Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Seharusnya....


__ADS_3

Hari sudah hampir gelap, ketiga dua anak bujang masuk ke dalam rumah. Galuh yang tengah senam yoga pun melihat keduanya.


"Kalian berdua ini, kok baru pulang? Mataharinya baru mau tidur. Main lagi sana, biar mana sendirian mati kebosanan di rumah." cara menegur yang tidak biasa, Galuh selalu merasa kesepian jika anak-anaknya pergi ke sekolah. di tambah dengan suaminya pergi ke kantor.


"Ah, Mama. Seperti tidak tau saja, kan ada Utari." Narendra menjawab dengan senyuman di wajahnya.


"Haih, sudah mulai kenal cinta rupanya. Padahal, Papa kamu dulu nikahnya sudah tua. Mama kamu masih seumuran Mama. Ini kamu masih bayi, sudah cinta-cintaan." Galuh malah menggoda Narendra yang sudah gemetaran takut jika ibu angkatnya ini akan memarahinya.


"Kalau Mama sendiri? Kapan nikah sama Papa?" Dewangga ternyata punya rasa kepo seperti Utari.


"Mama? Mama nikah setelah masuk kuliah. Tepatnya di semester pertama...."


"Dan Mama yang ajak Papa menikah." Bima tiba-tiba menyambar ucapan sang istri dari belakang.


"Ah, Papa. Itu kan karena kamu cuma bisa diem-diem suka aku." Galuh mengatakan kejujuran, walau tidak sepenuhnya jujur.

__ADS_1


"Iya Papa ngaku Cemen, cuma berani sembunyi-sembunyi suka Mama. Habisnya Mama galak sih, dulu. Tapi, Utari mana? Tumben tidak menyambut Papa?" pertanyaan inilah yang membuat semua tersadar jika Utari tidak ada di antara mereka.


"Tadi sih katanya mau bareng Dewangga. Kemana dia sekarang?" Narendra malah bertanya pada Dewangga pasal adiknya ini.


"Apa kak Rendra bercanda? kelasku pulang setengah jam sebelum kelas kakak sama Utari pulang. Kan aku sudah chat." Dewangga sudah chat, dan di jawab Ya oleh Narendra.


"Sial, aku lupa. Sekarang, Utari di mana?" kepanikan mulai menyerang Narendra.


Senyum yang sejak tadi merekah, seketika menghilang dan dia juga langsung keluar dari rumah Bima.


Narendra tidak menemukan Utari di mana pun. Dia juga sudah bertanya pada pembantu, jawabannya malah mengejutkan. "Nona kan selalu pulang ke rumah Bu Galuh, den."


Kepanikan Narendra bertambah kala mendengar deru mobil yang masuk ke dalam garasi rumahnya.


"Narendra, tumben masih pakai seragam? Mana adik kamu? Papa belikan boneka sama baju cantik untuknya." Fairus malah membuat Narendra semakin pucat ketakutan.

__ADS_1


Narendra tidak berani menjawab, kehadiran Bima seakan menyelamatkannya dari segala bencana.


"Jangan bertengkar, ayo cepat cari Utari sekarang."


Bima memimpin pencarian, pikirannya sudah tidak tenang sepanjang jalan. Dia terus berpikir yang aneh-aneh. Mengingat Utari yang masih polos.


Di sepanjang jalan, Bima, Galuh, Fairus dan kedua putranya terus memperhatikan kiri kanan jalan. Jangankan sesosok Utari, suara cemprengnya pun tidak di dengar.


Utari sering mengajak kedua kakaknya mampir ke mall hanya demi memuaskan diri dengan es krim favorit. Narendra dan Dewangga menuju mall dan mencari di stand es favorit Utari.


Pelayan yang sudah mengenal mereka pun. Saat di tanya, mereka tidak melihatnya hari ini.


"Maaf, mas. Mbak yang anda maksud, seharian ini belum kesini."


Begitulah kira-kira yang di katakan oleh pelayan stand itu. Narendra merasa bersalah, seharusnya dia tidak mementingkan kesenangannya sendiri. Seharusnya dia membawa serta adiknya, seharusnya dia tidak melupakan pesan dari Dewangga.

__ADS_1


Seharusnya....


__ADS_2