
Setelah sekian lama tidak masuk sekolah. Dewangga kembali masuk, pun dengan Utari. Narendra yang sudah mulai hari tenang, dia tidak masuk sekolah untuk mempersiapkan hari akhirnya di sekolahan.
"Calon imam Nimas kemana aja? Kok lama nggak masuk sekolah. Calon imam Nimas, sakit?" Seperti biasa, Dewangga sudah di tunggu dan di sambut oleh gadis cantik yang periang. Nimas.
Dewangga kali ini tidak mengatakan apa-apa seperti biasanya. Bahkan kata menjijikkan atau menjauhlah, tidak di katakan oleh Dewangga.
Lelaki itu malah membelai pipi Nimas dengan perasaan campur aduk. Bagaimana bisa Dewangga yang biasanya dingin padanya. Tiba-tiba membuat hati Nimas makin cenat-cenut begini.
"Aduh, Dewa...." Dewangga langsung melepaskan tangannya.
Dia sadar, sudah menjadi pusat perhatian di tengah kelas. Tapi Dewangga tak mempedulikan hal itu lagi. Seakan dia mau menegaskan, jika Nimas milikku.
Padahal, yang di rasakan Dewangga saat ini hanya kekacauan saja. Dia sadar, tidak bisa memiliki gadis ini. walau begitu, ingin rasanya untuk pertama dan terakhir kali. Dewangga mengatakan jika hatinya sempat bertaut untuk Nimas.
"Kak.... ak, apa aku mengganggu?" Utari, untuk pertama kalinya dia menunjukkan diri sebagai adik Dewangga.
__ADS_1
Salah waktu, mungkin itu yang cocok di sematkan untuk kejadian ini. Tangan dan tatapan Dewangga masih terpaut pada Nimas.
"Utari, ada apa?" Seketika itu Nimas terlupakan dan berganti pada fakta adanya Utari.
"Oh, tidak. Aku.... aku...."
"Aku kenapa?" Dewangga yang selalu dingin pada siapa pun, termasuk Nimas. Kenyataannya, jika berhadapan dengan Utari, nada suara Dewangga langsung melembut dan sangat penuh kasih sayang.
"Ah, tidak, kak. Aku kembali ke kelas saja," ujar Utari yang merasa canggung berada di antara kakaknya dan Nimas. Gadis yang selama ini selalu ada bersama Dewangga.
"Kakak, aku cuma mau minta uang. Papa tadi nggak ada di rumah, terus nggak nitipin uang bulananku di bibi." Malu-malu, Utari akhirnya menyampaikan apa yang menjadi tujuannya mencari Dewangga.
"Oh, ini dompet kakak. Bawa saja, nanti kakak cari kamu kalau mau istirahat." Kata Dewangga dengan memberikan dompet miliknya.
Nimas melihat peluang, dengan sigap, dia langsung melancarkan aksinya.
__ADS_1
"Ah, tidak usah. Dewangga, aku sudah buatin bekal buat kamu...."
"Ah, Nimas. Mulai hari ini dan detik ini, tolong jangan lagi mempedulikan aku. Jangan bikin bekal lagi untuk aku, jangan lagi terlalu dekat dengan aku. Karena aku dengan sadar tidak bisa membalas perasaan suka kamu padaku." Dewangga, dengan tegas memperingatkan Nimas tepat di depan Utari.
Utari tau alasannya kenapa, itu semua karena Dewangga sudah menikah dengan dirinya. Bagaimana Utari tidak bersemu merah, wajahnya? Dia di nomor satukan oleh suaminya yang selalu dia panggil kakak.
"Kenapa? Apa aku membuat kesalahan?"
"Tidak, tapi aku tidak mau kamu memiliki harapan lebih padaku. Dan tolong panggil aku nama, selayaknya teman biasanya."
Kejam, hanya itu yang ada di benak Nimas. Dewangga berhati dingin, ternyata bukan isapan jempol belaka. Karena Nimas sendiri yang mengalaminya sekarang.
"Apa yang kamu lakukan selama ini, bisa di sebut PHP? Jujur, aku seperti memiliki harapan saat kamu makan dan mengantarku pulang...."
"Maaf, itu kesalahanku." Air mata Nimas tidak bisa di kendalikan lagi. Setetes demi setetes, kini sudah sederas hujan di musim hujan.
__ADS_1