Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Provokasi


__ADS_3

Jam istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tapi Dewangga belum juga menyusul Utari ke kantin.


Utari tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia memesan bakso dan semangkok soto. Makanan kesukaan kakak sekaligus suaminya.


"Maaf kakak lama, kamu sudah makan?" Dewangga terlalu berbasa-basi, sampai-sampai dia tidak menyadari jika memang sudah sangat basi pertanyaannya.


"Kakak lihat satu pentol ini? Tadinya ada tiga yang besar dan dua yang kecil ukuran ini. Di tambah lagi, mereka berlima itu di temani sama tahu dalam kuah. Tapi lihatlah yang ada, hanya sisa satu biji saja di mangkok ku. Dan kakak baru bertanya, apa aku sudah makan? Pertanyaan kakak lama dan...."


"Mas, baksonya tambah lagi satu porsi." Dewangga tidak harus menunggu Utari selesai berbicara. Karena dia sudah tau pasti apa yang di inginkan oleh adik dan istri kecilnya.


"Maaf, tapi terima kasih sudah memesan soto untuk kakak. Kamu tidak keberatan kalau kakak pulang telat? Ada rapat OSIS pulang sekolah nanti."


"Aku akan setia menunggumu, kak." Utari menerima baksonya lagi.

__ADS_1


"Dasar," Mungkin hanya dengan Utari saja Dewangga akan tersenyum lebar seperti ini. Bahkan, Dewangga bergurau dengan gadis kecil ini.


Nimas memperhatikan interaksi Dewangga dan Utari dari pojokan. Dia tidak percaya, Dewangga yang selama ini seperti kanebo kering itu bisa juga perhatian pada Utari.


Nimas juga melihat Dewangga yang memainkan rambut Utari. Mencubit atau hanya sekedar mengelus pipi juga hidung mungil itu.


"Kenapa? Panas hati kamu? Atau, kamu mau aku kasih sebuah berita yang spektakuler Minggu ini?" Siska, kekasih Patra datang seperti api yang menyambar bensin.


"Kamu mau apa? Kita tidak sedekat itu." Nimas memang tidak menyukai Siska yang selalu mengoloknya di kelas.


"Apa kau pikir, perasaanku itu hanya lelucon?" Nimas pun terlihat sedikit sakit hati mendengar ucapan kejujuran Siska.


"Tidak, bukan itu maksud aku. Tapi, coba lihat ini." Siska memperlihatkan sesosok lelaki yang tengah menerjang Utari. Lelaki itu bahkan berhasil menerobos kesucian gadis yang tengah bersenda gurau di depannya.

__ADS_1


"Aku peduli dengan kamu, dan aku juga kasihan dengan Dewangga. Gadis itu hanya kelihatannya saja lugu dan polos. Tapi ternyata...." Nimas bangun dari duduknya dan langsung menghampiri Dewangga dan Utari.


Sepertinya provokasi Siska berhasil. Bagaimana bisa Siska melihat dua orang yang membuat Patra di D.O dari sekolahan itu hidup bahagia?


Tapi, dia juga tidak bisa melakukan sendiri aksi balas dendamnya.


"Kalian pikir, aku akan tinggal diam? Tidak, Utari harus menanggung semua yang sudah di perbuat. Mengincar kekasihku dan berpura-pura menjadi korban? Siapa yang percaya!" kata Siska sendiri dengan menyaksikan Nimas yang dengan santainya menyiram SOP buah ke atas kepala Utari.


"Apa kau gila?!" Bentak Dewangga pada Nimas.


"Dewa! Dia tidak sepolos yang kamu bayangkan. Dia itu hina, dia itu sudah mencoreng nama baik sekolahan. Kamu harus sadar, Dewa. Dia tidak baik untuk kamu...."


"Lantas, siapa yang baik untuk aku? Kamu? gadis yang tidak memiliki harga diri, mengejar lelaki? Apa salah adikku padamu?"

__ADS_1


Nimas terdiam, Dewangga masih mengenalkan Utari sebagai adiknya. Bagaimana bisa Nimas berbuat hal konyol dengan menabuh genderang perang pada Dewangga? ini hal gila dan sangat berani.


Dewangga melepas baju luarnya dan memakaikan pada Utari yang sudah basah kuyup. Serta baju dalamnya terlihat jelas oleh mata telanjang


__ADS_2