Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Rahasia


__ADS_3

"Galuh,kok kamu ke sini? Dewangga pasti capek, sini sama papa." Bima langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengambil putranya dari gedongan Galuh.


"Kamu kerja aja, aku mau main di sini." Galuh tak memberikan putranya. Dia malah mengajak Dewangga duduk di sofa.


"Ya sudah, kamu mau apa sekarang? Apa aku perlu buatkan taman bermain kecil di sana?" Bima menunjuk salah satu sudut yang terlihat kosong.


"Boleh, tapi kasih mainan bola-bola sama mobil-mobilan aja atau robot kesukaan Dewangga." jawab Galuh yang sepertinya juga sangat berantusias akan usul suaminya.


"Baiklah."


Perkataan Bima ini seperti bercandaan semata. Tapi, siapa sangka jika dalam kurun waktu satu jam saja. Semua ucapan Bima terealisasi.


Taman bermain untuk Dewangga, lengkap dengan kasur lantai dan beberapa bantal kecil pula untuk putranya. Bima paling tahu putranya, Dewangga akan langsung tertidur kalau sudah merasa lelah dan capek. Itulah fiksi kasur lantai di tengah mainan anak berusia delapan bulan itu.


Sehari rasa sedetik bagi Bima, jika bersama dengan Galuh. Bahkan, pekerjaan yang begitu menumpuk pun tak terasa hanya tersisa sedikit saja. Mungkin akan berbeda jika Galuh tidak ada di depan mata Bima seperti sekarang.

__ADS_1


Ya, Galuh selalu memberi ciuman atau pelukan hangatnya di saat Bima terlihat sedikit setres. Bima juga kaget awalnya dengan perlakuan Galuh ini. Tapi, tak munafik, dia menyukai ini.


"Dewangga biar aku yang gendong. Kamu bawakan tas ku saja," ujar Bima memberikan tas yang mungkin hanya terisikan beberapa dokumen saja. Bima tak membawa pulang laptop, dia hanya menyimpannya di alamat yang sudah ia koneksikan ke laptop yang ada di rumah.


"Kamu capek, sayang..."


"Tidak, berkat ini." Bima menunjuk bibir seksi Galuh yang selalu menggoda baginya.


Rambut pendek sepundak membuat Galuh terlihat jauh lebih fresh. Apalagi kemeja putih dengan celana semata kaki warna abu-abu yang di kenakan olehnya. Sungguh, siapa yang mengira jika wanita ini adalah seorang istri dan ibu satu orang putra.


"Pantesan pak Bima bucin sekali sama Bu Galuh, lihatlah."


"Iya, cantik banget. Tapi pak Bima memang ganteng, kok bisa aku telat ketemu pak Bima ya. Katanya dia sekolah SMA di situ, itu sekolah yang sering bentrok dengan sekolahku dulu."


"Eh, benarkah? Tapi katanya, dulu pak Bima sama Bu Galuh juga sering ikut bentrokan."

__ADS_1


"Mana ada, lihatlah mereka berdua yang begitu cantik dan tampan. Pasti mereka primadona sekolah dengan baju rapi dan rambut klimis."


Perbincangan yang tak satupun benar tentang Galuh dan Bima. Karena Bima dan Galuh adalah biang keributan.


Menemani suami kerja dan tidak melakukan apa-apa selain makan dan bermain. Siapa bilang tidak capek dan lelah. Di tambah dengan seorang bayi ya g begitu aktif.


Tak heran jika Galuh saat ini terlihat sangat lesu sekali. Bima yang melihat pun hanya tersenyum membelai rambut istrinya.


"Mau makan sate atau nasi goreng?"


"Mau makan lontong mu aja." jawab Galuh lirih namun tetap di dengar oleh Bima.


"Mulutnya, siapa yang ngajarin?" Mata Bima terbelalak walau bibirnya tersenyum dan hati berbunga-bunga.


"Hmmm, yang ngajariiiinnnn..... RAHASIA!"

__ADS_1


__ADS_2