
Pagi-pagi sekali Bima membawa Galuh pulang ke rumahnya. Mata yang susah terbuka itu mengharuskan Bima menggendong kemana pun. Ke mobil atau ke kamar di rumah mereka.
Bima tidak keberatan akan hal itu, tatapi dia merasa sangat kasihan pada istrinya. Bima tau dia salah, tidah seharusnya membuat Galuh tidur subuh. Tapi dia istri yang harus memenuhi kewajibannya.
Bima langsung meninggalkan Galuh setelah pamit ke kampus lebih dulu. Bima ada kelas pagi-pagi sekali dan itu kelasnya pak Fairus si guru Killer. Bima melihat dosennya baru saja berangkat, secepat kilat dia menyusul.
Mereka tiba hampir bersamaan, dan itu cukup mengagetkan Fairus yang ternyata juga membawa Raya yang tengah tertidur di dalam mobil. "Mana Galuh?"
"Galuh tidak ada kelas hari ini pak, jadi dia masih tidur di rumah." jawab Bima santun.
"Benarkah? Kenapa Raya bilang ada kelas pagi juga?" Fairus bingung.
Pasalnya, istri kecilnya itu menolaknya dengan alasan besok ada kelas pagi. Tetapi pagi harinya Bima yang paling mengerti istrinya mengatakan jika tidak ada kelas hari ini. Bingung.
__ADS_1
Merasa tipu muslihatnya sudah ketahuan, Raya yang tadinya hanya tersenyum pun akhirnya tak tahan lagi dan tertawa sangat keras.
"Hahahaha, maafkan aku sayang. Aku merasa tidak enak badan semalam, tapi aku sungguh tak berani mengatakan padamu." jujur Raya.
"Seharusnya kamu mengatakan jujur, aku akan mengajakmu ke dokter nanti. Sekarang tunggu aku di sini, jangan nakan. Oke?"
Di luar dugaan.
Dosen yang terkenal Killer bisa begitu lembutnya pada Raya yang jelas sudah membuat perkara dengan menipunya. Bima tidak percaya, tapi ini nyata di depan matanya. Raya hanya mengangguk paham sebelum Bima dan Fairus meninggalkannya.
Dua jam pelajaran sudah berakhir, Fairus cepat-cepat meninggalkan kelas. Itu bukan kebiasaan dari dosen killer yang suka melupakan waktu mengajar. Tapi ini apa? Secepat kilat dosen itu langsung ngacir meninggalkan kelas.
Raya memang hebat, dia bisa merubah dosen Killer menjadi lelaki budak cintanya. Terlihat ada rasa khawatir saat tadi mendengar Raya tidak enak badan.
__ADS_1
Di parkiran mobil, Fairus tidak menemukan sang istri di dalam mobil. Dia panik karena saat menelfon wanita itu meninggalkan ponselnya dalam mobil.
Fairus berjalan cepat ke mana saja yang memungkinkan, taman, perpustakaan, hingga akhirnya kakinya membawa ke kantin. Fairus langsung di sambut oleh wajah acak-acakan istrinya yang masih mengenakan baju tidurnya.
Fairus berjalan besar dan langsung memeluk Raya. Dosen itu tidak peduli dengan keadaan sekitar, dia terlalu takut akan kehilangan Raya. "Apa kita sopan melakukan ini di sini?" tanya Raya malu-malu.
"Siapa yang berani menegurku? Aku akan langsung memberinya nilai F!" jawab Fairus arogan.
"Baiklah tuan arogan, bawa aku ke mobilmu cepat. Rasanya aku sudah tidak punya muka lagi bertemu teman-teman di kampus ini lagi." cicit Raya menyembunyikan wajahnya dalam jas yang di kenakan Fairus.
Berbanding terbalik dengan Raya, sepertinya dosen itu menikmatinya. Terutama cicitan Raya yang terdengar sangat lucu di telinganya. "Baiklah sayang, kau mau aku gendong apa jalan sendiri?"
"Beri aku jasmu untuk menutupi wajahku." Raya memberikan penawarannya.
__ADS_1
"Tidak akan, berjalanlah dengan kepercayaan dirimu di sampingku."