Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Galuh cemburu


__ADS_3

Pagi hari Galuh bangun sudah berada di dalam kamar dan tidur di dalam pelukan hangat. Siapa lagi kalau bukan Bima sang suami tercinta.


Galuh menggeliat ingin bangun karena merasa air memburu akan keluar. Namun, siapa yang sangka jika pelukan lengan besar itu semakin mengerat. Tidak bisa melawan, Galuh hanya bisa berbisik meminta. “Aku sudah mau ngompol.”


Mata Bima terbuka melihat wanita di sampingnya itu menahan diri. Bima bangun dan langsung menggendong Galuh ke kamar mandi. Tunggu, bukannya Bima lagi mendiamkan dirinya?


“Kamu tidak marah sama aku?” kata Galuh setelah menyelesaikan panggilan alam pagi hari.


“Kalau lama-lama mendiamkan kamu, bukan menghukum kamu, tapi aku menyiksa diri.” kata Bima menyandarkan kepalanya di pundak Galuh.


Tersenyum adalah hal yang paling alami di lakukan oleh siapa saja yang merasa malu atau senang. Dan itu di lakukan oleh Galuh saat Bima mengatakan dirinya tersiksa mendiamkan dirinya. Bima yang terlihat semakin manja itu malah tak segan menunjukkan rasa penyesalan dirinya. Kalau di pikir-pikir padahal yang membuat salah adalah Galuh, tetapi kenapa Bima yang tersiksa?


Begitulah cinta, dia buta akan apa yang di lakukan oleh orang yang paling ia cintai. Bima menggendong kembali Galuh ke tempat tidur. Berbaring berdua dengan kemesraan yang semakin terasa di antara keduanya. Kemarahan dan kecemburuan yang di rasakan Bima kemarin hanya sebuah pemicu saja.


“Kamu gak ke kantor?” tanya Galuh pada Bima yang kali ini tengah berada di pelukan nya.


“Sudah ku selesaikan kemarin, sekarang gak ada jam kuliah juga. Aku mau sama kamu saja seharian, gak mau keluar.” kata Bima semakin mengerat kan pelukan nya.


“Baiklah, tapi aku lapar sekali.” tak ada alasan Galuh untuk tidak membalas bermanja pada suaminya yang memang sangat memanjakan dirinya.

__ADS_1


“Tunggu di sini, aku masak kan sarapan. Kamu mau makan apa?”


“Aku mau makan nasi goreng sama susu dingin.” jawab Galuh yang memang tidak menyukai susu hangat atau panas.


“Baiklah sayang, tunggu ya.” bima keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk sang istri.


Harus di ingat, kalau sekarang barus jam setengah lima subuh. Sungguh gila sekali Galuh menyuruh suaminya yang baru pulang jam setengah dua dini hari.


Siapa yang suruh, kan Galuh tidak tau jam berapa suami bucinnya itu sampai rumah. Jadi bukan salah Galuh juga, bukan?


Tak butuh waktu lama untuk membuatkan nasi goreng untuk istrinya, karena sudah tersedia semua bahannya. Pelayan yang sudah bangun dari jam empat sudah memasak nasi lebih dulu sebelum sholat subuh.


Nasi goreng dengan susu dingin sudah berada di depan Galuh di atas tempat tidur. Dengan meminum jus buah naga dan sepotong roti isi, Bima menemani istrinya sarapan romantis di atas tempat tidur.


“Aku kenyang sekali, terima kasih sayang… sarapan nya sangat spesial sekali.” kata Galuh mencium pipi Bima.


“Sama-sama, sudah sana cuci muka dan gosok gigi dulu. Aku mau bawa ini ke dapur dulu.” bima keluar membawa bekas makanan Galuh ke dapur.


Mungkin orang akan mengatakan jika Bima itu bodoh, tetapi lelaki itu tidak peduli. Kenapa? Dia lebih baik jujur pada diri sendiri dari pada tersiksa karena sok tak peduli pada cintanya.

__ADS_1


Menuruti apa yang di minta Bima, Galuh kini sudah mandi juga mengganti bajunya dengan daster ala anak muda berwarna putih bergambar beruang. Serta ia juga sudah merapikan tempat tidur dan menyiapkan baju ganti untuk sang suami untuk mengganti baju.


Karena hari masih sangat pagi, Bima membawa Galuh duduk di balkon dengan menikmati secangkir teh hangat menyambut matahari terbit. Kesempatan yang sangat langka bukan? Berdua menghabiskan waktu menanti matahari mengawali hari.


Terima kasih Jovan, karena kamu sudah muncul kembali dan membuat hubungan Galuh sama Bima semakin erat dan romantis saja. Inilah bedanya cinta sesungguhnya dengan yang hanya membesarkan ego namun mengatasnamakan cinta. Sungguh klise sekali bukan?


“Nyonya, tuan. Ada orang yang mencari Tuan di bawah.” pelayan itu sungguh tidak tau waktu memang ya?


“Ya, suruh tunggu dulu.” Bima sepertinya tau siapa yang datang pagi-pagi buta menghancurkan momen dirinya bermesraan dengan sang istri.


Bima meninggalkan kamar di ikuti oleh Galuh yang juga penasaran pada tamu yang datang pagi-pagi seperti ini. Di luar dugaan, gadis cantik dengan mengenakan rok kerja yang sangat pendek dan kemeja pres body. Merasa tidak senang, Galuh langsung menggandeng lengan Bima seakan menunjukkan keberadaan dirinya.


“Sudah kamu bawa semua yang aku minta semalam?” tanya Bima membuat Galuh membulatkan matanya.


Berarti semalam suaminya berdua dengan wanita seperti ini? Melihat dada yang menonjol saja sudah bisa di pastikan kalau ukuran gadis itu jauh lebih besar dari milik Galuh. Di tambah kulit mulus terawat dan bibir merah seperti habis makan darah itu menunjukkan jika gadis itu keluar masuk salon ternama.


Galuh merasa tidak senang, dia semakin mengerat kan pegangan tangannya pada lengan sang suami. Bima paham apa yang di rasakan oleh istrinya, karena dia jauh lebih parah jika menyangkut orang baru.


“Ya sudah kamu tinggalkan saja semuanya, nanti di antar sama mas Abram. Kamu boleh pulang, gak usah ke kantor kasih waktu buat suamimu yang lagi sakit.” kata Bima sontak membuat Galuh melepas pelukan  tangannya.

__ADS_1


“Eh, kok di lepas?” tanya Bima.


“Gak enak ada bawahan kamu.” kata Galuh meninggalkan ruang tamu.


__ADS_2