
Setelah hampir semalaman Bima tidak tidur, dia tetap tampak sangat energik di pagi hari. Membuat sarapan untuk istri tercinta sebelum berangkat ke kampus. Bima tidak menampakkan rasa lelah sedikit pun, sebaliknya. Dia terlihat cerah, secerah pagi ini.
"Bim," rengek Galuh yang sudah siap ke kampus dengan membawa tas milik Bima juga.
"Kenapa?" tanya Bima menyiapkan sarapan yang di minta Galuh.
"Beneran, kamu mau pergi perjalanan bisnis? Aku ikut boleh?" manja Galuh pada Bima.
Bima hanya bohong semalam, rupanya Galuh menganggapnya serius. Terus bagaimana sekarang?
"Aku bisa mengirim orang untuk menggantikan ku. Tidak terlalu urgent juga, jadi bisa di wakilkan." mendengar apa yang di katakan Bima, raut wajah Galuh langsung ikut cerah.
"Benarkah? Ih, sayang kuuuu makin cinta deh." Galuh memeluk Bima bahagia.
Entah sejak kapan Galuh menjadi sangat manja seperti ini. Tapi Bima seneng-seneng saja dengan perubahan Galuh.
awal pernikahan, gadis itu sangat dingin. Bahkan tidak jarang dia akan pergi bersama mantan tunangannya. Galuh sangat dingin pada Bima saat itu.
Lihatlah sekarang, dia sangat hangat dan manja pada Bima.
__ADS_1
"Berangkat bareng?" tanya Bima basa basi.
"Iya, aku mau sama kamu aja."
Galuh benar-benar menjadi gadis manja seiring berjalannya waktu.
Setibanya di kampus, mereka segera berpisah karena beda jurusan. Bima mengantar Galuh ke kelasnya setelah itu ke kelasnya sendiri.
Tatapan cowok-cowok pada Galuh memang seperti seorang pemangsa pada buruannya. Namun sepeninggalan Bima, tak ada satu senyum pun yang terlihat di bibir Galuh.
Galuh bisa menjadi bobrok kalau ada Raya, tidak ada sahabatnya, dia akan menjadi sebongkah batu es yang mampu membekukan seluruh ruangan.
"Gundik?"
"Raya."
"Ya di rumahnya. Kenapa? Kangen?" tanya Galuh dengan nada mengejek.
"Dih, najis. Gue cuma mau verilitifikasi aja, bener enggak kalau dia itu hamil anak si killer...." Santai sekali gadis itu menyebut seperti itu.
__ADS_1
Pasti mereka mengira kalau Raya menjadi orang ke tiga di antara dosen ganjen itu dengan Fairus. Dasar sampah.
Galuh hanya memaki di dalam otaknya saja, karena dia juga males meladeni orang-orang macam ini. Tak lama kemudian Fairus sebagai dosen pun masuk untuk mengajar.
Mata pelajaran di kelas Galuh sudah berakhir, sedangkan di kelas Bima masih satu jam lagi. Galuh dengan setia menunggu Bima di depan ruang kelasnya. Dia sesekali melihat ke arah dalam kelas, hanya untuk senyum sang suami.
Rosaline Yang duduk di depan Bima merasa apa yang di lakukan itu menjijikkan. Dia memang tidak suka pada gadis ini semenjak penolakan Bima.
Kalau dulu, Bima bisa mengacuhkan perasaan Rosaline dengan tetap berteman. Tetapi, Galuh yang membuat Bima sama sekali tidak menghiraukan dirinya.
Dari situlah Rosaline selalu membenci dan tidak suka sama Galuh. Memandang semua yang di lakukan Galuh itu menjijikkan.
Padahal, kalau di pikir-pikir. Jika Rosaline berada di posisi Galuh, mungkin dia akan jauh lebih posesif pada Bima.
Pemuda itu memang sangat tampan, dengan postur tubuh yang tinggi dan besar itu. Membuat Bima jauh lebih menawan.
Senyum Bima manis, apalagi di tambah dengan malu-malu yang ditunjukkannya. Sungguh, dia menggemaskan dalam porsinya. Hati perempuan mana yang tidak meleleh melihat dia tersenyum.
Sayangnya, senyum Bima hanya tertuju untuk Galuh seorang. sama seperti hati dan cintanya, semakin hari semakin besar pada seorang Galuh.
__ADS_1