
"Utari!"
Gila, Siska langsung pucat pasi saat Patra memanggil sosok gadis yang ada di dekat kepala sekolahnya.
Utari, gadis itu adalah korban. Meski dia tidak terlihat trauma. Tapi, melihat Patra lagi adalah sebuah ketakutan yang membuatnya langsung gemetar di tempat.
Bruk
Sebuah tonjokan mendarat tepat di pipi Patra. Dewangga bisa di katakan sebagai seorang yang cuek. Tapi jika sudah menyangkut dengan Utari, jangan harap dia akan bisa acuh.
"Punya nyali juga kau menemui Utari di sekolahan! Hah! Dasar sialah...!" Dewangga memukuli Patra yang tidak berniat untuk melawan.
Ya, walau dia melawan pun sudah pasti kalah. Lihat saja badannya, Patra bertubuh kurus. Sedangkan Dewangga memiliki tinggi badan sekitar seratus delapan puluh dua. Dengan berat badan enam puluh lima kilo, jelas dia berisi dan juga besar.
"Dewangga! sudah. Bawa Utari pulang!" Arif memisahkan keponakannya dengan mantan anak muridnya.
__ADS_1
Biar bagaimana pun, dia masih menyandang siswa di sekolahan yang dia pimpin. Guru-guru membantu Arif melerai Dewangga dengan Patra. Walau sedikit kuwalahan, akhirnya mereka berdua bisa di lepaskan juga.
"Mati kamu ketemu aku di jalan!" teriak Dewangga yang merasa tidak terima pada Patra yang sudah menghancurkan masa depan adik tersayangnya.
"Utari, aku minta maaf...."
"Pergi kau settan, Utari tidak akan pernah memaafkan kamu!"
"Dewangga! Sudah." Arif masih memeluk Utari yang ternyata sudah pucat pasi dan bergetar karena ketakutan.
"Nimas, calon imam mu itu kalo marah, menakutkan ya." kata teman sekelas mereka.
"Benar kata orang, jangan pernah membuat masalah pada orang pendiam. Kalau kamu tidak mau menjadi korbannya selanjutnya. Tapi hatiku meleleh, dia keren banget." Memang dasar Nimas.
Cinta Nimas mungkin sudah mendarah daging pada Dewangga. Buktinya, ketika yang lain ketakutan akan amarah Dewangga yang meledak itu. Tapi Nimas malah semakin bucin dan mengatakan kalau itu keren.
__ADS_1
Dewangga di giring ke ruang BK, bukannya membawa Utari pulang. Arif masih setia memeluk gadis yang sudah dia anggap sebagai putrinya.
"Kamu mau nilaimu di kurangi? kamu mau tidak naik kelas?"
"Kalau aku naik kelas gara-gara menghajar Patra yang sudah merusak masa depan adikku. Jelas aku tidak keberatan." jawab Dewangga tegas.
"Tapi Patra sudah di keluarkan...."
"Dan sayangnya dia bisa menerobos masuk ke sekolahan ini. Apa perlu aku beli sekolahan ini dan memberi peraturan yang jelas serta sangsi tegas untuk orang yang membawa masuk Patra?!" Kemarahan Dewangga kembali tersulut setelah terprovokasi oleh seorang guru yang melupakan siapa Dewangga.
"Dewangga, tenang. Kamu tidak perlu membeli sekolah ini, paman janji akan memberlakukan pemblokiran pada Patra untuk kedepannya. Tenanglah, kamu seperti ini malah menakuti Utari." Arif menengahi pertikaian Dewangga dengan beberapa guru BK.
Bak makan buah simalakama. Menentang Dewangga, guru-guru itu malah akan menjadi anak buah dari keluarga Fedrik. Tapi, jika di turuti kemauan Dewangga, pasti akan ada siswa yang mengikuti jejaknya.
Guru-guru tidak bisa memberi jawaban apa-apa selain berserah diri pada pak Arif seorang kepala sekolah yang merangkap sebagai paman dari Dewangga.
__ADS_1
"Kakak, jangan marah. Utari takut."