Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Hujan dan Petir


__ADS_3

Di saat Aku melihat panggilan yang masuk pada ponsel Tiwi, Aku kembali tertunduk lesu. Bagaimana tidak, yang menelepon Tiwi adalah Josh, mantan kekasihnya Tiwi.


Bangunan kepercayaan yang baru saja kembali Aku bangun, seketika rubuh kembali. Entah pria itu yang masih mengejar - ngejar Tiwi, atau mereka berdua memang masih menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku.


Tubuhku yang terasa begitu lemas, di tambah lagi setelah melihat panggilan itu masuk pada ponselnya Tiwi. Membuat pikiranku semakin kacau. Tidak tau lagi apa yang harus kuperbuat. Air mataku tak terasa perlahan mulai mengalir tanpa permisi.


Tiba - tiba..


*Cekreeekkk* suara pintu terbuka.


"Assalamualaikum" ucap Tiwi dengan barang bawaan yang cukup banyak.


"Waalaikumsalam" balasku dengan nada bicara yang sedikit berat.


Tiwi menghampiriku yang sudah berlinang air mata yang membuat kening Tiwi mengerut keheranan.


"Farel, Kamu kenapa?" ucap Tiwi mendekatiku dan duduk pada kursi yang tersedia di sampingku.


Aku tidak merespon pertanyaan Tiwi, perasaanku sudah begitu hancur. Aku hanya terdiam dan memejamkan mata sembari menikmati semua rasa sakit yang sedang Aku rasakan sekarang.


"Tiwi yang terlalu kejam, apa Aku yang terlalu bodoh?" ucapku dalam hati dan air mataku terus bercucuran dalam keadaan mata tertutup.


"Rellll. Ada apa rel? Kamu kenapa diam aja?" ucap Tiwi menggenggam tangan kananku sambil menggoyang - goyangnya.


Mulutku tidak dapat berbicara sedikitpun, sesak di dada begitu sulit untuk kutahan. Begitu sulit rasanya menerima kenyataan sepahit ini.


Tiwi terus saja bertanya kenapa Aku menangis secara tiba - tiba. Namun berulang kali Tiwi bertanya, berulang kali juga Aku mengabaikannya.


"Farelll" dengan nada yang perlahan mulai turun, Tiwi mulai menjatuhkan air mata."Salah Aku apa rel?" Tiwi merintih.


"Kayanya Kita pisah aja ya wi" Aku menoleh ke arah Tiwi.


"Maksud Kamu apa rel?" ucap Tiwi kaget."Kenapa tiba - tiba seperti ini?"


"Aku udah bosan sama Kamu" ucapku datar.


"Bosan rel? Bosan kenapa? Aku salah apa? Kenapa harus pisah langsung seperti ini?" ucap Tiwi panik melontarkan sejuta pertanyaan yang Aku tidak tau harus menjawabnya mulai dari mana.


"Pokoknya Aku mau kita putus" ucapku sembari menahan sesak di dada yang semakin meningkat.


"Fareelll" Tiwi menangis tersedu - sedu perlahan melepaskan genggamannya yang tadinya begitu erat."Aku gak ngerti lagi harus berbuat apa sama Kamu rel. Aku sudah berusaha semampuku untuk terus memperjuangkan Kamu, tapi semuanya Kamu anggap percuma".


"Kamu pergi aja dari sini wi. Aku gak butuh Kamu lagi" ucapku menoleh ke arah dinding dan kembali menjatuhkan air mata kehancuran.


Hancur sehancur - hancurnya. Dunia yang Aku anggap begitu indah setelah kehadiran Tiwi ternyata semua itu hanya angan - anganku saja. Orang yang begitu Aku cintai ternyata adalah sumber kesakitan luar biasaku.


Kini Aku harus berjuangan dengan sisa serpihan hati yang sudah hancur berkeping - keping. Tidak ada lagi Tiwi, tidak ada lagi kisah indah, tidak ada lagi senyuman manis yang akan menghiasi hidupku ke depannya.


Keputusan yang Aku buat ini hanya untuk mencoba kembali menyembuhkan hati yang penuh dengan luka sayat pengkhianatan. Jika tetap Aku pertahankan akan membuat hal yang lebih buruk terjadi pada diriku.


"Mmmmmmm....mmmmmmmmm" tangis Tiwi semakin menjadi - jadi. Tidak mampu Dia berucap setelah mendengar ucapan terakhirku.


Tangisan yang begitu dalam terdengar jelas di telingaku. Rintihan yang terus keluar dari mulut Tiwi sama sekali tidak membuatku iba. Sakit hati yang Aku rasakan terlalu sakit sehingga Aku tidak memikirkan apa yang sedang di rasakan Tiwi.


Aku tidak tau kalau air mata yang begitu hebat di keluarkan Tiwi adalah air mata ketidak ikhlasan atau hanya sekedar tangis untuk merayakan perpisahan saja.


"Sudah, jangan berlebihan juga" ucapku menghadap ke arah Tiwi setelah mengusap sisa - sisa air mataku."Udah kayak kehilangan orang spesial aja".


"Maksud Kamu apa sih rel? Kamu kenapa bisa segininya sama Aku" ucap Tiwi tersedu - sedu dengan wajah yang sudah basah karena air mata.


"Kamu ngerti kok. Kapan mau pergi dari sini? Kan sudah Aku bilang kalau Aku gak butuh Kamu lagi." ucapku kejam tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Tiwi.


"Kok Kamu setega ini sama Aku rel?" ucap Tiwi masih belum ingin beranjak dari duduknya walaupun sudah Aku lontarkan kata - kata yang terbilang cukup sadis.


"Tega Kamu bilang? Ternyata Kamu lucu juga ya wi" ucapku judes dengan sedikit menaikkan bagian bibir kanan atas karena mendengar ucapan Tiwi yang seolah - olah paling tersakiti.


"Aku bingung rel. Kamu gak mau terus terang. Dulu Kamu pernah bilang, jika kita ada masalah tolong di ceritakan dulu. Jangan asal bilang putus aja, tapi sekarang kenapa seperti ini?" ucap Tiwi mengingat ucapanku dulu.


"Sepertinya tidak harus ada penjelasan lagi" ucapku merasa semuanya sia - sia.


"Oke.. Kalau memang penjelasan dari Aku tidak Kamu butuhkan. Tapi setidaknya beri tau Aku apa yang membuat Kamu seperti ini" ucap Tiwi dan perlahan air matanya mulai berhenti namun masih tersedu - sedu.


Dengan satu tarikan nafas yang dalam Aku menyebutkan alasan kenapa tiba - tiba Aku berubah.


"Lihat ponsel Kamu" ucapku dengan sedikit menggerakkan alis ke arah dimana ponsel Tiwi diletakkan.


Tiwi menoleh ke arah ponsel yang masih terletak di atas meja di samping ranjangku dan langsung saja mengambilnya.


Ketika melihat ke arah layar ponsel, tiba - tiba matanya terbelalak dan kemudian menoleh ke arahku.


"Rel, Aku tidak ada lagi berhubungan dengannya" jelas Tiwi menatapku dengan wajah sendu sembari perlahan menggelengkan kepala.


"Aku sudah ikhlas kok wi. Sekarang Kamu bukan milikku lagi" ucapku tidak ingin mendengar penjelasan dari Tiwi.


"Semudah itu ya rel?" ucap Tiwi dan matanya kembali berkaca - kaca.


"Bukan tentang seberapa mudah Aku mengikhlaskanmu, tapi seberapa kuat hatimu menolak untuk menjauhi seseorang demi menjaga hatiku" jelasku


"Iya rel, Aku tau itu. Tapi setelah Kita berpisah, Aku bagaimana?" ucap Tiwi terlihat bingung dan menjatuhkan air matanya.


"Aku yakin Kamu gak bakalan kesepian kok" ucapku dengan sebuah senyuman yang mengandung seribu makna.


"Rel.. Aku gak kuat tanpa Kamu. Apa perlu Aku berlutut di hadapanmu supaya Kamu yakin kalau hanya Kamu satu - satunya yang Aku cintai?" ucap Tiwi dengan tangisan yang terus saja berlanjut.


"Jangan jatuhkan harga diri Kamu hanya untuk laki - laki miskin sepertiku" seketika air mataku kembali menetes.


"Aku gak butuh harta Kamu rel, yang Aku butuhkan cuma Kamu. Kamu yang ngerti Aku, Kamu yang tau cara memperlakukan Aku, Kamu yang paham dengan segala keinginganku. Bukan harta Kamu rel" ucap Tiwi panjang lebar, wajahnya begitu merah dan basah.


Aku dan Tiwi terdiam beberapa saat setelah apa yang di ucapkan Tiwi. Hanya isak tangis dari mulut Kami berdua yang terdengar di ruangan itu.


Perlahan hujan deras turun menghantam atap Puskesmas yang terbuat dari seng itu. Seolah - olah mengerti apa yang sedang terjadi antara Aku dan Tiwi.


Apakah alam tidak menerima perpisahan Kami?.

__ADS_1


Sisa - sisa tangis terus Kami nikmati tanpa menyampaikan sebuah kata dan tiba - tiba listrik padam. Sehingga membuat Tiwi ketakutan dan secara spontan mendekat ke arahku. Karena Tiwi sering melakukannya di saat Aku dan Tiwi berada di cafe atau tempat minum dan tiba - tiba lampunya mati secara tiba - tiba. Aku tau kalau Tiwi begitu takut dengan kegelapan.


"Rell...Aku takut" ucap Tiwi yang sudah memeluk tanganku dan menenggelamkan wajahnya di antara tangan dan badanku.


Melihat apa yang dilakukan Tiwi membuatku hanya terdiam saja. Aku seperti di hipnotis keadaan. Listrik yang padam membuat ingatanku mengenai apa saja yang sudah Aku lalui bersama Tiwi tiba - tiba saja muncul.


Dimana pertama kali Aku dan Tiwi hujan - hujanan ketika ingin mengantarkan Tiwi menuju travel, di saat Tiwi mengusap wajahku yang basah karena air hujan, pelukan hangat yang di berikan Tiwi di tengah derasnya hujan. Semuanya terasa begitu indah.


"Rell.. Kamu kenapa diam?" ucap Tiwi dan membuatku terkejut karena sedang melamun.


"Ehh gak apa - apa sayang" jawabku spontan.


"Apa rel?" Tiwi terkejut dan langsung mengangkat wajahnya dari tempat tidurku kemudian melihat ke arahku dengan menghidupkan flash pada ponselnya agar wajahku dapat terlihat.


"Apanya yang apa wi?" Aku masih tidak sadar jika Aku memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Tadi Kamu manggil Aku dengan panggilan itu" ucap Tiwi antusias.


"Panggilan apa wi" tanyaku dan tiba - tiba..


*Duuuuaaarrr*


Suara petir begitu keras menyambar kota itu hingga membuat Tiwi berteriak dan memeluk tubuhku.


"Aaaaaaaaa... Farell" teriak Tiwi.


Tiwi memeluk tubuhku yang terbaring dan membenamkan wajahnya di atas dadaku yang membuat jantungku tiba - tiba saja berdebar cepat.


"Tiwi" ucapku dalam hati.


Tanpa Aku sadari, air mataku jatuh mengingat perjuangan yang sama - sama pernah kami lewati.


"Apakah hubungan ini harus segera kandas?" hatiku terus berkata dan tiba - tiba merasa tidak ikhlas kehilangan Tiwi.


Pelukan Tiwi semakin erat, membuat Aku merasa begitu nyaman. Detak jantungku begitu cepat, cuaca yang begitu dingin menjadi hangat di saat pelukan Tiwi mendarat di tubuhku.


Entah apa yang mendorongku untuk melakukannya, secara spontan tanganku mengelus - elus kepala Tiwi yang terlihat ketakutan mendengar suara petir tadi.


"Kamu jangan takut ya wi. Ada Aku di sini." ucapku pelan dan terus mengelus kepalanya.


Keadaan di dalam kamar pada saat itu begitu gelap, karena flash ponsel yang di hidupkan Tiwi tadi tiba - tiba saja mati.


Pelukan yang semakin lama semakin hangat, membuat emosiku yang tadinya begitu bergejolak perlahan mulai surut. Pelukan ternyaman yang selama ini Aku rasakan hanya Aku dapatkan dari Tiwi. Kata - kata yang sempat Aku ucapkan tadi, rasanya ingin Aku tarik kembali. Namun nyatanya, semuanya sudah terjadi.


"Rel, Kamu tidur?" ucap Tiwi yang masih saja dalam pelukanku.


"Enggak kok wi" balasku gugup.


"Apa mungkin ya rel, ini adalah pelukan terakhirku untuk Kamu ?" tanya Tiwi yang membuat Aku bingung harus menjawab apa.


"Hmmmmm.." Aku bergumam karena tidak tau apa yang harus kujawab.


"Kalau suatu saat nanti Aku sedang terjebak hujan dan tiba - tiba ada petir. Siapa lagi yang bakalan Aku peluk?" ucap Tiwi yang membuat hatiku tersentuh. "Siapa rel? Aku takut".


"Siapa rel? Kenapa Kamu diam?" ucap Tiwi sedikit menggoyang tubuhku.


Masih tidak ada jawaban dariku, sekarang Aku di hadapkan dengan pilihan yang membuatku kembali berpikir ulang untuk meninggalkan Tiwi.


Aku sempat berpikir "Hanya karena hujan dan petir, mampu membuat perasaan yang sebelumnya terasa begitu ikhlas kehilangan Tiwi, tiba - tiba merasa sangat berat untuk melepaskannya".


Sejujurnya, Aku begitu takut untuk kehilangannya.


**********


Cukup lama pelukan itu berlangsung, membuat perasaanku begitu tenang dan seolah - olah melupakan semua kesalahan Tiwi yang sebenarnya begitu menyakitkan jika diingat - ingat kembali.


Hujan masih saja turun namun sudah mulai mereda dari sebelumnya. Hujan begitu paham bagaimana suasana hati Aku dan Tiwi.


Di saat pelukan masih berlangsung, tiba - tiba listrik kembali menyala dan membuat Aku dan Tiwi terkejut melihat posisi kami yang saling berhimpitan.


Setelah saling bertatapan dalam kondisi berpelukan, perlahan Tiwi mengangkat tubuhnya yang cukup lama berada dipelukanku.


"Maaf ya rel" ucap Tiwi dengan wajah tertunduk.


"Gak apa - apa kok wi" ucapku tersenyum melihat tingkah Tiwi.


Beberapa saat Kami terdiam setelah melakukan pelukan yang terjadi akibat hujan dan petir itu. Sesekali Aku menatap Tiwi yang masih saja tertunduk malu dan sedikit tersenyum.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun hujan tak kunjung reda. Udara kembali terasa dingin menusuk tulang, pelukan hangat yang diberikan Tiwi tadi perlahan mulai memudar.


"Wi" panggilku.


"Hmm iya rel" ucap Tiwi mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku.


"Kamu gak pulang?" tanyaku khawatir karena terlihat kalau Tiwi mulai kedinginan.


"Aku tidur di sini aja nemanin Kamu rel" ucapnya menatapku dalam.


Suasana di malam itu terasa begitu canggung, Aku yang kembali teringat jika keputusanku untuk berpisah dengan Tiwi adalah keputusan yang salah. Terasa begitu berat untuk mengatakannya kepada Tiwi.


"Tapi Kamu sepertinya kedinginan wi" ucapku.


"Aku gak apa - apa rel. Aku gak mau ninggalin Kamu sendirian dalam keadaan seperti ini" tukas Tiwi dengan wajah penuh perhatian.


"Hmmm.. Terus Kamu mau tidur dimana wi?" tanyaku karena melihat tidak ada kasur tamu yang tersedia di kamar ini.


"Nanti coba Aku tanya sama perawat yang ada di sini, mudah - mudahan aja ada karpet untuk Aku tidur nanti." jelasnya.


"Ya udah, coba aja Kamu tanya dulu ke perawatnya wi. Supaya Kamu bisa istirahat juga" ucapku meminta.


"Iya rel, Kamu tunggu sebentar ya" ucap Tiwi mulai beranjak dari duduknya.


"Iya wi" balasku singkat.

__ADS_1


Tiwi berjalan keluar dari ruangan kamar yang sedikit redup dan terlihat begitu mengerikan jika Aku berada seorang diri di sini. Di saat Tiwi melangkah keluar, Aku terus memandanginya.


"Aku sayang Kamu wi" ucapku dalam hati.


Beberapa menit Tiwi keluar, kemudian Dia kembali dengan membawa sebuah karpet yang entah darimana Dia dapatkan.


"Rel, karpetnya ada nih" ucap Tiwi tersenyum ke arahku sembari menunjukkan karpet yang Dia bawa.


"Alhamdulillah wi" ucapku lega.


"Oh iya rel, makanan yang Aku beli tadi belum di makan nih" ucap Tiwi mengambil makanan yang sedari sore tadi Dia beli belum tersentuh sama sekali.


"Iya wi, Kamu lapar?" tanyaku.


"Iya rel, memangnya Kamu gak lapar?" tanya Tiwi balik.


"Lapar juga wi. Kalau gitu Kita makan aja dulu" ajakku dan Tiwi membuka bungkus plastik yang berisi siomay itu.


"Oke rel" balas Tiwi menyalin siomay yang terlihat sudah dingin ke dalam piring.


Setelah Tiwi menyalinnya ke dalam piring yang sudah tersedia di dalam kamar itu. Tanpa permintaan dariku, Tiwi langsung berinisiatif untuk menyuapiku.


"Rel, nih buka mulutnya" ucap Tiwi melayangkan sesendok siomay ke arah mulutku dan dengan sigap Aku menyambutnya dengan rasa bahagia.


"Hmmm... Enak wi. Kamu coba deh" ucapku sambil mengunyah.


"Hmmm... Iya rel, tapi sudah dingin" ucap Tiwi tersenyum menatapku.


Suasana yang tadinya begitu haru, seketika berubah menjadi bahagia. Secercah senyuman mulai bermunculan dari kedua bibir Kami. Tak henti - hentinya Aku menatap Tiwi dengan penuh kebahagiaan.


Aku begitu menyesal telah mengucapkan kata putus kepada Tiwi. Hatiku masih bertanya - tanya "Apakah Tiwi sudah ikhlas kehilanganku". Aku terus membathin mengingat apa yang sudah Aku ucapkan kepada Tiwi tadi.


"Lagi rel" ucap Tiwi kembali melayangkan sendok ke arah mulutku yang masih berisi siomay yang belum selesai Aku telan.


"Ini belum habis wi" ucapku.


"Eh iya, Aku kira udah Kamu telan. Habisnya mulut Kamu gak gerak" ucap Tiwi kembali meletakkan sendok di dalam piring.


"Aku terpesona ngeliat Kamu wi" ucapku menggoda Tiwi.


"Udah ah rel, lagi sakit sempat - sempatnya gombal" ucap Tiwi menundukkan kepalanya karena malu.


"Aku serius wi" ucapku terus merayunya yang membuat senyum Tiwi tidak berhenti.


Cukup lama Kami bercengkrama sambil memakan makanan yang sudah dingin itu namun masih terasa begitu nikmat.


Sembari saling melempar candaan, tak terasa hingga semua makanan itu habis.


* * * *


"Sudah kenyang rel?" tanya Tiwi sambil membereskan piring kotor.


"Kenyang dong wi" ucapku tersenyum menatap Tiwi yang juga menatap ke arahku.


Banyak pesan yang tersampaikan selama Kami saling memandang satu sama lain. Namun sesaat Tiwi tertunduk malu dengan wajah yang sudah memerah seperti udang rebus. Tidak dapat kupungkiri jika hatiku masih terus bersama Tiwi.


Aku lihat jam pada dinding kamar sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Tiwi sesekali terlihat menguap yang terlihat sudah mengantuk.


"Kamu udah ngantuk wi?" tanyaku.


"Hehehe.. Sepertinya udah rel. Kamu gak ngantuk?" tanya Tiwi balik.


"Iya wi, Aku juga mengantuk" ucapku melihat Tiwi kembali duduk di sebelahku.


Perlahan Tiwi membelai kepalaku, mengelus - elus dengan penuh perasaan sehingga membuat jantungku berdetak kencang.


"Jangan tinggalin Aku ya rel" ucap Tiwi lembut memandangi wajahku yang sudah begitu dekat dengannya.


"Iya wi, Aku gak bakalan ninggalin Kamu" ucapku yang berarti Aku tidak jadi berpisah dengan Tiwi.


"Terus ucapan Kamu tadi gimana?" tanya Tiwi mengingat ucapanku yang sudah terlanjur Aku ucapkan.


"Aku tarik kembali wi" ucapku kemudian tersenyum menikmati belaian demi belaian yang diberikan Tiwi.


"Makasi ya rel. Aku sayang Kamu" ucap Tiwi dan tiba - tiba mengecup bibirku tanpa aba - aba.


Tanpa membalas ucapan Tiwi, Aku langsung terdiam setelah Tiwi mendaratkan bibirnya tepat pada bibirku yang ingin membalas perkataannya.


Setelah melakukan hal yang mengejutkanku, Tiwi bangkit dari duduknya sambari terus memandangiku yang terpaku terdiam seribu bahasa.


Di saat Tiwi berbalik badan ingin menggelar karpet yang dibawanya entah darimana kemudian Aku memanggilnya.


"Wi" ucapku dan Tiwi membalikkan badan.


"Iya rel" balasnya terdiam menatapku.


"Aku juga sayang Kamu" ucapku tersenyum dan Tiwi membalasnya dengan senyuman yang sudah lama menjadi canduku.


Setelah Tiwi membalas senyumanku, kembali Dia berbalik menuju tempat dimana Tiwi ingin menggelar karpet.


Perasaan yang begitu bahagia kembali Aku rasakan setelah beberapa hari Aku merasa begitu hampa menjalani hidup.


*Tiwi adalah luka sekaligus obat dari segala lukaku*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2