Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Wanita Jalang


__ADS_3

"Tiwi, kamu jangan sedih lagi ya nak" ucap ibuku meraih tiwi dan memeluknya.


"iya bu, ini semua salah tiwi bu. Kalau bukan karena tiwi, farel ga bakalan jadi seperti ini" ucap tiwi kembali mengeluarkan air mata didalam pelukan ibu.


"udah nak, ibu ga nyalahin kamu kok. Ini memang sudah jalan dari Allah" ucap ibu sambil mengelus punggung tiwi agar tenang.


"tapi kan bu, tiwi ngerasa bersalah banget" tiwi mulai sesegukan karena tangis yang ia tahan tidak mampu terbendung lagi.


"tiwi, kamu ga usah merasa bersalah lagi ya, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting kita doakan untuk kesehatan farel aja" ibu memegang kedua bahu tiwi dan menggangkatnya dari pelukan ibu sehingga sekarang tiwi dan ibu saling berhadapan.


"iya bu. Untuk malam ini boleh ga tiwi nemanin farel?" ucap tiwi sembari mengusap air matanya.


"emangnya besok kamu ga kuliah?" timpal ibu.


Dengan keadaan masih memperhatikan ibu dan tiwi yang saling bercakap,aku tidak ingin ikut campur. Tatapanku tetap fokus melihat tiwi yang terlihat sangat sedih dengan keadaanku saat ini.


"besok tiwi masuk siang bu" ucap tiwi.


"yaudah, sekarang kamu balik dulu aja. Bersih - bersih, ganti baju. Nanti malam aja kesininya ya" ibu mengusap kepala tiwi dengan penuh perhatian.


"iya bu, kalau gitu tiwi balik dulu" tiwi perlahan menghampiriku.


"iya nak" singkat ibu.


"rel, aku nanti kesini lagi ya. Aku titip kamu sama ibu dulu, jangan nakal - nakal disini" rintih tiwi dengan air mata kembali bercucuran sambil mengusap pipiku dengan begitu lembut.


"iya wi, kamu hati - hati dijalan" ucapku dengan tatapan sayu melihat kearah wajah tiwi yang sudah memerah.


"iya rel. Daaahhh" tiwi melambaikan tangannya.


"daahh tiwi" balasku dengan berat hati ditinggal kembali oleh tiwi.


"bu, tiwi balik dulu ya" ucap tiwi sembari mencium tangan ibu dan kemudian pergi meninggalkan Rumah Sakit.


"iya nak , hati - hati dijalan" ibu mengikuti tiwi menuju pintu melihat tiwi meninggalkan Rumah Sakit.


"iya bu" dengan sisa air mata tiwi terus berjalan menuju lorong rumah sakit.


Sore itu hanya ada aku dan ibu, ku lihat pada dinding kamar jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Ibu masih sibuk membereskan pakaian yang akan aku dan beliau gunakan nanti. Dari tempat tidur aku hanya bisa memandang ibu dari kejauahan, sesungguhnya aku tidak tega melihat ibu duduk dilantai keramik tanpa dialasi karpet itu.


"bu, apa ga dingin duduk dilantai gitu?" ucapku memperhatikan ibu membereskan pakaian.


"ga apa apa kok nak, jangan khawatirkan ibu" ucap ibu santai.


"apa perlu kita minta tolong sama tiwi buat beliin karpet ya bu?" ucapku merasa kasihan melihat ibu.


"ga usah ngerepotin orang nak, kan udah ibu bilang kalo ibu ga apa - apa" ibu terlihat sedikit kesal dengan ocehanku.


"iya deh bu kalau gitu" ucapku lemas karena ibu tidak tau kekhawatiranku terhadap dirinya.


Luka - luka yang aku alami setelah kecelakaan itu sekarang mulai terasa perih karena anestesi yang digunakan perlahan mulai hilang. Perlahan aku merasakan perih dibagian lutut, siku dan bagian dagu yang tergores aspal.


"duuhhhh" rintihku kesakitan.


"kenapa nak?" ucap ibu sambil berdiri dari duduknya menghampiriku.


"perih bu" ucapku mengerutkan kening kesakitan.


"yang mana perih nak?" ibu terlihat panik.


"dagu, lutut sama siku aku bu. Kayaknya biusnya udah mulai hilang" ucapku menahan sakit.


"bentar ya nak, ibu panggilkan dokter dulu" ibu kemudian keluar dari kamar menuju meja receptionist.


Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan rasa sakit dari luka - luka yang aku dapat. Aku masih bersyukur tidak ada tulang yang patah akibat tabrakan yang sangat kuat itu. Kuasa Tuhan memang sangat mengejutkan. Aku pikir disaat motor yang aku kendarai menabrak mobil itu, disaat itu nyawaku langsung melayang, namun Tuhan berkata lain.


Selang beberapa menit ibu masuk dengan seorang suster dan seorang wanita yang masih samar - samar terlihat olehku karena tertutup oleh tubuh ibu dan juga suster. Disaat rasa sakit yang terasa ditubuhku semakin menjadi - jadi, suster muda itu menyuntikkan cairan anestesi dibagian lengan kananku.


"tenang ya pak, nanti setelah disuntik perlahan sakitnya juga akan hilang. Pokoknya jangan banyak gerak dulu karena lukanya masih baru" ucap suster itu dengan nada lembut.


"baik sus" ucapku singkat sambil tersenyum tipis karena terpesona melihat kecantikan suster muda itu.


"kalau gitu saya tinggal dulu ya pak, buk. Nanti kalau ada apa - apa panggil saya lagi aja" suster itu perlahan pergi meninggalkan kamar.


Karena jiwa muda yang masih saja membara , melihat cewek cantik begitu aku pun langsung terpana membuat aku kembali berpikir.


"aduuhh rel, ingat tiwi jangan ganjen" aku membathin.


Setelah dirasa pikiranku sudah kembali pulih, mataku kembali melirik kearah wanita yang ikut bersamaan dengan ibu tadi. Ternyata dia adalah tika, juniorku.


"hay bg, gimana keadaannya. Nih ada sedikit buat abang supaya cepat sehat" ucap tika sembari meletakkan buah apel yang dibungkus dengan plastik bening.


"alhamdulillah udah mendingan ka. Terima Kasih ya udah repot - repot" ucapku merasa tidak enak.

__ADS_1


"oh iya bu, ini juniorku yang satu organisasi denganku dikampus. " ucapku kepada ibu yang masih saja memperhatikan tika. "tika , ini ibuku"


"ehh iya nak". jawab ibu singkat.


"iya bu, saya tika juniornya bang farel" ucap tika dan mencium tangan ibu.


"yaudah kalian berbincang aja dulu, ibu mau keluar sebentar" ucap ibu kemudian meninggalkan aku dan tika berduaan dikamar.


"iya bu, aku titip siomay ya" pintaku kepada ibu.


"iya nak" balas ibu kemudian meninggalkan kami.


Setelah ibu pergi meninggalkan aku dan tika. Beberapa saat keadaan begitu hening tanpa adanya percakapan antara aku dan tika. Tika hanya menatapku dalam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"kamu sendiri aja ka" aku membuka percakapan.


"iya bang , susi katanya tadi ada urusan. Ga tau juga urusan apa" ucap tika perlahan mendekatiku.


"terus kesini naik apa ka?" ucapku sedikit heran saat tika mendekatiku.


"naik ojek online bang, aku dapat info kalau abang masuk rumah sakit dari orang tempat abang kecelakaan." ucap tika perlahan memegang tanganku.


"ka, kamu mau ngapain?" aku yang kaget dengan sikap tika mencoba melepaskan tangannya.


"ga apa - apa kok bang. Aku khawatir aja dengan keadaan abang" tika menatapku dalam.


"abang ga apa - apa kok ka. Jangan gini ya, nanti kelihatan sama ibu." jelasku.


"ibu kan baru pergi bang. Jadi ga bakalan ada yang tau kok" tika terus mendekatiku seperti orang yang kesurupan.


"udah ka, abang lagi sakit. Jangan macam - macam" aku mulai bersuara sedikit kencang.


Karena tubuhku yang begitu lemas dan tidak kuat untuk digerakkan, aku hanya bisa menghentikannya dengan kata - kata. Namun tika tidak menghiraukanku. Tika mencoba mendekati wajahnya kearah wajahku, dengan memegang tangan bagian kananku perlahan tika mendekat. Namun tiba - tiba....


"ceeekreekk" suara pintu kamar berbunyi dan tika langsung mengangkat tubuhnya yang sudah berjarak sekitar 3 cm dari hadapanku. Ternyata tiwi datang tepat waktu.


"ngapain lagi kamu kesini cewek murahan" ucap tiwi langsung mendekati tika dan menjambak jilbabnya hingga tika terjatuh ke lantai.


"aaawwwww" teriak tika.


"wiii, udah yaaa. Jangan berantem disini." pintaku pada tiwi.


"aku benci ngeliat dia rel, karena dia kamu kayak gini". tiwi terlihat sangat marah kepada tika.


"kamu itu...aahhhhh" ucap tiwi kemudian membanting karpet yang dia bawa, tiwi terlihat begitu marah namun tidak ingin membuat kekacauan dirumah sakit ini.


"ka , mendingan kamu pergi aja dari sini" ucapku mulai panik karena tidak bisa berbuat apa - apa.


"iya bang, aku pergi dulu" tika dengan cepat pergi meninggalkan kamarku.


Tiwi terlihat masih menahan amarahnya yang sepertinya sudah sangat memuncak. Gerak tubuh yang naik turun sangat jelas kalau tiwi sedang menarik dan menghembuskan nafas dengan begitu kuat.


Disaat tika pergi meninggalkan kamar itu , mata tiwi begitu sangat tajam melihat kearah tika. Tatapan penuh kebencian sangat jelas terpancar dari matanya.


"tiwiii" aku memanggilnya.


Tiwi tidak merespon sama sekali.


"tiwiiii" aku sedikit mengeraskan suaraku.


"iya rel" balas tiwi kemudian menoleh kearahku.


"Maafin aku ya?" ucapku merasa bersalah.


"aku ga nyalahin kamu kok rel" tiwi mendekat kearahku sembari mengeluarkan mie goreng jepang kesukaanku."setelah apa yang aku lihat" dengan wajah yang sendu, tiwi mulai menatapku.


"maksud kamu wi?" jawabku heran


"iya gitu , kejadian tadi siang aku yakin itu hanya akal - akalan wanita ****** itu saja" ucap tiwi geram.


"hmmmm... bisa jadi sih" jawabku sedikit ragu dengan argumen tiwi.


"ya liat aja apa yang dia lakuin ke kamu barusan. Apa aja yang udah dia lakuin sama kamu selama aku belum sampai?" ucap tiwi


"belum ngapa - ngapain kok wi. Walaupun aku ga bisa ngelawan, tapi untung saja kamu datang tepat waktu" jawabku menenangkan tiwi.


"beneran kan rel?" tiwi menatapku tajam hingga kedua alis matanya hampir menyatu.


"iya sayang...ehh tiwi" ucapku keceplosan, karena tidak sadar kalau kenyataannya kami sudah putus.


"lah, kok diralat?" ucap tiwi terkejut.


"kan kita udah ga ada hubungan apa - apa lagi" aku memalingkan pandangan dari tiwi dan perlahan mataku mulai berlinang air mata.

__ADS_1


"hmmm..."tiwi bergumam.


"kenapa wi? Aku ga salah kan?" wajahku yang masih menghadap ketembok perlahan menjatuhkan air mata karena sudah tidak tahan untuk menahannya.


"iya rel aku tau aku salah. Tapi....." tiwi menggantung ucapannya.


"tapi apa wiii?" aku mencoba terus menahan tangisku.


"tapi kan semuanya masih bisa kita ulang kembali rel" tiwi mendekati dan menggenggam tanganku.


"kamu yakin wi? Dengan keadaan aku yang kayak gini?" ucapku merendahkan diri karena sudah terlihat berantakan dengan luka yang cukup banyak disekujur tubuhku.


"aku yakin banget rel, aku ga mau kehilangan kamu" tiwi mangangkat tanganku perlahan mengelus punggung tanganku kearah pipinya.


"aku boleh minta sesuatu ga wi?" ucapku kemudian menghadap kearah tiwi yang masih saja mengeluskan tanganku kearah pipinya dengan lembut.


"apa rel?" ucap tiwi dan kembali meletakkan tanganku keatas ranjang.


"tapi kamu harus janji" ucapku


"iya aku janji. Memangnya apa rel?" tiwi terlihat semakin penasaran.


"aku mau kamu jangan pernah lagi mengucap kata putus disaat kamu tidak tau apa yang sedang terjadi dan harus mendengar penjelasan dari aku dulu" ucapku menatap tajam kearah tiwi.


"iya rel aku janji" tiwi perlahan mengelus pipiku


"hmmm...kalau gitu ayok kita coba lagi membuka lembaran baru" ucapku sembari memegang tangan tiwi yang menyentuh wajahku.


"iya sayang" tiwi tersenyum kearahku dan perlahan mendekati wajahku berniat ingin menciumku.


Dan tiba - tiba......


"cekreeek", "assalamualaikum" suara ibu terdengar dibalik pintu. Sontak tiwi segera mengangkat wajahnya yang sudah sangat dekat dengan wajahku.


"waa..waa alaikumsalam" ucap tiwi gugup kemudian berbalik badan kearah pintu.


"ehhh tiwi udah datang ternyata. Kok buru - buru amat?" ucap ibu sambil menenteng beberapa plastik hitam dan bening.


"hehe..iya bu, lagian dikos ga tau mau ngapain juga" tiwi tersenyum sembari menggaruk kepala karena hampir saja aksinya terlihat oleh ibu.


"yaudah, nih kebetulan ibu habis belanja banyak makanan. Yuk kita makan bareng - bareng aja" ucap ibu meletakkan semua belanjaannya diatas meja kecil yang berukuran sekitar 1 x 1 meter itu.


"oh iya bu, tadi tiwi juga bawa karpet buat ibu supaya ga kedinginan kalau duduk diatas lantai" tiwi mengambil karpet berwana merah jambu yang terletak diatas lantai dan memberikannya kepada ibu.


"aduuhh, kenapa repot - repot segala sih wi. Ibu udah biasa juga duduk diatas lantai"ucap ibu sembari tersenyum dan meraih karpet dari tiwi.


Sembari ibu menggelar karpet yang dibawa tiwi. Aku dan tiwi mulai bertatap - tatapan dan tersenyum memberikan kode - kode kecil karena aksi tiwi yang hampir saja ketahuan oleh ibu.


"dasar tiwi" gumamku kearah tiwi dan sedikit mencibirkan mulutku kearahnya.


"wleeekk" tiwi menjulurkan lidahnya kearahku dan sesekali melirik kearah ibu.


"yuk wi, kita makan dulu aja" ibu meletakkan semua barang belanjaannya diatas karpet yang sudah digelas dan tiwipun mulai duduk bersama dengan ibu.


Sungguh pemandangan yang membuat hatiku sangat bahagia. Melihat ibu dan kekasih yang aku cintai begitu akur hanya dalam waktu tidak sampai 1 hari. Aku terus tersenyum melihat perlakuan tiwi kepada ibu dan sebaliknya yang membuat perasaanku menjadi sangat tentram.


"bu , aku mau makan mie yang dibawa tiwi dulu aja ya" pintaku karena ibu hampir saja membuka siomay pesananku tadi.


"yaelah anak muda, pemberian pacarnya pasti dinomor satukan" ledek ibu sembari memasukkan kembali siomay kedalam plastik hitam.


"apaan sih buuuu." aku tersipu malu dengan perkataan ibu.


"ya kan memang realitanya seperti itu. Iya ga wi?" ibu mencolek tiwi dan mengangkat kedua alisnya.


"heheheh..." tiwi hanya manggut - manggut tersenyum malu.


"wi, kamu suapin aku dong" pintaku karena aku belum bisa duduk.


"eehheem...eheeemm.." ibu mendehem seperti orang yang kekurangan minum.


"ibuuuu. Aku kan lagi sakit" aku tertawa melihat tingkah ibu yang selalu meledek kelakuan kami berdua.


"iya iya anakku sayang" ibu perlahan memakan bakso yang terlihat begitu pedas karena warna kuahnya yang sudah memerah.


Tiwi mengambil kursi kecil yang terletak disudut kamar dan meletakkannya disamping ranjangku. Perlahan dia membuka bungkus mie yang sudah sedikit dingin itu. Dengan telaten, tiwi menyuapiku sehingga membuat hatiku senang tidak karuan. Tidak tau lagi bagaimana mengungkapkan kebahagiaan ini walaupun tubuhku penuh dengan luka.


"aaaakkkk.." ucap tiwi mengarahkan makanan kearah mulutku tanpa dia sadari kalau mulutnya juga ikut menganga.


"aaaaammmm" aku dengan lahap menyantap setiap suapan yang diberikan tiwi.


Setelah beberapa saat kami makan dan sudah selesai membereskan makanan. Ibu dan tiwi pergi melaksanakan sholat ke musholla Rumah Sakit untuk melaksanakan sholat maghrib.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2