Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Duo Settan sedang berdiskusi


__ADS_3

"Liatin apaan sih?" Isabella melihat sepupunya tak melepas pandangannya.


"Tu, dua orang menjijikkan." jawabnya sewot dengan menunjuk ke arah Galuh dan Bima.


"Si jalan itu, kenapa rasanya seperti jamur ya? Tumbuh di mana-mana." Isabella tak kalah jengkelnya dengan Mutiara.


Ternyata mereka berdua memiliki musuh yang sama. Galuh.


"Kak, kamu kenal mereka?" tanya Mutiara berbinar.


"Ya, ****** itu yang hampir menjadi nyonya Arbi. Tapi aku menggunakan kepintaran ku untuk kembali merebutnya. Si tua Bangka itu tidak tau kalau Vio bukan cucunya, tapi dia gak mau mati membawa aib. Makanya dia mendesak Jovan untuk menikahiku." terang Isabella dengan membayangkan kejadian itu.


"Vio bukan anak dari suami kamu? Kok bisa dia gak tau?" heran, apa Jovan sebegitu bodohnya?


"Dia lelaki pintar, jadi dia tau kalau Vio bukan putrinya. Tapi mamanya sudah di ambang kematian, bagaimana bisa dia menolak? dengan sedikit racikan dari dokter ku, nyonya sombong itu lebih cepat menghembuskan napas terakhirnya."

__ADS_1


Licik. Mutiara sudah mengira Galuh lah yang paling licik, tapi orang di sampingnya jauh lebih berbahaya. Dan ilmu ini mungkin bisa di terapkan untuk mendapatkan Bima.


"Tapi, siapa ayah kandung Vio?" tanya Mutiara yang menjadi penasaran.


"Ardi, tapi dia sudah ke neraka bersama dengan nyonya sok kaya itu."


Ardi? Mutiara sempat mendengar cerita lelaki ini sedikit mengisi hari-hari Isabella. Tapi, jika cerita dia sudah terlalu jauh seperti ini, siapa yang tau?


Vio, mama kamu gila.


Mutiara kembali mengingat kejadian di kampus, dan saat ini melihat langsung. Pantas saja Galuh sangat lengket padanya. Manja dan berlaku seperti dia gadis lemah di mata Bima.


Jadi ini hanya permainan emosional saja? Menarik juga permainan tempel menempal.


Merasa di perhatikan oleh orang lain, Galuh mencari ke segala arah. Dia merasa tidak nyaman, sampai akhirnya dia menoleh ke ujung tempat buah di gelar. Duo Settan yang sedang berdiskusi sambil melihat ke arah dirinya sesekali.

__ADS_1


"Kenapa?" Bima memeluk Galuh di depan semua orang.


Bima tau ada dua orang yang mengawasi istrinya. Karena tidak ingin istrinya dan calon buah hati mendapat mata jahat dari kedua orang itu. Bima pasang badan untuk menghalanginya.


"Aku pengen makan buah melon itu. Bisa belikan untuk aku? aku mengantri di kasir." Galuh pun enggan untuk bertemu dengan kedua orang itu, sehingga dia meminta Bima mengambil beberapa buah melon untuknya.


"Kamu tunggu di kursi itu saja, biar aku yang antri sebentar lagi. Aku gak mau kamu kelelahan, ok? aku ambil melon dulu." Bima membawa troli belanjaannya.


Galuh memang sudah tidak kuat lagi berdiri, dengan patuh ikuti kata sang suami tercinta.


Bima mengambil tiga buah melon segar dan beberapa buah yang lainnya. Dia segera mengantri ke kasir agar istrinya tidak semakin kebosanan menunggunya membayar.


Ada kejadian yang tidak di inginkan Galuh saat suaminya membayar belanjaan. Mutiara mendekat dan menawarkan bantuan. hal itu membuat darah dalam diri Galuh mendidih.


"Banyak sekali, Bim? Mau aku bantu?" Sapa Mutiara dengan berani memegang tangannya.

__ADS_1


"Tidak perlu."


__ADS_2