Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sama-sama menantu


__ADS_3

Di kediaman keluarga Orang tua Bima. Di sana ada Candra yang masih tidur dengan Vio yang sudah mempercantik diri.


Semenjak hamil, Vio memang selalu bersolek. Dia selalu memperindah diri dengan barang-barang branded.


"Sayang, bangun dong. Sepertinya aku kepingin sarapan di restoran yang ada di Deket kantor kamu deh. Yuk ke sana.." Vio membangunkan suaminya dengan nada manja. Bagaimana bisa dia tidak memenuhi keinginan istrinya? bukankah ngidamnya orang hamil itu berpengaruh pada bayinya?


Ya sudah Candra memilih mengalah dan bangun dari tidurnya. Mandi sebentar lanjut siap-siap untuk ke kantor sekalian. Selama Bima tidak masuk kantor, Candra sebenarnya mengalami banyak kendala.


Peran Bima pada perusahaan selama beberapa tahun belakangan. Sudah memberikan kontribusi yang begitu luar biasa. Terutama. dalam pengembangan bisnis dalam bidang perhiasan dan berlian.


"Candra, jangan lupa pakai baju baru yang aku belikan kemarin." Teriak Vio dari luar kamar mandi.


Barang-barang yang di beli Vio, kebanyakan brand yang sama dengan Bima. Dengan sekilas melihat saja, Vio sudah tau barang apa yang di kenakan oleh sang kakak ipar.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu berhenti belanja seperti ini? Inget Vio, kita tidak hidup untuk saat ini saja."


"Kamu seperti ini ke aku? Kenapa enggak ke kakak kamu? Lihat kan kemewahan rumah kak Bima? Barang mana yang bukan kesukaan kak Galuh? Aku rasa, kalau kak Galuh ingin memindahkan gunung pun kak Bima akan pindahin."


Meski memakai baju pembelian Vio, Candra masih tak berhenti untuk menasehati istrinya. "Kamu tau, Vio? Kak Bima sudah lama memegang perusahaan. Bukan cuma itu saja, kak Bima dan kak Galuh itu punya usaha lain sebelum memegang menikah."


"Lalalala..... lalalalalala...." Vio tak ingin mendengar keunggulan kakak iparnya. Biar bagaimana pun, dia juga bermarga Fedrik saat ini. Jadi, dia tak ingin di bedakan dengan Galuh, karena mereka berdua sama.


Sama-sama menantu.


Awalnya Bima tidak merasa jika rewelnya Dewangga akan berhubungan dengan Galuh. Karena Galuh tidak bangun selama Bima berada di sampingnya.


"Dewangga kenapa?" tanya Bima pada putranya yang terus meminta pada ibunya.

__ADS_1


Sedangkan Bima takut membangunkan Galuh yang tidur nyenyak. Ah, biar sudah, Bima pun membawa Dewangga tidur di samping Galuh.


Seharian terus tidur, jelas membuat Bima yang tak suka diam pun jenuh. Tapi yang mengajak tidur adalah istrinya. Ah, Bima kacau.


"Galuh, bangun yuk. Aku capek kalau tiduran terus seharian." Bisik Bima yang melihat Galuh semakin lelap tidur sambil ngelonin Dewangga.


"Aku udah bangun sejak Dewangga di sini. Tapi mataku benar-benar susah di buka." jawaban Galuh membuat Bima kaget.


"Memangnya ada yang seperti itu?" tanya Bima yang semakin bingung.


"Ada, Bima.... ini buktinya. Mataku rasanya lengket banget. Astaga...." Galuh menjawab sedikit frustasi karena suaminya tak ngerti-ngerti juga dengan keadaan yang ia alami sekarang.


"Astaga, jangan buat aku takut dong. Kita ke rumah sakit saja yuk." Bima menjadi takut karena perkataan Galuh.

__ADS_1


Kalau benar itu terjadi, kemungkinan istrinya ada mengalami sesuatu yang salah. Tidak mungkin kalau misalnya Galuh mengoleskan lem di bawah matanya.


"Enggak mau, aku mau tidur aja. Beneran aku mager sekali.


__ADS_2