja nasibmu, terima ini dan pergilah. Jangan katakan aku tidak mengingatkanmu, aku bahkan sudah membekalimu!"


Vio melenggang masih dengan keangkuhan dan kesombongannya masuk ke dalam gedung. Galuh, dia mendengar setiap kata yang terucap oleh Vio. Dia tidak menyangka akan melihat sekali lagi kebusukan dari adik iparnya.

__ADS_1


"Mengerikan."


__ADS_2