Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sakit hati itu belum sembuh


__ADS_3

Galuh di cafe sebenarnya tidak melakukan apa-apa. Tapi, dengan tidak adanya Dewangga di rumah sudah menjadi bukti. Galuh menangis dari sejak baru datang, hingga lewat jam makan siang.


Pesan Bima yang memintanya pulang sebelum makan siang pun di abaikan oleh Galuh. Bagaimana dia bisa pulang dengan keadaan mata sembab? Galuh memilih untuk tetap di cafe.


Hari sudah senja, Galuh menatap ke arah langit di jendela kaca ruangannya. Cahaya itu pernah menjadi patokan dirinya untuk pulang. Tapi untuk saat ini, senja adalah awal dari kedatangan sang gelap malam.


Kepala Galuh terasa sangat pusing sekali. Galuh keluar dari ruangan dan berniat untuk meminta Devi membawakan makanan untuknya.


Namun, pada saat baru keluar, Galuh melihat Bima dengan Vio datang bersama. Wanita yang paling dia benci itu bahkan dengan leluasa menggendong Dewangga.


"Kenapa kamu datang ke sini!" Galuh tidak bisa menahan diri, dia langsung mengambil Dewangga dari gendongan Vio.


"Aku, menemani kak Bima....."

__ADS_1


"Temani saja sepuas hati kamu. Sekarang silakan tinggalkan tempat ini. Aku sebagai pemilik, tidak mengizinkan kamu atau kamu! Datang ke sini untuk kedepannya!" Galuh sudah sangat emosi dengan kedatangan keduanya. Galuh bahkan menunjuk-nunjuk Bima dan Vio membuat seluruh pengunjung melihat mereka.


"Galuh!"


"Kenapa? Hanya begitu saja sudah tidak tahan? Bagaimana dengan aku? melihat suami dan anakku cekikikan dengan pelakor ini...."


Untuk mengentikan ucapan Galuh, Bima tak berani menampar istrinya. Tapi, dia memeluk Galuh untuk menenangkan amarah istrinya.


"Kamu salah sangka sayang, dia istri dari adikku. Dia adik iparmu juga, tolong jangan cemburu buta." Bima berbisik, dia tau sekarang apa yang sudah membuat Galuh begitu marah beberapa hari ini.


"Aku tau.... ya aku tau.... kamu tidak mencintai aku. Tapi cukup aku yang mencintai kamu, kita bisa bertahan sampai selamanya. Tolong jangan marah lagi padaku, tolong jangan lagi berpikir aku akan menduakan kamu. Tidak ada di pikiran atau hatiku. Cintaku hanya kamu saja, sayang." Bima masih memeluk Galuh, bahkan pelukan itu semakin erat.


"Kak, sepertinya kita harus bicara." Candra berada tepat di belakang Galuh.

__ADS_1


"Lebih baik, jangan dulu...." Bima melepas pelukan dan berbicara lembut pada adiknya. Itu semua karena mata Galuh masih memancarkan emosi yang tinggi.


"Tidak kak, ini harus di luruskan secepatnya. Dan aku merasa hari inilah saatnya aku harus meluruskan dan menjelaskannya."


Galuh mengalah, dia mengizinkan Candra dan istrinya menjelaskan. Galuh mendengarkan kata demi kata yang di ucapkan oleh Candra. Menjelaskan semua yang menjadi tujuan dari Vio mendekati Bima.


"Tapi, kenapa dia mencari suamiku? Apa pun alasannya. Candra, maaf aku masih belum menerima dia hadir dalam kehidupanku. Bagaimana bisa hatiku luluh begitu mendengar cerita konyol ini? Dia yang berusaha mencari masalah denganku, dengan tiba-tiba pula dia mengarang cerita seperti itu. Terserah kalian saja, aku tetap dengan pendirianku." Hati Galuh sudah terlalu dalam di lukai oleh Jovan dan Isabella. Luka itu hanya Bima yang tau seberapa dalamnya. Karena dia yang berusaha menyembuhkan Galuh.


"Begini saja, kakak adalah kakak kalian berdua. Tapi, jika kalian bertemu kami di manapun, tolong seperti orang tidak mengenal saja untuk sementara waktu. Buktikan kalau kamu, Vio tidak berniat menggodaku selanjutnya."


Candra dan Vio tau apa yang di katakan oleh Bima ini untuk kebaikan mereka bersama. Tapi, mereka berdua adalah kakak beradik kandung. Apa harus seperti ini?


"Kak, kita kakak adik kandung. Apa kata orang kalau seperti ini?" protes Candra.

__ADS_1


"Inilah yang harus kalian terima, kesalahan kalian ini fatal. Atau kamu menyarankan untuk kakak cerai dengan kak Galuh, pilih saja." Bima pun mengeraskan hatinya.


Pilihannya sudah sangat sulit untuk di pilih, tapi bagaimana lagi? Sudah tidak ada jalan untuk berbalik. Ini semua juga karena kesalahan dari Vio yang berani menggoda dirinya.


__ADS_2