Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kesiangan


__ADS_3

Malam itu terasa begitu sulit untukku lewati, mungkin mulutku mampu untuk berkata jika Aku akan tetap percaya walaupun Tiwi sudah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Namun hatiku tidak bisa berbohong jika perasaanku masih belum mampu menerimanya dengan ikhlas. Perlahan air mataku bercucuran dengan sopan membasahi pipi hingga mendarat di bantal.


Karena pada malam itu Aku sendirian di dalam kamar, tentu saja semua terasa begitu sunyi yang membuat pikiranku selalu tertuju kepada masalah tadi. Beberapa kali Aku mencoba memejamkan mata namun Aku tak kunjung tertidur. Miring ke kiri dan miring ke kanan sudah Aku posisikan tubuhku, namun perasaan gelisah tak pernah pudar.


Aku mencoba menatap ke layar ponsel agar jika mataku kelelahan akan membuat mataku mudah untuk tertidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, namun mataku masih saja melek tanpa rasa kantuk sedikitpun.


Setelah kejadian tadi pun Tiwi sama sekali tidak mengirimkanku pesan yang membuat pikiranku menjadi semakin tidak karuan, "Apakah Tiwi sibuk menghubungi mantannya itu atau memang sudah tertidur"pikirku. Overthinking di tengah malam memang membuatku menjadi gila hingga perlahan kepalaku menjadi sakit.


Waktu terus berputar hingga pada akhirnya Aku tertidur sekitar pukul 3 dinihari dengan ponsel yang masih tergenggam erat di tanganku.


*


*


*


Begitu malang nasib percintaanku, sebegitu tulusnya Aku hingga mampu memaafkan kesalahan yang belum tentu jika itu terjadi pada Tiwi, Dia akan memaafkanku. Entah apa yang membuatku bisa dengan mudah memaafkan kesalahan fatal seperti itu.


*****


Aku terbangun dan memegang kepala yang masih terasa begitu berat dan sakit. Mencoba meraih ponsel yang sayup - sayup sampai berdering namun tidak Aku hiraukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11. Terdapat beberapa pesan yang belum Aku baca dan juga beberapa panggilan masuk.


Dengan mata yang masih menyipit, Aku mencoba membaca pesan yang dikirim oleh Tiwi.


"Relll"


"Fareell"


"Fareelll Kamu kemana?"


Berulang kali Tiwi mengirimiku pesan.


Tubuhku yang terasa begitu lemas dan tidak bersemangat mengabaikan pesan dari Tiwi.


Kembali Aku membaringkan tubuhku dan meletakkan ponsel di atas lantai.


"Duuhhh.. Kepalaku sakit banget" rintihku mencoba memijat - mijat bagian kepala yang terasa begitu sakit.


Namun spam demi spam di lakukan Tiwi di saat Aku mencoba untuk kembali tertidur yang membuat Aku menjadi tidak tenang.


Karena nada dering dari ponselku yang sangat mengganggu karena berdering setiap Tiwi mengirimkanku pesan atau pun mengghubungiku via telepon. Segera saja Aku mematikan nada deringnya dan kembali mencoba untuk tertidur.


"Mengganggu saja"gumamku kesal mematikan nada dering ponsel.


Beberapa menit setelah Aku mencoba memejamkan mata, hingga akhirnya tertidur.


*


*


*

__ADS_1


*


*


Di sela - sela tidurku yang antara sadar atau tidak, sayup - sayup Aku mendengar suara ketukan pintu.


*Toookk tookk tookkk*


"Rellll, Kamu di dalam?"ucap seseorang di balik pintu yang terdengar seperti suara seorang wanita.


Segera Aku membuka mata setelah mendengar wanita itu memanggilku dan mencoba untuk berdiri walaupun kepalaku begitu sakit dan terasa sangat berat.


"Iyaa.. Siapa?" balasku sembari berjalan menuju pintu namun tidak ada balasan. Aku berjalan tergopoh - gopoh sambil memegangi kepala bagian belakang dengan sedikit rintihan.


Aku mencoba membuka pintu yang di kunci dengan pengunci yang membukanya dengan cara digeser. Kemudian di saat Aku membuka pintu ternyata Tiwi sudah tepat berada di depan pintu yang membuatku terkejut.


"Tiwi? Ngapain Kamu ke sini?"tanyaku pelan.


Tanpa pikir panjang, Tiwi langsung saja memeluk tubuhku yang membuatku terdiam.


"Farell. Maafin Aku" ucap Tiwi di dalam pelukanku dengan suara tangis yang perlahan terdengar.


"Ma...maa...maaf untuk apa wi?" tanyaku heran tanpa membalas pelukannya.


"Maaf atas semua yang sudah Aku lakuin ke Kamu" ucap Tiwi, perlahan bahuku terasa mulai basah karena air matanya.


"Kamu gak salah kok wi, semuanya udah Aku maafin" balasku kemudian melepaskan pelukan yang di lakukan Tiwi karena Aku sadar kalau sedang berada di wilayah kos - kosan yang akan membuat orang menjadi curiga nantinya.


"Kita duduk di teras aja wi" ajakku perlahan berjalan menuju teras dan di ikuti Tiwi.


Aku dan Tiwi duduk di bangku plastik yang berwarna hijau dengan sebuah meja kecil yang sudah tersedia untuk para tamu jika datang ke kos - kosan ini.


"Kamu kenapa wi?" tanyaku memandangi Tiwi sedang mengusap air matanya.


"Aku kira kamu kenapa - kenapa rel, makanya Aku ke sini" jelas Tiwi yang sudah terlihat mulai bisa mengontrol tangisnya memadangiku dalam.


"Aku baik - baik aja wi. Aku cuman kecapekan aja karena semalaman gak tidur" ucapku terus terang.


"Pasti Kamu kepikiran masalah kemarin ya?" ucap Tiwi dengan tatapan sendu.


"Hmmm... Enggak juga wi" ucapku berbohong. Karena Aku tipe cowok yang sangat tidak suka mengungkit apapun yang sudah terjadi sebelumnya.


"Terus Kamu ngapaian sampai gak tidur?" tanya Tiwi menatapku namun sesekali merunduk, mungkin karena tidak sanggup untuk menatapku yang terlihat begitu lusuh.


"Gak ngapa - ngapain, cuma liat - liat video aja"jelasku tetap menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu bohong kan rel?" tanya Tiwi menatap lurus ke arah mataku yang membuat Aku tertunduk.


"Engg...enggak wi" jawabku mulai gugup.


"Rell... Pliss beri Aku kesempatan untuk merubah semuanya" ucap Tiwi meraih tanganku dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Kesempatan apa wi?" tanyaku heran karena Aku rasa tadi malam semuanya sudah selesai.


"Yaa.. Atas apa yang udah terjadi tadi malam rel. Aku mau mencoba untuk mengembalikan kepercayaan Kamu untuk Aku" ucap Tiwi terus menggenggam tanganku dan Aku hanya pasrah.


"Udah, jangan di ungkit - ungkit lagi masalah yang kemarin. Anggap aja itu ujian dari hubungan Kita" jelasku tidak ingin memperpanjang masalah.


"Terus gimana rel? Aku gak mau Kamu seperti ini terus"ucap Tiwi mulai menggoyang - goyang tanganku yang digenggamnya.


"Aku baik - baik aja kok wi. Kamu jangan khawatir. Aku gak akan melakukan hal yang aneh - aneh." jelasku memandang Tiwi yang terlihat menahan air matanya.


"Tapi Aku takut kalau Kamu tiba - tiba menghilang" Tiwi perlahan menjatuhkan air matanya yang terlihat sudah tidak terbendung lagi namun tidak ada rintihan. Hanya deraian air mata yang perlahan jatuh mengaliri pipinya yang terlihat sembab karena cukup lama menangis sedari tadi malam.


"Aku gak akan kemana - mana wi. Aku akan tetap di sini untuk Kamu" ucapku pelan meyakinkan Tiwi kalau semuanya akan baik - baik saja.


"Kamu janji?" ucap Tiwi mengarahkan jari kelingkingnya ke hadapanku dengan tatapan penuh pengharapannya.


"Hmmmm... Iya Aku janji" ucapku mengikatkan jari kelingkingku dengan kelingkingnya yang di arahkan Tiwi kepadaku tadi.


Aku dan Tiwi bertatap - tatapan setelah mengucap janji, tatapan dua orang insan yang menjalani hubungan yang penuh dengan liku - liku dan terpaan masalah yang tiada hentinya. Membuat Aku dan Tiwi merasa jika hubungan yang baik tidak akan pernah berjalan dengan mulus seperti yang di harapkan.


Setelah cukup panjang perdebatan antara Aku dan Tiwi di siang itu. Sepertinya tidak ada lagi yang harus di selesaikan akhirnya Tiwi pamit.


"Kalau gitu, Aku balik dulu ya rel" ucap Tiwi mulai berdiri dari duduknya.


"Iya wi, hati - hati ya" balasku singkat dan saat akan berbalik badan berniat ingin masuk ke dalam kos. Tiwi menarik bahuku.


"Rel, kok langsung masuk?" ucap Tiwi dengan wajah di tekuk.


"Bukannya Kamu mau pulang?" tanyaku heran.


"Kamu udah ngeluapain kebiasaan Kita ya?" tanya Tiwi dengan nada yang begitu pelan.


"Oh.. Iya iya, Aku lupa" ucapku sambil menggaruk kepala dan menjulurkan tanganku karena Aku paham Tiwi ingin mencium tanganku sebelum pergi.


"Hmmm... Yaudah Aku balik dulu ya" ucap Tiwi mencium tanganku dan pergi meninggalkan kosanku.


"Iya wi" balasku singkat setelah melakukan ritual yang biasa Kami lakukan sebelum berpisah.


Setelah di rasa Tiwi tidak terlihat lagi dari pandanganku, Aku kembali menuju kamar dengan perasaan yang sudah mulai membaik. Kepala yang tadinya terasa begitu sakit, sekarang sudah berangsur pulih. Namun mataku masih saja mengantuk.


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur yang terlihat begitu berantakan. Perlahan Aku kembali memejamkan kedua mataku untuk kembali beristirahat. Hingga pada akhirnya Aku pun tertidur hingga sore hari.


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2