
"Dewa, semua sudah kumpul dan bukan mama juga papa saja yang merasa kamu aneh belakangan. Kamu kemana?" tanya Bima karena putranya menghilang selama satu Minggu penuh.
"Kamu tidak menyesal, kan?" pertanyaan Fairus, jelas membuat keluarga besar sedikit khawatir.
Jika jawaban Dewangga menyesal, maka pernikahan ini lebih baik di batalkan saja. Walau hanya sedetik, yang jelas Utari sudah menyandang status janda. Tidak kenapa jika dia tidak perawan, karena dia sudah janda.
"Tidak, bukan itu alasannya. Tapi, ada orang yang mengirimiku video Utari hari itu. Aku mencarinya...."
"Kamu gagal?" itu yang membuat Bima semakin murka.
"Ya, maaf."
"Video apa, Ngga? Tun...."
"Tidak. Biar aku dan orang itu saja yang tau. Video ini tidak pantas untuk di lihat orang lain." Dewangga menundukkan kepala.
Utari, dia mendengar dari jarak yang tak jauh pun meneteskan air mata.
"Siska." Gumam Utari.
"Patra?" Dewangga langsung kembali murka.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Dewangga ingin mencari orang yang di maksud oleh Utari. Di saat itu pula Utari menahannya.
"Sudah, kak. Aku tidak mau lagi membahas ini, aku malu."
"Tapi dia harus mendapat balasan yang setimpal. Kakak yang akan menghukum dia dengan cara kakak. Kalau kamu tidak mau melaporkannya ke polisi."
Jika saja, Dewangga mengetahui siapa dalang peristiwa ini lebih awal. Dia pasti sudah membuat Patra meringkuk dalam jeruji besi dalam waktu yang lama.
"Biar aku yang seret dia ke polisi. Beraninya dia melakukan itu pada putriku."
"Papa, tolong. Aku malu." hanya itu saja yang terus di sebut oleh Utari.
Semua diam, Arif, yang merupakan kepala sekolah pun harus mengambil tindakan. Patra, dia harus tau siapa siswa yang bernama Patra itu.
"Kak Narendra, kakak janji jangan bahas masalah ini lagi ya. Kalau kakak nyari dia, aku tidak mau sekolah lagi." Dewangga langsung sakit kepala di saat itu juga.
Dia mengajak bicara istrinya, tapi Narendra lah yang di tempeli oleh Utari. Bagaimana bisa Utari melakukan hal itu? Dewangga yang merasa tidak di anggap pun masuk sendiri ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Astaga, kenapa rasa jasnya ini sangat panas tiba-tiba?
Sebelum berdiri tadi, Dewangga menyempatkan minum jus buatan mamanya. Bukannya menyegarkan, tapi malah terasa panas membakar badannya.
__ADS_1
"Lebih baik aku mandi saja. Ini benar-benar panas."
Hari masih sore, Utari masuk ke dalam kamarnya. Dia meminta tolong pada Maya dan Galuh untuk melepas hiasan rambut yang berupa mahkota itu.
Membersihkan makeup yang di tempelkan padanya di detik-detik terakhir. Utari terlihat sangat cantik dengan riasan pengantin Jawa.
"Nak Utari, sekarang kamar kamu bukan di sini lagi. Tapi di kamar kak Dewangga, tidur bareng sama kakak kamu. Besok jangan sekolah dulu, biar Mama Maya yang izinkan ke pak Arif. Kamu istirahat lagi sehari, ya." Maya, mewakili Galuh untuk membujuk menantu kecilnya.
"Tapi, Ma. Kak Dewa suka ngomel kalo Utari tidur di sana." Utari mengingat Omelan Dewangga terakhir kali dia tidur di kamarnya.
"Mulai sekarang, kalau kamu tidak tidur sana. Mama yang akan mengomel, kalo kakakmu itu ngomel. Biar Mama yang ganti marahin, ok sayang?" Galuh ikut membujuk Utari untuk tidur di kamar putranya.
"Ya sudah deh. Tapi Utari ganti baju dulu, kebayanya nggak enak di pakek."
"Pakek daster ini saja, sayang. Mama belikan yang baru." Galuh memberikan daster yang biasa di pakai oleh anak-anak remaja masa kini. Berwarna putih, Utari pasti terlihat lebih cantik dan juga imut secara bersamaan.
"Gambarnya bebek, makasih Ma."
"Minum jus ini dulu nak, biar seger. Mama sama Mama Maya, keluar dulu."
Galuh dan Maya keluar dari kamar anak kecil itu dengan senyum lebar. Mereka berdua langsung di sambut dengan suami-suami di depan pintu.
__ADS_1
"Dua bungkus untuk siapa saja?"