Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kebodohan yang tak seharusnya


__ADS_3

Semalaman Galuh tidak tidur dengan baik. Kali ini dia tidur di sebuah hotel bintang empat dekat bandara. Dia ingin keluar dari kota ini, bahkan kalau bisa keluar negeri.


Tapi sayang, dia tidak membawa paspor dan visa. Yang dia bawa hanya uang dan beberapa berkas yang belum di perbarui. Tidak ada pilihan lain selain hanya meninggalkan kota saja.


Tujuan kedua adalah Bali. Dia ingin membuang kesialan dengan mandi di pantai Kuta. Mengawali keberuntungan dengan menikmati keindahan alam di Ubud. Atau menguji adrenalin dengan terbang di atas langit Nusa dua dan menyelam bersama ikan-ikan di Nusa penida.


Sayangnya, pikirannya kali ini di penuhi dengan Bima. Juga kebodohannya sendiri.


"Kenapa aku yang harus mengalah? Bukankah aku yang seharusnya menyingkirkan wanita itu? Bodoh kok gak tambah-tambah." Itu kata yang di ucapkan Galuh saat berpikir sambil menggosok giginya.


Galuh berniat untuk check out dari hotel untuk ke bandara. Tapi, ketika Galuh membuka pintu. Sesosok tinggi besar dan rupawan ada di depan matanya.


Bima, entah sejak kapan. Dia sudah berdiri di depan pintu kamar Galuh.


"Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Galuh heran.


"Sejak semalam. Aku tau aku salah, aku tidak akan lagi mengacuhkan kamu. Atau kemakan omongan orang lagi dan menyalahkan kamu...."

__ADS_1


Galuh langsung memeluk Bima sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Besok-besok jangan bodoh. Dia tidak kenal siapa kamu, kalau kamu mau meninggalkan aku. Setidaknya katakan kalau kamu sudah tidak mencintaiku." ucap Galuh di sela tangisannya.


"Jangan ngomong sembarangan. Biar bumi terbelah, aku tidak akan pernah berhenti mencintai kamu."


Keduanya pun kembali ke dalam kamar. Bima tidak ingin kehilangan Galuh. Waktu semalaman berdiri di depan pintu adalah satu hukuman yang pantas di terima olehnya.


Kebodohan Bima kali ini, sudah sangat menyakitkan Galuh. Dia tidak seharusnya melakukan hal yang akan membuat istrinya berpikiran negatif padanya.


Galuh maupun Bima, tidak tidur dengan baik malam ini. Mereka saling memikirkan satu sama lain. Cinta yang seharusnya tidak mendapat ujian ini, membuat keduanya saling menyiksa diri.


Bima dan Galuh tidur tanpa memikirkan adanya kuis di pagi hari. Atau rapat akhir pekan untuk evaluasi dan penentuan target di akhir bulan.


Mereka hanya ingin istirahat di samping orang yang paling berarti dalam hidup. Menikmati setiap sentuhan dan kemanjaan yang pasangan berikan. Terbuang sudah pikiran Mutiara di antara keduanya.


Hanya ada mimpi indah di dalam tidur mereka, sampai suatu kejadian Galuh harus bangun.

__ADS_1


Hoek


Hoek


Mendengar Galuh muntah, mau tidak mau Bima terbangun. Dia mencari keberadaan istrinya di kamar mandi.


Galuh sudah lemas setelah begitu banyak cairan yang di keluarkan. Dalam cairan itu, terlihat jelas sebuah cairan kuning kebiruan. Galuh mengaku kalau mulutnya pait sekali.


"Mulutku pait sekali." katanya.


"Ke rumah sakit, ya...?" Tawar Bima sambil menggendong istrinya kembali ke kasur.


"Aku sudah gak kuat, lemes banget." katanya lagi.


Memang terlihat jelas kalau wajah Galuh sangat pucat. Terlebih wajahnya terlihat sedikit kuning. Karena takut, Bima menelpon ibunya.


"Ma, Galuh habis muntah-muntah. Muntahannya itu ada cairan kuning kehijauan, terus sekarang wajahnya pucat dan sedikit kuning." adu Bima karena panik.

__ADS_1


"Bawa ke rumah sakit, Mama susul ke sana."


__ADS_2