
Berkat Yasa yang cepat tanggap, Galuh bisa di selamatkan lebih awal. Obat tidur yang di berikan padanya adalah obat terkuat. Itu akan merusak saraf jika tidak segera di tolong.
Beruntung sekali Galuh memiliki orang yang selalu peka terhadapnya. Bima misa menggagalkan aksinya. Dan ayah mertuanya bisa menyelamatkan dirinya.
"Bagaimana keadaannya, pa?" tanya Bima yang baru tiba di rumah sakit.
"Tadi Galuh sempat di kosongkan isi perutnya. Dosis obat tidurnya kuat sekali dan mungkin itu tidak sebutir saja memberinya. Sekarang Galuh sudah selamat." Kelas Yasa dengan tatapan kosong yang sulit di artikan.
Yasa memiliki rasa bersalah yang begitu besar. Dia tidak tau apa yang terjadi sebelumnya. Lebih tepatnya, oknum yang membuat Galuh menderita setiap waktu.
Mendengar menantu dan putri tersayangnya masuk rumah sakit. Rosmia dan Mia datang bersama. Prayan yang saat ini tengah dinas keluar kota, Rosmia selama dua hari ini terus datang ke rumah besannya dengan membawa cucu sebagai penghibur.
Kabar tentang Galuh, cepat sampai ke telinga dua nenek gaul ini. Bima yang tak sekali pun meninggalkan Galuh, seperti biasa. Kali ini harus meninggalkan Galuh bersama dengan dua ibu ini.
Bima sudah memimpin jalannya meeting tadi pagi. Meeting yang terpaksa terhenti itu harus di selesaikan hari ini juga. Jadi, mau tidak mau, Bima harus kembali ke kantor bersama Yasa sang papa.
"Bima, kamu sudah tau siapa yang memberi izin Jovan masuk kantor kita?" Tanya Yasa dalam perjalanan.
"Ya, dia sendiri yang mengaku. Tapi, karena dia tidak mengenal Jovan dan aku sebelumnya. Dia bersumpah tidak tau menau tentang apa yang menjadi motif Jovan selain mengambil barangnya yang tertinggal." Jawab Bima yakin.
Ya, dia percaya pada orang itu. Dia seorang investor yang baru menanamkan modal pada Bima beberapa bulan lalu. Bima di kenalkan oleh Nanda, karena dia ayah dari temannya yang ingin memulai bisnis di bidang perhiasan.
Keinginannya itu karena sang istri yang sangat menyukai perhiasan. Bahkan tanpa bisa sadari sebelumnya. Istrinya itu memang menjadi pelanggan VIP di beberapa tokonya.
"Bukan pak Basuki, kan?" tanya Yasa sedikit khawatir.
Basuki adalah salah satu pemegang saham yang sejak tadi siang selalu menyerang Bima.
__ADS_1
"Bukan, pa. Apa papa tidak lihat tadi, pas Bima menghajar Jovan? Dia tampak seperti ketakutan dan ngeri melihat Bima. Setelah itu, dia bahkan tidak berani melihat ke arahku." Jawab Bima sedikit tertawa.
"Ah, yang benar?"
"Kalau papa tidak percaya, papa lihat sendiri nanti. Kalau pak Basuki masih menyerang Bima, itu artinya beliaulah yang menjadi mata-mata di perusahaan kita untuk orang luar. Bukan cuma Jovan." Niat Bima menenangkan sang papa, tapi ternyata....
Mendengar ada kata mata-mata di perusahaannya. Wajah Yasa langsung pucat bak rembulan kesiangan.
Dia tidak tau, jika bisnis semakin tinggi itu akan memiliki sejuta musuh. Bahkan, musuh itu juga datang dari berbagai pihak. Tidak terkecuali pada keluarga.
Bima sampai di perusahaan, dia melihat orang yang sudah mengaku tadi duduk terdiam. Orang itu seperti tertekan, entah apa dan siapa yang menekannya.
"Apa ada masalah?" tanya Bima.
"Ah, tidak. Apa nyonya Galuh selamat?" Tanya orang itu yang bernama Roni.
Roni sebenarnya tidak memikirkan keadaan Galuh sepenuhnya. Tapi dia memikirkan perusahaannya. Perusahaan yang dia kelola selama belasan tahun.
Perusahaan itu ternyata berada di bawah naungan perusahaan dari sepupu Jovan. Sepupu Jovan sudah menghubunginya. Bahkan orang itu mengancam akan memiskinkan Roni, jika Jovan berakhir tidak baik-baik saja.
Hal inilah yang membuatnya berpikir cukup keras. Kalau dia dimiskinkan, bagaimana bisa dia melanjutkan pendidikan putranya di luar negeri?
Tidak ada jalan lain, dia harus menghubungi putranya yang tengah berada di negara orang.
"Apa kamu masih bekerja di sana?" Tanya Roni.
"Masih, apa papa butuh uang? Aku bisa memberikan uang gajiku selama di sini. Tapi maaf, uangku tidak lebih dari satu juta setengah dolar..."
__ADS_1
"Tidak, nak. Papa tidak meminta uangmu, papa cuma mau tanya saja. Asal kamu di sana baik-baik saja dan bekerja dengan baik. Papa dan mama bahagia mendengarnya." Roni segera memutus sambungan telepon.
Dia takut, anaknya yang menurutnya sangat berbakti itu berpikir terlalu banyak untuknya. Namun dia juga tidak bisa kembali masuk ke dalam kantor melanjutkan meeting.
Perusahaan yang bergerak di bidang perbankan itu terancam bangkrut dalam sehari. Dan itu dia sadari saat ini.
Di saat keuangan stabil, tiba-tiba harus mengalami kekurangan modal dalam jangka waktu satu jam. Sungguh mustahil.
"Ma, apa mama di rumah?" Tanya Roni pada istrinya.
"Ya, pa. Ada apa? Papa katanya tidak pulang makan, aku sudah makan tadi...."
"Tidak, aku sudah makan. Aku cuma tanya, apa kamu masih betah tinggal di rumah itu?" Pelan dan lirih Roni bertanya pada sang istri.
Insting istri itu tajam. Apalagi jika istrinya sudah menemaninya sejak dari bawah.
"Aku kepingin rumah yang sedikit lebih kecil, pa. Rumah ini cukup besar untuk kita berdua tinggal. Apa papa mau mengajakku kembali ke rumah lama?" Tanya istri yang tadinya tiduran di tempat tidur yang lebar dan empuk itu.
"Ya, sepertinya memang terlalu besar. Kalau gitu, biar aku minta Veni buat mencarikan pembeli."
Krisis akan teratasi sementara, untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dia harus memilih satu bidang kerjaan saja. Ya, dia jelas harus melepas usaha perbankan yang ia jalankan sebelumnya. Karena orang itu dengan liciknya sudah mengambil alih perusahaannya.
Roni masuk ke dalam kantor itu setelah sekian lama. Bima tengah menjelaskan tentang kekurangan yang tengah menjadi kendala perusahaannya.
Dia melihat orang yang mengaku tadi masuk dengan wajah yang sedikit bersinar. Berbeda dengan tadi bertemu di lobi kantor.
Sepertinya dia memiliki masalah lain selain dengan Galuh dan Jovan. Bima tidak berkomentar selain mempersilakan duduk. Bima melanjutkan menerangkan dan mencari solusi bersama.
__ADS_1