Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kenekatan Jovan


__ADS_3

Bima takut terjadi sesuatu pada Galuh, apalagi dia trngah mengandung anak pertamanya. Bima berusaha mencari hingga dia kembali ke rumah mewah itu. Bima membuang harga dirinya demi Galuh, masuk ke mension Arby.


"Galuh di mana? Galuh..... Galuh...." Bima dengan mata merahnya berteriak-teriak membuat kegaduhan di rumah Jovan.


"Apa kamu gila! Masuk rumah orang tanpa permisi, teriak-teriak seenaknya. Gak pernah di didik ya sama orang tuamu! Oh lupa, orang udik sepertimu mana ngerti sama yang namanya sopan santun!..."


"Jaga mulut mu!!" Bima langsung mencengkram leher Jovan dengan satu tangan.


"Aku bisa patahkan lehermu saat ini juga kalau kau tidak mengatakan di mana Galuh." ucap sarkas Bima penuh emosi.


"Jovan!!!"


Sasmita datang dan berteriak membuat orang-orang yang mengaji di dalam ikut panik dan keluar menyaksikan keributan yang di buat oleh Bima.


"Katakan!!" suara keras Bima memekakan telinga.


"Jalan yang kau cari tidak ada di sini!" Sasmita dengan lantang meneriakkan nama Galuh dengan mengganti yang nama yang menjijikkan.


Bima melempar Jovan yang sudah memerah ke sembarang arah. Mendekati Sasmita dan....


Plak!!


"Sekali lagi mulut kotormu menghardik istriku, aku tidak segan untuk merobek mulutmu! Jaga sikapmu sebelum aku menghancurkan keluarga Arby. Rata dengan tanah!" Bima tidak bisa lagi menahan emosi dengan mencengkram mulut Sasmita.


Bima pergi dari rumah itu dan kembali lagi mencari Galuh ke mana pun yang memungkinkan keberadaan wanitanya.


Jovan memanfaatkan kerenggangan di antara Bina dan Galuh. Dia bergegas pergi sesaat dia tenang. Mencari Galuh dan membawanya kembali ke pelukannya, adalah impiannya sekarang.

__ADS_1


Rumah tangganya dengan Bella kandas di tengah jalan. Karena kehadiran Ardi, sahabatnya. Dia mengaku kalau Bella mengandung anaknya. Mau tidak mau dia harus melepaskan Bella dengan senang hati.


Jovan langsung ke rumah milik Galuh sebelumnya. Benat, Galuh ada di sana tengah menikmati makan malamnya. Jovan masuk dan memeluk Galuh penuh kehangatan.


"Berpisahlah dengan Bima, aku tau kamu tidak bahagia dengannya." ucapnya dalam pelukan.


"Kata siapa aku tidak bahagia? Aku sangat bahagia hidup bersama Bima. Tolong jangan seperti ini, nanti akan ada masalah!" Galuh mencoba melepaskan Jovan, tapi lelaki itu semakin erat memeluknya.


"Jangan bicara omong kosong, datanglah padaku kamu akan bahagia hidup bersamaku. Kita akan membangun rumah tangga kita sendiri." Jovan melepaskan pelukannya dan menatap lekat manik mata Galuh.


Galuh sedikit kaget, dia juga menatap Jovan. "Kita besarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia....."


"Sebegitu tidak tau malunya kamu mengambil sampah bekasku!!!" Bima geram mendengar ucapan Jovan, di tambah lelaki itu berani menyentuh perut Galuh.


"Bima, Bim.... jangan salah paham. Aku tidak tau apa yang dia bicarakan, aku.... aku hanya ingin bahagia dengan mu." Galuh meyakinkan Bima.


"Begitu cepatnya kamu melupakan janjimu Galuh? Kau berjanji di pusarah orang tuaku, memintanya tenang di alam sana. Dan segera meminta cerai pada suami yang hanya kau manfaatkan saat kau patah hati dari ku." Kebohongan sempurna Jovan menutup mulut Galuh.


Guratan amarah di wajah Bima semakin jelas terlihat. Galuh tidak harus mengatakan, hanya dengan melihat, semua juga tau jika Bima marah.


Bima menyeret Galuh paksa hingga wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Galuh merasakan nyeri pada perutnya karena guncangan yang di buat Bima.


"Agghhh perutku." Galuh memegangi perutnga, namun Bima cukup buta karena amarahnya.


Dia mendengar ucapan Jovan, cukup memprovokasi nya untuk tidak mendengarkan Galuh. Harha dirinya terluka, melihat Jovan dengan leluasa menyentuk miliknya.


"Batalkan semua kerja sama dengan perusahaan Arby. Apa pun bentuk kerja samanya!" Jovan berbicara melalui terlfonnya.

__ADS_1


"Bim, perutku sakit. Bisa kita mampir ke rumah sakit?" Tanya Galuh yang sudah memucat.


"Kau bisa menahan sampai di rumah. Aku tidak mau melihat mu kembali pada bajingan itu. Jangan berpur-pura mengambil simpatiku, percayalah itu akan sia-sia adanya." Bima tidak menghiraukan rasa sakit yang di derita Galuh.


Bima mebarik Galuh saat tiba di rumahnya, masuk ke dalam kamar yang mereka tempati. Bima menyuruh pelayannya mengambilkan jambu air di dalam kulkas.


"Aku sudah tidak ingin makan jambu, Bima. Aku sakit, kamu tidak membawaku ke rumah sakit, izinkan aku tidur saja." Galuh melakukan penawaran pada Bima.


Bima tidak memaksa atau menyetujui penawaran Galuh. Dia pergi keluar rumah dan meninggalkan Galuh sendiri.


Galuh menangis menahan rasa sakitnya, hingga dia tertidur.


Malam ini Bima tidak pulang, sampai pagi Galuh tidur sendirian. "Buat apa aku di bawa pulang, kalau sama saja aku di tinggal." Galuh menyapu pandangannya pada seisi kamar.


Galuh turun dan dia hendak mencari susu hamil sebelum sirinya muntah-muntah lagi. Pelayan rumah tidak ada, tapi sudah tersaji beberapa makanan di atas meja.


Galuh keluar setelah sarapan, berjalan ke rumah Raya. Galuh duduk di ruang tamu dengan mendengarkan beberapa percekcokan kecil di dalam sana.


"Kenapa lo gak manggil? Gimana kabar lu?" tanya Raya yang melihat Galuh duduk di ruang tamu.


"Gue kangen lu Ray," Galuh memeluk Raya.


"Stop mengambil pelukan ku." Fairus datang dari arah dalam dengan membawa nampan kecil berisi buah-buahan potong.


"Ck posesif sekali kau pak? Sebelum menikahimu, aku dan Raya bisa tidur bersama." cibir Galuh.


"Itu dulu, sekarang bede. Sudah makan buah ini, buah sangat baik untuk kandungan mu."

__ADS_1


Galuh terharu akan perhatian Fairus padanya. Orang lain bisa seperhatian itu padanya, tapi Bima? Kemana dia semalaman?


__ADS_2