
"Bima, istri kamu ini terlalu manja. Masa pegang piring saja sudah jatuh. Kan, mendingan kamu terima saja perjodohan dulu. Sifa jauh lebih baik dari ini. Dia di didik oleh Tante Rani dengan ajaran yang baik. Kamu juga nggak usah merasakan di buang dari rumah oleh keluarga besar."
"Pintu ada di sebelah sana, silakan keluar dari rumah saya." Bima tak melihat ke arah bibinya sama sekali. Mendengar ocehan yang menyakiti Galuh, tidak di seret oleh Bima saja sudah untung. Tapi bibi itu masih tak berhenti mengoceh.
"Aduh, makin-makin saja kamu ya Bima. Bibi pikir, kamu sudah lebih dewasa dari Bima yang dulu. Tapi sekarang kok makin berani sama orang tua. Nggak lama pasti kamu juga akan bangkrut." bibinya keluar dari rumah Bima dengan membawa kekesalan dalam hati.
Ibu Bima merasa bersalah, karena dialah orang yang menyilakan masuk kakaknya. Ini juga karena hanya ingin menghormatinya sebagai saudara tertua. Tidak lebih.
"Bima, maaf."
"Bukan mama yang salah." Bima langsung menggendong Galuh naik ke lantai dua.
Setelah kejadian itu, Bima sama sekali tidak membiarkan istrinya turun dari tempat tidur. Bahkan makan siang pun Bima sendiri yang mengambilkan.
"Bim, biar mama yang..."
"Nggak usah, ma. Mama istirahat saja, Galuh pasti nggak enak hati juga kalau mama yang ambilin. Nggak usah di pikir masalah tadi, bukan karena mama juga." senyum Bima mengembang untuk membuat ibunya tenang.
Papa Bima datang di waktu yang tepat. Dengan alasan lapar, papa Bima membawa istrinya untuk keluar dari rumah putranya.
Kini hanya tinggal Bima dan Galuh berdua saja di rumah. Ini membuat Galuh bosan, karena Bima hanya menemani raganya saja. Karena jiwanya tengah berada di dalam pekerjaan.
"Bim, pegang perutku dong. Aku capek di tendang sendiri." rengek Galuh duduk di pangkuan Bima yang duduk di sofa kamarnya.
__ADS_1
"Maaf, ya sudah aku temani kamu." Bima menutup laptopnya dan memanjakan istrinya.
Mulai dari membelai rambut, perut hingga memijat kaki Galuh yang terlihat sedikit membengkak. Kehamilan Galuh sangat di nantikan keduanya, jadi Bima tidak sedikitpun membuat istrinya lelah.
Bima membawa Galuh senam hamil di setiap minggunya. Bima bahkan menyewa instruktur yoga untuk melatih Galuh agar tetap bugar. Di sela-sela kesibukan kuliah dan kerjaan, Bima selalu menyempatkan diri untuk mengajak istrinya berwisata. Atau hanya sekedar berkuliner, demi memberikan sebuah kenyamanan bagi istrinya.
"Bim, rujak jeruk limau enak kayaknya." Galuh meminta rujak jeruk limau? Itu bisa di bayangkan rasa masamnya.
"Kamu yakin?" tanya Bima meyakinkan, dan Galuh mengangguk pasti. "Tapi itu sungguh masam, sayang."
"Kalau gitu, mau minta di beliin gelang aja deh." Bima semakin nggak ngerti apa yang di mau istrinya. Dari limau yang masamnya nggak ketulungan, kini beralih ke gelang. Nggak ada hubungannya.
Tapi, karena Bima sangat sayang istri. Dia pun membawa Galuh ke salah satu toko miliknya.
"Aku mau pilih yang ini, boleh?" Dari sekian banyak gelang yang modelnya sangat bervariatif. Pilihan Galuh jatuh pada sebuah lingkaran simple dengan lingkaran kecil di tengah yang bermahkotakan butiran berlian putih.
"Boleh, mau berapa?" jawab Bima masih setia berada di samping Galuh yang kembali memilih perhiasan.
"Satu saja, tapi aku mau nambah cincin."
Bima kembali menyuruh karyawannya untuk menunjukkan semua koleksinya yang ada di toko ini. Toko Bima banyak, tapi ini toko paling besar di antara yang lainnya. Jadi pasti memiliki koleksi lebih lengkap dari yang lainnya.
Lagi-lagi pilihan Galuh tertuju pada si polos namun dengan berlian warna biru yang cukup besar. "Lihat cincin itu, sayang. Mirip punya Kate Middleton bukan sih? Aku juga mau."
__ADS_1
Benar, cincin bertahtakan blue safir. Memang terlihat sangat polos, lebih ke elegan. Namun harganya sungguh di luar dugaan.
"Berapa itu mbak?" tanya Bima lembut.
"Ini murah pak, Sekitar lima miliar saja."
lima miliar di bilang murah? Sebenarnya, berapa sih gaji karyawan di toko perhiasan Bima? Bahkan Galuh saja merasa itu masih sangat mahal. Tapi karyawannya mengatakan ini murah?
"Nggak bisa kurang dikit saja, mbak? kurangi sebiji aja telurnya, boleh?" Galuh yang merasa ini kemahalan pun menawarnya.
"Aku mau dua ini, hitung dan bayar pakai ini." Bima mengeluarkan satu kartu hitam miliknya.
"Ini mahal, aku nggak mau. Kita beli yang lain saja, kalau harga sepuluh juta aku masih mau. tapi, kalau lebih. Aku nggak mau." Galuh meletakkan cincinnya dan meminta kembali kartu hitam itu.
"Perhiasan sama dengan investasi, sayang." ucap Bima masih sabar menghadapi Galuh.
"Investasi tu yang menghasilkan, bukan malah merugikan."
"Menghasilkan kok, kamu terlihat makin cantik dan aku semangat mencari uang. Selama kamu suka, aku nggak keberatan memberikannya untuk kamu." kata Bima masih tersenyum.
Tapi, Galuh malah di luar dugaan. Dia meletakkan tangan di pundak Bima, serta berbisik. "Aku sukanya kamu. Ayo bikin adiknya si debay aja, jangan beli cincin itu. Bayar gelang ini saja, habis itu cari hotel paling mewah. Kita tinggal sehari semalam tanpa turun dari ranjang." Bisikan yang bisa di dengar oleh para karyawan itu membuat Bima malu sendiri.
Entah sejak kapan istrinya semakin tak tau malu begini. Tapi percayalah, Bima suka.
__ADS_1
"Bungkus."