
Dewangga mengalah dan mandi di kamar anak. Setelah mandi, masih memakai handuk. Dewangga mencoba untuk kembali ke kamar untuk mengambil baju ganti.
Benar saja, pintu sudah terbuka dan Utari sudah memakai baju cantik walau itu baju rumahan saja. Utari duduk di depan meja rias, dia mempercantik diri walau tidak ada siapa-siapa selain Dewangga.
"Cantiknya istriku. Harum, lagi." Melihat istrinya yang sudah segar, Dewangga benar-benar tidak bisa membiarkan begitu saja.
"Jangan cium-cium aku, sana cium kak Nimas!" Utari menghapus paksa jejak ciuman Dewangga yang tertinggal di pipinya.
"Astaga sayang, harus berapa kali kakak mengatakannya? Kakak bahkan tidak sekali pun berpikir akan ada hubungan selain pertemanan dengannya. Apalagi sampai menjadikan dia beneran istri kakak. Aduh, nggak bisa bayangin jadi apa kakak nanti."
Dewangga bingung harus bagaimana lagi meyakinkan istrinya ini. Bagaimana bisa dia terus mengungkit apa yang sudah terjadi? Padahal, Dewangga sendiri tidak sekali pun berpikiran lebih dari sekedar teman.
"Tapi kakak kan lebih memilih nganterin kak Nimas waktu itu." Utari tiba-tiba menjadi sendu.
Padahal, dia merasa, jika saat itu adalah kesempatan langka baginya. Naik motor gede milik kakak angkatnya, karena Narendra nganterin temannya.
Tapi sayang seribu kali sayang. Dewangga malah mengantar Nimas pulang. Dan hasilnya, Utari berakhir di gudang belakang sekolah dengan keadaan tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1
"Maaf, seandainya kakak tau akan terjadi hal itu. Tidak mungkin kakak akan mengantar Nimas."
"Apa kakak juga menyalahkan ku seperti yang lain? Aku menikah dengan kakak, tapi...." Utari tidak kuasa menahan air mata yang bergejolak ingin keluar.
"Kakak tidak keberatan dengan apa yang sudah terjadi padamu. Asal itu kamu, kakak akan tetap cinta kamu." Dewangga membasuh air mata Utari dan mencium kedua kelopak matanya.
"Sekarang katakan, siapa yang menyalahkan mu. Kakak akan membuatnya tidak bisa bicara lagi."
"Sudah, biar saja. Aku lapar." Utari langsung mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Dewangga mendapat hukuman yang jauh lebih parah dari pada tiga Minggu skorsing.
Dewangga selalu memasak makanan yang ingin di makan Utari. Biar bagaimana pun, membuat istrinya senang di tempat makan adalah salah satu kebahagiaan Dewangga.
"Kak, aku mau makan cake. Kakak bisa belikan?" Tanya Utari di sela-sela dia menggigit tulang ayamnya.
"Motor ada di rumah papa, terus pintu rumah juga di kunci sama kamu. Di mana kakak bisa keluar...."
"Nggak usah banyak alasan, kakak ku sayang. Sekarang banyak aplikasi pesan antar. Apa kakak tidak berpikir itu?" Utari sudah tak berselera lagi untuk makan apa-apa.
__ADS_1
Mood-nya kembali rusak karena Dewangga. Nasi masih tersisa di piring, ayam di depannya juga masih belum habis. Tapi selera makan Utari sudah hilang begitu Dewangga beralasan.
Utari mencuci tangannya, dia tidak lagi ingin makan. Utari masuk ke dalam kamar, walau tidak sampai mengunci pintu, dia malah membanting pintu.
"Apa yang salah? Sayang...." Dewangga mengikuti Utari masuk ke dalam kamar.
"Sayang, jangan ngambek dong. Ada apa sebenarnya ini?" Dewangga membelai rambut Utari yang tengah merajuk.
"Kakak masih tanya ada apa? Padahal aku hanya mau makan cake. Tapi kakak banyak sekali alasannya. Apa aku tidak pantas makan cake?" Utari sudah menangis.
Menangis?
"Astaga sayang, maaf. Kakak akan belikan kamu segerobak cake kalau cuma mau makan cake aja. Masalahnya, pintunya masih di kunci."
"Pesen dulu, baru nanti aku kasih kuncinya. Beneran segerobak? Tapi aku mau makan cake yang di toko kue mahal, bukan kue gerobakan." rengek Utari.
"Iya, beli!"
__ADS_1